Wagub Jatim Beber Kendala Padamkan Kebakaran Bromo dengan Helikopter
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengungkapkan sejumlah kendala yang dihadapi tim gabungan dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo.
Emil mengatakan, salah satu kendala utama adalah faktor cuaca berupa kabut. Cuaca kabut membatasi operasional helikopter saat melakukan pemadaman di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dengan metode water bombing.
Awalnya, Emil menjelaskan, pada Senin (10/8), ada dua unit helikopter milik BNPB yang dikerahkan, yaitu jenis PK-DAP dan PK-DAN.
Helikopter PK-DAP memiliki kapasitas angkut air 1.000 liter per sorti dan telah melakukan empat kali water bombing dalam sehari. Sementara helikopter PK-DAN yang berkategori lebih besar, yakni jenis Super Puma, memiliki kapasitas 4.000 liter per sorti.
Helikopter jenis Super Puma tersebut, kata Emil, sudah melakukan lima kali rit pengambilan air dengan total 20 ribu liter. Namun, operasional sempat terhenti pada siang hari karena kabut yang menghalangi jarak pandang.
Lihat Juga : |
"Ini sudah 5 rit. Jadi total 20.000 liter. Namun pada kisaran pukul 14.00 WIB, karena kabut, bukan asap dari kebakaran, tapi karena kabut mereka harus kembali ke Malang," kata Emil dalam Prime News CNN Indonesia, Senin (10/8) malam.
Selain kendala cuaca, Emil juga menyoroti keterbatasan operasional helikopter pada malam hari. Kondisi ini membuat penanganan api pada malam hari sepenuhnya bergantung pada petugas darat yang bekerja secara manual.
"Jadi helikopter tidak bisa beroperasi di malam hari. Sedangkan di malam hari ini kita juga harus terus memukul mundur api ya, api harus dipukul mundur," katanya.
Ia menambahkan, petugas di lapangan tetap bekerja pada malam hari menggunakan alat manual berupa gepyok, dibantu unit pemadam kebakaran (Damkar) yang dikoordinasikan oleh BPBD Jawa Timur bersama BPBD kabupaten sekitar serta dukungan dari BPBD kabupaten dan kota lainnya.
"Nah, maka dari itu petugas di malam hari kita tahu tetap bekerja. Mereka tetap melakukan upaya penanganan secara manual tadi dengan menggunakan gepyok, dan ada unit-unit Damkar," ujarnya.
Lebih lanjut, Emil menjelaskan titik awal kebakaran di kawasan Bromo yang sempat mulai terkendali, kembali meluas dengan cepat sehingga jumlah personel di lapangan tidak dapat mengimbangi laju penyebaran api. Kondisi tersebut yang akhirnya membuat penanganan mau tidak mau harus dibantu dengan helikopter water bombing.
"Seperti tadi dalam kasus di Bromo Tengger Semeru ini, titik awal yang sebenarnya sudah mulai kondusif tetapi kemudian muncul api yang menyebabkannya jauh lebih cepat dan tidak bisa diimbangi dengan kesediaan personel saat itu sehingga mau tidak mau harus dibantu helikopter water bombing," ujarnya.
Ia menyebut, pengerahan helikopter yang telah dikoordinasikan oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sejak beberapa hari sebelumnya dinilai telah membantu memitigasi perluasan area kebakaran yang berpotensi menjadi lebih masif.
Pada Senin, Emil menyampaikan, titik kebakaran di Puncak P-30 telah terkendali, sementara titik di Dingklik dan Penanjakan juga menunjukkan tren penurunan tingkat penyebaran api.
"Jadi sekarang P30 sudah terkendali fokus ke Dingklik juga sudah mulai tren turun tingkat penyebarannya dan Penanjakan juga sama," ujarnya.
Meski kondisi dinilai membaik, Emil menegaskan pihaknya tetap menjaga kesiagaan, termasuk memastikan kelengkapan unit Damkar, personel, alat manual berupa gepyok, hingga alat pelindung diri bagi petugas yang berhadapan langsung dengan paparan asap tebal di lokasi kebakaran.
"Kita tetap siaga. Artinya unit damkarnya, kemudian personelnya, alat-alat gepyok dan yang tidak kalah penting alat pelindung diri bagi para petugas karena mereka akan berhadapan dengan asap. Asap ini juga ada yang tebal, jangan sampai mereka menghirup gas yang berbahaya dari asap tersebut," ujarnya
Kebakaran di kawasan Bromo ini bermula pada Senin (3/8), sekitar pukul 17.00 WIB. Menyusul meluasnya titik api, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menutup sementara seluruh akses wisata ke kawasan Gunung Bromo, per Sabtu (8/8).
Per Senin (10/8) luasan kawasan Bromo yang terdampak kebakaran mencapai 742 hektare. Proses pemadaman api juga terus dilakukan di darat dan udara, dengan mengerahkan tiga helikopter, satu drone, dan delapan unit pemadam kebakaran. Sejumlah tim gabungan juga turut dilibatkan dalam operasi ini.
(frd/wis)