Kemensos Gandeng INABA Entaskan Kemiskinan Lewat Sekolah Rakyat
Kementerian Sosial (Kemensos) memperkuat kolaborasi dengan Universitas Indonesia Membangun (INABA) melalui program Sekolah Rakyat sebagai bagian dari upaya pengentasan kemiskinan.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Kemensos dan INABA di Ruang Rapat Utama Kemensos, Jakarta, Selasa (11/8).
Penandatanganan MoU dihadiri Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, Sekretaris Jenderal Kemensos Robben Rico, jajaran pejabat Kemensos, serta perwakilan INABA.
Dalam kesempatan ini Agus Jabo mengatakan, kerja sama tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat kolaborasi dalam menjalankan mandat Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam pengentasan kemiskinan.
Menurutnya, kerja sama tersebut tidak dimulai dari penandatanganan MoU, tetapi telah melalui proses kolaborasi di lapangan. INABA sebelumnya telah terlibat dalam kegiatan di 16 titik Sekolah Rakyat.
"Kita sudah melewati satu proses sebelum kita melakukan MoU, kita sudah berkolaborasi di 16 titik. Mudah-mudahan nanti kerja sama ataupun kolaborasi ini bisa diperluas dalam rangka kita melaksanakan mandat Presiden, yaitu pengentasan kemiskinan," ujar Agus Jabo.
Agus Jabo melanjutkan, Sekolah Rakyat tidak hanya memberikan pendidikan kepada anak-anak dari keluarga miskin, tetapi juga mempersiapkan mereka agar memiliki kapasitas untuk bekerja maupun melanjutkan pendidikan.
Ia mengutip arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya menyiapkan siswa Sekolah Rakyat agar mampu bekerja dan pada akhirnya menggraduasi diri serta keluarganya dari kemiskinan.
"Anak-anak ini biar bekerja dulu, supaya apa? Supaya bisa menggraduasi dirinya, menggraduasi orang tuanya," kata Agus Jabo.
Menurutnya, untuk dapat bekerja dan mandiri, siswa membutuhkan kapasitas yang memadai. Karena itu, Sekolah Rakyat tidak hanya diarahkan agar siswa memiliki pengetahuan, tetapi juga karakter dan keterampilan.
"Di sekolah rakyat ini kita menyampaikan setiap siswa harus berilmu, artinya dia harus pintar. Yang kedua, setiap siswa karena latar belakang siswa Sekolah Rakyat ini berbeda dengan siswa-siswa reguler yang lain, mereka harus kita ubah mindset-nya, harus kita ubah karakternya," ujarnya.
Agus Jabo mengatakan, siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga yang memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan dan kehidupan yang layak. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pendidikan di Sekolah Rakyat perlu dilakukan secara menyeluruh.
"Di samping kita memberikan ilmu kepada anak-anak dari keluarga miskin ini, kita juga harus bisa mengubah mindset dan karakter mereka," katanya.
Ia menambahkan, siswa juga perlu memiliki keterampilan dan kepercayaan diri sebagai bekal untuk menghadapi dunia kerja maupun membangun usaha.
"Yang lain-lain kita kemudian bekerja sama dalam peningkatan kapasitas siswa, terutama tadi dalam menjadikan mereka anak-anak yang pintar, anak-anak yang berkarakter, dan anak-anak yang terampil sekaligus mereka punya kepercayaan diri yang luas," ujarnya.
Agus Jabo menilai perubahan yang terjadi pada siswa Sekolah Rakyat juga dapat memberikan dampak kepada keluarga. Pendidikan anak menjadi sumber harapan baru bagi orang tua yang sebelumnya memiliki keterbatasan dalam mengakses pendidikan.
"Ini membangun harapan. Jadi ibu-ibu yang sudah tidak punya harapan, anaknya bisa sekolah, bapak-bapak yang sudah tidak punya harapan untuk sekolah, kemudian melihat anaknya sekolah, karakternya sudah berubah, itu membangkitkan semangat hidup mereka," katanya.
Menurut Agus Jabo, perubahan tersebut dapat terlihat dari kedisiplinan dan kepercayaan diri siswa setelah mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat.
"Begitu kita urus selama tiga bulan, enam bulan, mereka sudah bisa berpidato, bisa bahasa Inggris, mereka bisa bangun pagi," ujarnya.
Karena itu, Agus Jabo menegaskan bahwa keberhasilan Sekolah Rakyat tidak hanya diukur dari proses pendidikan selama siswa berada di sekolah, tetapi juga dari keberlanjutan mereka setelah lulus.
Ia menyebutkan, Sekolah Rakyat merupakan jenjang pendidikan yang saat ini mencakup pendidikan hingga SMA. Karena itu, perlu dipikirkan akses bagi siswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi maupun memasuki dunia kerja.
"Kalau kemudian setelah mereka lulus SMA, tidak melanjutkan kuliah atau tidak bekerja, artinya program Sekolah Rakyat tidak selesai," katanya.
Dalam konteks tersebut, Agus Jabo berharap INABA dapat turut membuka akses pendidikan tinggi bagi siswa Sekolah Rakyat, salah satunya melalui beasiswa.
"Paling minimal, di samping kita kolaborasi mendidik para siswa ini, INABA memberikan beasiswa, berapa slotnya mungkin," tuturnya.
Agus Jabo menegaskan, pengentasan kemiskinan membutuhkan kerja bersama karena pemerintah tidak dapat bekerja sendiri.
"Kita harus berkolaborasi, kita harus bergotong royong," katanya.
Dalam kesempatan ini Sekretaris Jenderal Kemensos Robben Rico mengatakan, penandatanganan MoU dengan INABA merupakan tindak lanjut dari kolaborasi yang telah berjalan di Sekolah Rakyat.
Robben menyebutkan, sebelumnya kerja sama perguruan tinggi dengan Sekolah Rakyat telah menghasilkan berbagai kegiatan di lapangan. Karena itu, Kemensos memilih memperkuat kerja sama setelah melihat adanya hasil konkret.
Menurut Robben, dari tujuh program studi yang ada di INABA, empat di antaranya telah dikolaborasikan dengan Sekolah Rakyat. Bidang yang dikembangkan antara lain manajemen, komunikasi, dan informatika.
Program yang dilakukan mencakup penguatan Bahasa Indonesia, coding dan artificial intelligence (AI), serta pendampingan dan konsultasi. Kegiatan tersebut telah berjalan sejak Februari 2026.
"Jadi hari ini sudah berjalan kurang lebih enam bulan, dan alhamdulillah sudah ada hasilnya. Makanya kemudian kami baru bisa menindaklanjuti dalam bentuk MoU," ujar Robben.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas INABA Erna Herlinawati mengatakan, pihaknya menyambut baik kerja sama dengan Kemensos karena kegiatan yang telah dilakukan di Sekolah Rakyat dapat dikembangkan dalam kerangka Tridharma Perguruan Tinggi.
"Insya Allah kegiatan-kegiatan yang selama ini sudah kami jalani di Sekolah Rakyat Menengah Pertama 9, khususnya terkait dengan Tridharma Perguruan Tinggi, dapat kami tindak lanjuti, tentunya dengan dukungan dari Kemensos," kata Erna.
Erna menjelaskan, kegiatan INABA di SRMP 9 tidak hanya memberikan pembelajaran kepada siswa, tetapi juga diarahkan menghasilkan luaran. Sejumlah hasil yang telah dikembangkan antara lain modul pembelajaran, buku, dan publikasi.
"Tidak hanya berkegiatan memberikan pembelajaran kepada anak-anak di SRMP tersebut, namun kami juga menetapkan luaran dari kegiatan tersebut," ujarnya.
Ke depan, Erna mengatakan INABA terbuka untuk mengembangkan penelitian, penyusunan buku, hingga publikasi bersama dengan Kemensos.
Sedangkan Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Universitas INABA Ayu Larasati mengatakan, kerja sama sebelumnya juga telah diwujudkan melalui kegiatan pengabdian masyarakat di 16 Sekolah Rakyat.
Ia menyebutkan, kegiatan tersebut diarahkan untuk memberikan manfaat bagi siswa dan guru melalui bidang keilmuan yang dimiliki perguruan tinggi.
Ayu menambahkan, kegiatan berikutnya juga akan dilaksanakan di SRMP 16, antara lain melalui peningkatan soft skill dan interpersonal skill bagi siswa.
"Rencananya minggu depan juga di hari Jumat di SRMP 16, kegiatan pengabdian masyarakat dari dosen kami kepada guru dan juga siswa-siswi untuk kegiatan peningkatan soft skill dan interpersonal skill bagi siswa-siswi," katanya.
(inh)