80 Selang Nadi Kehidupan Warga Kalidadap Bantul

CNN Indonesia
Sabtu, 01 Agu 2026 14:25 WIB
Warga menyedot selang untuk mengalirkan air dari mata air atau sendang ke rumahnya di Kalidadap 1, Selopamioro, Imogiri, Bantul, D.I Yogyakarta, Jumat (31/7/2026). (CNN Indonesia/Tunggul)
Warga menyedot selang untuk mengalirkan air dari mata air atau sendang ke rumahnya di Kalidadap 1, Selopamioro, Imogiri, Bantul, D.I Yogyakarta, Jumat (31/7). (Foto: CNN Indonesia/Tunggul)

Tak jauh dari Teguh, Sagi (72), warga Kalidadap I, juga sibuk memeriksa selang miliknya. Total ia memiliki enam gulung selang. Di usianya yang tak lagi muda, langkahnya masih mantap menyusuri jalan setapak yang menanjak dan menurun, memastikan air benar-benar mengalir menuju rumah.

Sesekali ia meraba permukaan selang. Ketika terasa dingin, itu menjadi pertanda air telah bergerak di dalamnya. Waktu itu jarum jam hampir menunjukkan pukul 15.00 WIB, saat sebagian besar aliran air akan dialihkan untuk kebutuhan irigasi pertanian.

Setibanya di rumah, Sagi mengangkat ujung selang dan memastikan air mengucur keluar. Setelah itu, selang dimasukkan ke dalam tembikar tua yang digunakan sebagai penampungan air minum ternak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"[Sedot air pakai selang] sudah dari tahun '77," ujar Sagi.

Selama hampir setengah abad, selang telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidupnya. Ia tak melihat rutinitas itu sebagai beban. Baginya, selang itulah yang membawa air dari lereng bukit hingga memenuhi kebutuhan keluarganya setiap hari.

"Di sana [sumber air] nggak pernah kering, tetap ada airnya. Ya jalan kaki itu cuma buat lihat airnya aja, disedot susah atau nggak. Cuma pas musim hujan bedanya bisa luber-luber," ucap Sagi.

Bagi Sagi, perjalanan naik turun menuju sumber air justru menjadi bagian dari hidup yang ia syukuri. Langkah-langkah yang setiap hari mengantarnya memeriksa aliran air bukan hanya memastikan kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi, tetapi juga menjadi cara sederhana menjaga tubuhnya tetap bugar.

"[Jalan] mondar-mandir juga sehat, alhamdulillah. Semua berjalan, bisa buat hidup, tidak perlu bergantung pada orang lain," ucapnya.

Alternatif sumur bor

Suroso (31), Kepala Dusun Kalidadap II menyebut ada sekitar 330 KK di wilayahnya. Demikian pula di Kalidadap I. Beberapa bisa memperoleh air dari membangun sumur dangkal di sekitar rumah. Tapi, sebagian lagi memang hanya bisa memperoleh air dari mata air Wonosari.

"Yang nggak pakai dari situ [Wonosari], biasanya pakai sumur dangkal. Bervariasi dalamnya, ada yang 8-10 meter," kata Suroso.

Sejatinya, warga pernah punya sumur bor di Kalidadap II. Akan tetapi, karena penggunanya terlalu banyak, pompa ini akhirnya rentan mengalami kerusakan. Saking seringnya keluar biaya untuk perbaikan, dana pengelolaan akhirnya habis dan fasilitas ini kini tak bisa dipakai.

Suroso mengingat, pernah ada masa ketika kemarau berkepanjangan membuat persediaan air benar-benar menipis. Dalam situasi seperti itu, warga tidak memiliki banyak pilihan selain membeli air bersih secara swadaya atau mengajukan bantuan droping air.

Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Bantul Mujahid Amrudin menyebut sudah ada tim yang survei ke lokasi Kalidadap. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Pemda DIY mengenai alternatif pembangunan sumur bor maupun Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas).

"Ini terbuka peluang, karena kami sudah komunikasi dengan BPBD DIY. Mungkin nanti bisa dibantu," ujar Mujahid.

(kum/dmi)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2