Sederet Fakta Terbaru Temuan Senjata di Sekolah Pondok Pinang Jaksel

CNN Indonesia
Sabtu, 08 Agu 2026 13:19 WIB
Penampakan dua ruangan yang ditemukan ratusan senjata dan narkoba di salah satu sekolah swasta di Pondok Pinang, Jumat (7/8).
Ratusan senjata ditemukan di sebuah sekolah swasta di Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. (CNN Indonesia/Yogi Anugrah).
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Ratusan senjata ditemukan di sebuah sekolah swasta di Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, tepatnya di ruangan mantan ketua yayasan sekolah tersebut.

Kuasa hukum pihak sekolah Hermawanto menyampaikan penemuan itu berawal ketika sejumlah orang memasuki ruangan tersebut karena hendak dipakai untuk kebutuhan siswa.

"Pada tanggal 10 dan tanggal 11 bulan Juli, hampir satu bulan yang lalu, kami menemukan ada 995 pucuk senjata. Di dalamnya ada senjata api, termasuk ada amunisi dan juga beberapa aksesoris senjata yang lain," ujar Hermawanto kepada wartawan di Polres Metro Jakarta Selatan, Kamis (6/8).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hermawanto menjelaskan pihaknya kembali membuka ruangan lain untuk kepentingan guru dan sebagainya pada Rabu (5/8) malam. Saat itu, senjata api (senpi) hingga narkoba kembali ditemukan.

"Kemudian pada tadi malam, hari Rabu gitu ya, hari Rabu tadi malam kami menemukan kembali beberapa senjata. Termasuk juga menemukan narkoba, dan menemukan CD porno," jelasnya.

Model FN P90 Hingga AK-47

Senjata yang ditemukan di antaranya merupakan empat laras panjang, dua laras pendek, peredam, tujuh magasin berbagai jenis, dan sejumlah amunisi dengan berbagai kaliber.

Kemudian, ditemukan juga beberapa unit airsoft gun berbentuk FN P90, AK-47 dan M4 Carbine, taser gun, alat pembuat peluru, hingga buku panduan pembuatan peluru.

Hermawanto membeberkan pihaknya juga menemukan sebuah ruangan yang berbentuk seperti bunker. Namun, ia mengaku pihaknya belum berani membuka ruangan tersebut.

"Masih ada satu ruangan seperti bunker yang itu semua terkunci rapat, kami tidak bisa masuk ke sana. Kami juga akan meminta kepada aparat untuk tolong bantu kami untuk membuka ruangan ini karena kalau kami khawatir ada risiko hukum gitu kan, maka kami meminta aparat untuk membukanya. Jadi kami ingin bunker ini juga dibuka kemudian," tuturnya.

Diduga Impor

Polisi mengungkapkan ratusan senjata yang ditemukan diduga merupakan hasil impor.

"Ada pemeriksaan-pemeriksaan ini kalau ditemukan terkait tentang surat impor, terkait surat impor RSI 5483/12/2008, ini ada impor terkait tentang softgun ataupun senapan angin," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto kepada wartawan, Jumat (7/8).

Budi membeberkan ratusan senjata itu terdiri dari empat pucuk senapan angin kaliber 4,5 mm; 215 pucuk pistol angin kaliber 4,5 mm dan 776 pucuk revolver angin kaliber 4,5 mm.

Menurut Budi, saat ini pihaknya masih mendalami soal alasan ratusan senjata tersebut diimpor, apakah untuk diperjualbelikan atau alasan lainnya.

"Ini masih didalami, pasti. Selama ini kan itu bisa diperjualbelikan, kalau softgun ya, itu boleh, ada regulasinya. Nanti ini masih didalami dari teman-teman Wasendak yang bisa nanti menjawab," ucap dia.

Kantongi Izin

Secara terpisah, Direktur Utama PT Lokta Karya Perbakin Alhadid Endar Putra yang mengaku sebagai pemilik senjata menuturkan ratusan senjata airsoft gun yang ditemukan itu legal dan berizin.

"Intinya semua ada izinnya, yang temuan 995 (senpi) itu semua ada izinnya," kata Alhadid saat dihubungi.

"Airsoft gun, 995 (senpi) ya. Semua ada izinnya kok gitu," lanjutnya.

Meski begitu, Polres Metro Jakarta Selatan tengah mendalami soal legalitas dari ratusan senjata yang ditemukan tersebut.

Kasie Humas Polres Metro Jakarta Selatan AKP Joko Adi Wibowo mengatakan pihaknya juga menemukan dokumen terkait di lokasi temuan senjata itu.

"Selain barang-barang yang ditemukan di lokasi juga ada dokumen. Terkait dokumen-dokumen ini tentunya penyelidik Satreskrim sedang melakukan penyelidikan dan pendalaman," kata Joko kepada wartawan, Kamis (7/8).

"Kami belum bisa menyampaikan (apakah senjata itu legal atau tidak)," sambungnya.

Untuk Ekstrakurikuler

Alhadid mengatakan ratusan senjata airsoft gun itu telah disimpan di lokasi tersebut sejak 2020. Ia menyebut senjata itu diperuntukkan untuk kegiatan ekstrakurikuler menembak di sekolah tersebut.

"Semua orang juga tahu, PT Lokta Karya Perbakin itu berizin dan itu sudah disepakati dan diketahui untuk kegiatan ekskul menembak. Untuk ekskul menembak tahun 2020. Karena ada pembinanya yang berinisial S," ujarnya.

Namun, ia menegaskan ekstrakurikuler menembak di sekolah itu sudah tidak lagi berjalan lantaran pembina berinisial S itu telah meninggal dunia pada tahun 2022. Alhadid pun mengklaim bahwa ratusan aitsoft gun yang disimpan sudah tidak dapat digunakan.

"Yang kemarin disita sama polisi pun kita udah cek, ya memang udah enggak bisa digunakan lagi itu airsoft gun-nya. Jadi ini klarifikasi aja semua, izin-izinnya semua kita punya," ucap Alhadid.

Menurut Alhadid, penyimpanan senjata di lokasi tersebut sudah sesuai dengan prosedur karena selama ini tidak pernah ada insiden yang berkaitan dengan senjata tersebut.

Kendati demikian, pihak sekolah membantah ratusan senjata yang ditemukan itu berkaitan dengan kegiatan ekstrakurikuler menembak.

Kuasa hukum yayasan Hermawanto mengatakan berdasarkan keterangan para guru yang telah lama mengajar di sekolah tersebut, tidak pernah ada kegiatan ekstrakurikuler menembak.

"Kami informasikan berdasarkan informasi dari para guru-guru yang sudah lama di sini, bahwa di sekolah ini tidak pernah ada ekstrakurikuler menembak," kata Hermawanto di sekolah tersebut, Jumat (7/8).

Pihak sekolah pun mengaku tidak mengetahui keberadaan ratusan senjata tersebut sebelum ditemukan.

"Bagaimana caranya masuk, bagaimana yang siapa yang bertanggung jawab, kami juga tidak tahu. Karena yang mengelola itu dahulu adalah pengurus lama yang sudah kami berhentikan, sudah kami pecat," katanya.

Sengketa Yayasan Sekolah

Alhadid yang juga selaku kuasa hukum dari IWD, eks ketua yayasan sekolah itu menyebut ada sengketa yayasan di balik temuan ratusan senjata. Ia mengungkapkan sejak April 2026, yayasan tersebut dikuasai oleh salah satu pengurus berinisial N sehingga kliennya sudah tidak bisa masuk ke dalam sekolah tersebut.

"Habis itu ini gara-gara ada sengketa yayasan nah, akhirnya ya beginilah, semua di bawa-bawa kayak seakan-akan hal yang baru diketahui. Padahal mereka juga udah tahu. Jadi ini sebenarnya intinya adalah sengketa antara tiga pembina. Mereka itu yang menguasai fisik yayasan ini saat ini adalah kubunya Ibu N. Nah, dia itu menguasai termasuk rekening dia atas nama pribadi juga sekarang dipakai," tutur Alhadid saat dihubungi, Kamis (6/8).

Alhadid menyebut permasalahan sengketa yayasan tersebut masih dalam proses persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Hingga saat ini, pihaknya masih menunggu putusan perdata soal sengketa masalah kepembinaan.

"Jadi ya bahkan legal standing mereka enggak sah karena mereka satu orang kan. Kita dua pembina, mereka satu pembina. Jadi dua 2 lawan 1 sebetulnya. Cuma mereka caranya enggak oke lah. Kita lagi bersengketa di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Ini udah mau putusan, udah lagi mau pembuktian, nah ini mereka mungkin udah enggak ada cara lain, jadi ya begini caranya jadinya," ucap dia.

Pemilik Salah Satu Senpi Telah Meninggal

Polisi mengungkap sosok pemilik salah satu senpi yang ditemukan, yakni pucuk senjata api (senpi) jenis Franchi SPAS-15 kaliber 12 gauge telah meninggal dunia.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengatakan senpi tersebut saat ini telah diamankan oleh penyidik Sat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan.

"Saat pendalaman satu pucuk diduga senjata api, ini setelah didalami kepemilikan atas nama saudara DS," kata Budi di Polda Metro Jaya, Jumat (7/8).

Budi membeberkan bahwa sosok DS itu telah meninggal dunia berdasarkan hasil Subdit Pengawasan Senjata Api dan Bahan Peledak (Wasendak) Ditintelkam Polda Metro Jaya.

"Dari hasil pendalaman Direktorat Intelkam Subdit Wasendak, menemukan bahwa saudara DS sudah meninggal dunia tahun 2020, sehingga senjata ini diamankan untuk penelusuran lebih lanjut," tutur dia.

Ia mengungkapkan DS diketahui juga merupakan direktur di PT Lokta Karya Perbakin.

"Jadi kalau dilihat penelusuran dari identitas ini yang bersangkutan merupakan direktur ya, terhadap suatu perusahaan PT LKP. LKP ini terkait tentang impor senjata angin ataupun senjata airsoft gun," kata Budi kepada wartawan, Jumat (7/8).

(fln/sfr)


[Gambas:Video CNN]