Kebakaran KM Mutiara Sentosa: Tidak Ada Alarm, Hanya Teriakan ABK

CNN Indonesia
Senin, 03 Agu 2026 13:39 WIB
Penumpang selamat dari kebakaran KM Mutiara Sentosa, mengungkapkan tidak ada alarm bahaya. (Basarnas/AFP)
Surabaya, CNN Indonesia --

Pasangan suami istri Ari Hidayat (47) dan Denik Rohana (31), penumpang KM Mutiara Sentosa yang selamat, mengungkapkan tidak ada alarm tanda bahaya yang berbunyi saat kebakaran melanda kapal tersebut di perairan utara Kabupaten Sumenep, Madura, Minggu (2/8).

Menurutnya, peringatan kepada ratusan penumpang saat itu hanya disampaikan lewat teriakan anak buah kapal (ABK).

"Alarm enggak ada, tapi kalau peringatan ABK ada. Ya 'kebakaran, kebakaran'," kata Ari menirukan teriakan ABK saat itu, saat ditemui di posko darurat di Gapura Surya Nusantara, Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Senin (3/8).

Ari dan Denik merupakan warga Prigen, Pasuruan, Jawa Timur yang tengah dalam perjalanan mengantar tujuh ekor kuda ke Makassar, Sulawesi Selatan, saat kapal yang mereka tumpangi dilalap api. Selain keduanya, ikut pula dua rekan mereka, Trala (40) dan Ferdi (20), yang hingga kini belum ditemukan.

Ari menceritakan, seluruh penumpang saat itu telah mengenakan pelampung, meski tidak ada alarm tanda bahaya yang berbunyi.

Istri Denik menceritakan, peristiwa itu bermula saat ia baru bangun tidur pukul 06.00 WIB. Ia pertama kali menyadari ada kebakaran karena melihat asap dari bagian bawah kapal.

"Awal kejadian itu, saya bangun tidur, ternyata sudah ada asap di bawah," kata Denik.

Denik yang kaget kemudian mencari suaminya yang tengah memberi makan kuda-kuda yang mereka bawa di area dek kendaraan.

"Terus saya lihat ini api, apa asap semakin besar kan. Terus suami saya, saya suruh cek, 'coba dilihat barangkali ada kebakaran atau apa di bawah.' Dicek ternyata sudah terbakar satu mobil," ujarnya.

Mereka menyebut kobaran api itu berasal dari sebuah truk, namun mereka tak tahu pasti kendaraan itu bermuatan apa.

Ari kemudian menceritakan detik-detik ketika api makin membesar dan ratusan penumpang lain panik. Mereka kemudian digiring ke dek haluan terbuka bagian depan kapal.

"Ya kita kan disuruh ke atas. Ke atas, akhirnya keduanya disuruh ke bawah [dek haluan terbuka bagian depan] Kan udah panas, udah merah-merah semua," kata Ari.

Masih di atas kapal yang terbakar, Ari mengaku sempat menghubungi keluarganya melalui ponsel. Namun tak lama, sekitar pukul 14.00 WIB kondisi kapal semakin parah sehingga penumpang diminta melompat ke laut, termasuk dirinya bersama sang istri. Ponselnya rusak hingga kini.

"Loncat semua. Termasuk sama istri juga," katanya.

Setelah terjun ke laut, Ari dan istrinya serta penumpang lain sempat terombang-ambing terbawa arus selama lebih dari satu jam, sebelum akhirnya ditolong sebuah kapal tanker yang kebetulan melintas.

"Saya dan istri terombang-ambing di laut, selama satu jam kira-kira. Ya untungnya ada kapal tanker itu," ujarnya.

Proses evakuasi juga tak berjalan mudah. Ari melihat ada penumpang yang tewas karena kondisinya sudah tidak sanggup untuk naik ke kapal evakuasi.

Ari dan istrinya akhirnya berhasil dievakuasi dan tiba di posko darurat yang terletak di Gapura Surya Nusantara, Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, pukul 23.00 WIB, Minggu. Keduanya mengalami kram dan sesak napas, namun telah mendapat penanganan dari tim medis.

Sementara itu, tujuh ekor kuda yang dibawa Ari untuk dikirim ke pembeli di Makassar tidak dapat diselamatkan, dan diduga ikut terbakar bersama mobil yang mengangkutnya. Ari menyebut kuda-kuda tersebut bukan miliknya sendiri melainkan sudah dibeli oleh pihak lain dan tinggal proses pengiriman. Kini ia terpaksa menanggung kerugian ratusan juta rupiah.

"Ya rugi, yang jelas rugi. Apalagi mobilnya juga habis. Kerugian Rp300 juta. Mobil sama 7 kuda," ujarnya.

Ari mengaku masih cemas dan berharap ada kejelasan mengenai nasib dua rekannya, kru yang membantunya mengurus kuda selama perjalanan, yang hingga kini belum ditemukan.

"Ya untuk sementara ini kan kita kepengin tahu di mana kan teman itu. Kalau masalah yang lainnya kan saya ngikut yang lainnya gitu aja," katanya.

Ia juga berharap mendapat ganti rugi atas kejadian tersebut, mengingat kuda-kuda yang dibawanya diklaim telah terdaftar resmi dalam manifest dan dokumen karantina.

"Ya kalau bisa. Kalau bisa ya semuanya kan minta ganti rugi. Kalau bisa. Kalau memang nggak bisa mau gimana lagi, kan gitu," ujarnya.

(frd/isn)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK