17 Ribu Hotspot Karhutla Kalimantan Terdeteksi di Habitat Orangutan
CNN Indonesia
Jumat, 04 Sep 2026 15:03 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Orangutan mati karena karhutla di Kalimantan. (REUTERS/Willy Kurniawan)
Dalam analisisnya, Geopix menggunakan data hotspot dari SiPongi, platform resmi pemerintah untuk pemantauan kebakaran hutan dan lahan. Namun, pemantauan hanya dapat dilakukan sampai 28 Agustus 2026 karena server SiPongi tidak dapat diakses sejak sehari setelahnya.
"Itu merupakan platform yang official ya dari Kemenhut. Dengan durasi pemantauan mulai per 1 Juni sampai dengan 28 Agustus. Kita sangat beruntung, kenapa? Karena di tanggal 29 itu server di sana down," katanya.
"Kita enggak bisa akses lagi SiPongi. Jadi pemantauan kita hanya sampai tanggal 28 Agustus. Sampai hari ini tidak bisa diakses, gitu ya," lanjut Annisa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Geopix, kondisi tersebut menjadi catatan karena data hotspot dibutuhkan untuk memantau perkembangan kebakaran dan mengidentifikasi wilayah yang membutuhkan respons cepat.
Annisa menegaskan analisis tersebut masih merupakan riset awal. Sejumlah variabel lain, seperti kawasan gambut dan elevasi, masih perlu dimasukkan dalam penelitian lanjutan agar pemetaan kerentanan habitat dapat dilakukan secara lebih komprehensif.
Geopix menilai pemerintah perlu memperkuat perlindungan habitat prioritas, sistem peringatan dini, serta respons terhadap kebakaran. Selain itu, investigasi dan penegakan hukum terhadap penyebab kebakaran serta pihak yang bertanggung jawab juga perlu dilakukan.
"Maka itu perlindungan habitat prioritas dan sistem peringatan respon kebakaran harus diperkuat. Kemudian investigasi dan penegakan hukum terhadap penyebab serta pihak yang bertanggung jawab harus juga diselesaikan, dilakukan, karena ini akan menimbulkan efek jera," harapnya.
Menurut Annisa, penanganan karhutla perlu diikuti dengan restorasi habitat karena pemulihan ekosistem membutuhkan waktu jauh lebih lama dibandingkan proses kerusakannya. Geopix juga mendorong survei ulang populasi dan habitat orangutan Kalimantan untuk mengetahui kondisi terbaru, kepadatan, serta wilayah habitat prioritas.
"Maka itu konservasi strategi konservasi dari pemerintah itu juga harus lebih lebih kuat dan responsif terhadap apa yang terjadi saat ini di Kalimantan," kata dia.
Geopix mendorong pemerintah segera menyusun rencana aksi darurat bagi orangutan Kalimantan yang berjalan beriringan dengan pemadaman dan mitigasi karhutla.
"Jadi memang benar bahwa kita harus mengatasi, memitigasi karhutla, memadamkan api, tapi ada PR yang sangat-sangat besar yang masih belum dilakukan oleh pemerintah, yaitu memutus mata rantai karhutla yang berulang setiap tahun. Dan dalam beberapa tahun terus ada El Nino yang besar, dan kita akan mengalami seperti lagi," pungkas Annisa.
Ancaman karhutla terhadap orangutan juga dirasakan di lokasi rehabilitasi yang dikelola Center for Orangutan Protection (COP) di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Manajer Komunikasi COP, Wahyuni, mengatakan terdapat dua lokasi rehabilitasi dengan total 18 orangutan, yakni 17 individu di Kampung Tasuk dan satu individu bernama Ambon di kawasan Hutan Labanan yang dikelola bersama Kementerian Kehutanan.
Kedua lokasi tersebut turut menghadapi ancaman kebakaran. Di Kampung Tasuk, kawasan gambut dan rawa di sekitar pusat rehabilitasi sempat terbakar sekitar tiga hari sebelum wawancara. Api cepat ditangani karena lokasi dekat dengan kota dan mendapat bantuan pemadam kebakaran serta perusahaan sekitar.
Sementara di Hutan Labanan, akses menuju lokasi kebakaran lebih sulit. Kebakaran pada 24 Agustus sempat berada 1,3 kilometer dari lokasi Ambon, kemudian pada hari berikutnya berjarak sekitar 550 meter.
Api akhirnya dapat dipadamkan melalui kerja sama COP dengan Manggala Agni dan BP2SDM. Kondisi Ambon juga masih sehat dan menunjukkan perilaku normal meski abu kebakaran sempat mencapai kandangnya.
"Jadi kondisi di luaran sana kemarin tuh sempat memang abu bakaran itu sampai ke kandangnya, tapi tidak banyak gitu. Dalam artian sudah tersaring," tuturnya.
COP telah menyiapkan langkah mitigasi jika kondisi memburuk, termasuk kolam air, kandang transportasi, dokter hewan, dan peralatan medis. Jika diperlukan, Ambon akan dievakuasi ke lokasi rehabilitasi di Kampung Tasuk.
Wahyuni mengatakan ancaman terhadap orangutan juga dapat berlanjut setelah api padam karena hilangnya sumber pakan berpotensi memicu persaingan antarsatwa dan mendorong orangutan mendatangi permukiman.
"Pastinya rebutan pakan ya gitu. Jadi ada beberapa kantong-kantong itu akan terjadi persaingan antar mereka sendiri gitu. Biasanya kalau udah konflik gitu, mereka akan datengin ke pemukiman," katanya.
Meski demikian, kondisi orangutan di Kalimantan Timur sejauh ini masih relatif aman. Menurut Wahyuni, orangutan memiliki mekanisme bertahan hidup dengan terus berpindah untuk mencari pakan dan menghindari kondisi lingkungan yang tidak nyaman.
Sebanyak 17.375 titik hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terdeteksi berada di wilayah habitat orangutan Kalimantan sepanjang periode pemantauan 1 Juni hingga 28 Agustus 2026. Jumlah tersebut mencapai 78,5 persen dari total 22.740 titik hotspot yang dianalisis.
Temuan itu menunjukkan tingginya paparan karhutla terhadap habitat tiga subspesies orangutan Kalimantan, yakni Pongo pygmaeus pygmaeus, Pongo pygmaeus wurmbii, dan Pongo pygmaeus morio.
Hasil tersebut merupakan bagian dari pemantauan dan analisis Geopix terhadap persebaran hotspot karhutla serta dampaknya terhadap habitat orangutan Kalimantan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Geopix merupakan organisasi kampanye lingkungan dan konservasi independen di Indonesia. Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, mengatakan tingginya jumlah hotspot di wilayah habitat orangutan menjadi peringatan serius bagi kelestarian satwa yang berstatus critically endangered tersebut.
"Cukup miris gitu, bagaimana kita kehilangan luasan yang cukup banyak dari habitat orangutan di Kalimantan," kata Annisa dalam jumpa pers 'Borneo Lautan Api' di Kota Yogyakarta, DIY, Rabu (3/9).
Menurut Annisa, karhutla tidak hanya menjadi ancaman bagi manusia, tetapi juga satwa liar yang tidak memiliki kemampuan untuk berpindah atau mengungsi dengan mudah ketika habitatnya terbakar.
"Manusia mungkin bisa melarikan diri, bisa mengungsi ke saudaranya yang tempatnya tidak terdampak, nah tapi satwa? Ini yang mungkin harus kita pikirkan gimana cara kita untuk bisa lebih memitigasi dampak dan untuk bagaimana melakukan perlindungan dan kelestarian orangutan itu ke depannya," katanya.
Dalam pemantauan tersebut, Geopix memetakan persebaran hotspot dan membandingkannya dengan peta resmi distribusi habitat tiga subspesies orangutan Kalimantan. Data kemudian diolah menggunakan ArcGIS, Earth Engine, dan RStudio.
"Kita temukan bahwa 78,5 persen hotspot itu berada di habitat orangutan Kalimantan di tiga subspesies itu. Nah ini, jadi melonjak drastis hingga pada Agustus itu total titik hotspot 17.375," kata Annisa.
Subspesies Pongo pygmaeus wurmbii menjadi yang paling banyak terpapar hotspot, dengan 13.085 titik berada di wilayah habitatnya. Geopix menemukan wilayah paling rentan berada di Kalimantan Barat. Tingginya paparan kebakaran dikhawatirkan mempercepat degradasi habitat yang sebelumnya telah tertekan akibat fragmentasi dan alih fungsi lahan.
"Lalu risiko pascakebakaran akan memutus konektivitas habitat orangutan karena habitatnya terfragmentasi, karena tidak bisa menyediakan pakan dan hal-hal lain yang menunjang kehidupan orangutan, dan ruang habitat makin menyempit," katanya.
Karhutla berdampak langsung terhadap kehidupan orangutan karena sebagian besar aktivitas satwa arboreal tersebut berlangsung di tajuk pohon. Ketika pohon dan vegetasi terbakar, orangutan kehilangan tempat beraktivitas, bersarang, sekaligus sumber pakan seperti buah dan getah.
Hilangnya sumber makanan dapat mendorong orangutan keluar dari habitat untuk mencari pakan alternatif di sekitar permukiman atau aktivitas manusia. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan konflik, termasuk risiko satwa ditangkap atau diburu.
"Berarti kita akan menyaksikan bagaimana pembunuhan massal terhadap orangutan itu kalau kita tidak segera mengatasi dampak karhutla yang seperti mata rantai yang enggak pernah terputus ini ya," ucapnya.
Annisa mengatakan kondisi kering akibat El Nino dapat memperbesar risiko kebakaran karena vegetasi yang mengering menjadi bahan bakar. Kerusakan ekosistem gambut juga memperparah kerentanan karena pengeringan gambut membuat kawasan tersebut lebih mudah terbakar.
"Kalau di Kalimantan sendiri ada sekitar 4,5 juta hektar ekosistem gambut dari total luasan nasional," bebernya.
Selain ancaman fisik, kehilangan habitat dan paparan polutan juga dapat memicu stres pada orangutan. Menurut Annisa, stres dalam jangka panjang dapat memengaruhi kondisi tubuh dan sistem imun satwa.
Data hotspot SiPongi tak bisa diakses sejak 29 Agustus
Orangutan mati karena karhutla di Kalimantan. (REUTERS/Willy Kurniawan)
Dalam analisisnya, Geopix menggunakan data hotspot dari SiPongi, platform resmi pemerintah untuk pemantauan kebakaran hutan dan lahan. Namun, pemantauan hanya dapat dilakukan sampai 28 Agustus 2026 karena server SiPongi tidak dapat diakses sejak sehari setelahnya.
"Itu merupakan platform yang official ya dari Kemenhut. Dengan durasi pemantauan mulai per 1 Juni sampai dengan 28 Agustus. Kita sangat beruntung, kenapa? Karena di tanggal 29 itu server di sana down," katanya.
"Kita enggak bisa akses lagi SiPongi. Jadi pemantauan kita hanya sampai tanggal 28 Agustus. Sampai hari ini tidak bisa diakses, gitu ya," lanjut Annisa.
Menurut Geopix, kondisi tersebut menjadi catatan karena data hotspot dibutuhkan untuk memantau perkembangan kebakaran dan mengidentifikasi wilayah yang membutuhkan respons cepat.
Annisa menegaskan analisis tersebut masih merupakan riset awal. Sejumlah variabel lain, seperti kawasan gambut dan elevasi, masih perlu dimasukkan dalam penelitian lanjutan agar pemetaan kerentanan habitat dapat dilakukan secara lebih komprehensif.
Geopix menilai pemerintah perlu memperkuat perlindungan habitat prioritas, sistem peringatan dini, serta respons terhadap kebakaran. Selain itu, investigasi dan penegakan hukum terhadap penyebab kebakaran serta pihak yang bertanggung jawab juga perlu dilakukan.
"Maka itu perlindungan habitat prioritas dan sistem peringatan respon kebakaran harus diperkuat. Kemudian investigasi dan penegakan hukum terhadap penyebab serta pihak yang bertanggung jawab harus juga diselesaikan, dilakukan, karena ini akan menimbulkan efek jera," harapnya.
Menurut Annisa, penanganan karhutla perlu diikuti dengan restorasi habitat karena pemulihan ekosistem membutuhkan waktu jauh lebih lama dibandingkan proses kerusakannya. Geopix juga mendorong survei ulang populasi dan habitat orangutan Kalimantan untuk mengetahui kondisi terbaru, kepadatan, serta wilayah habitat prioritas.
"Maka itu konservasi strategi konservasi dari pemerintah itu juga harus lebih lebih kuat dan responsif terhadap apa yang terjadi saat ini di Kalimantan," kata dia.
Geopix mendorong pemerintah segera menyusun rencana aksi darurat bagi orangutan Kalimantan yang berjalan beriringan dengan pemadaman dan mitigasi karhutla.
"Jadi memang benar bahwa kita harus mengatasi, memitigasi karhutla, memadamkan api, tapi ada PR yang sangat-sangat besar yang masih belum dilakukan oleh pemerintah, yaitu memutus mata rantai karhutla yang berulang setiap tahun. Dan dalam beberapa tahun terus ada El Nino yang besar, dan kita akan mengalami seperti lagi," pungkas Annisa.
Ancaman karhutla terhadap orangutan juga dirasakan di lokasi rehabilitasi yang dikelola Center for Orangutan Protection (COP) di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Manajer Komunikasi COP, Wahyuni, mengatakan terdapat dua lokasi rehabilitasi dengan total 18 orangutan, yakni 17 individu di Kampung Tasuk dan satu individu bernama Ambon di kawasan Hutan Labanan yang dikelola bersama Kementerian Kehutanan.
Kedua lokasi tersebut turut menghadapi ancaman kebakaran. Di Kampung Tasuk, kawasan gambut dan rawa di sekitar pusat rehabilitasi sempat terbakar sekitar tiga hari sebelum wawancara. Api cepat ditangani karena lokasi dekat dengan kota dan mendapat bantuan pemadam kebakaran serta perusahaan sekitar.
Sementara di Hutan Labanan, akses menuju lokasi kebakaran lebih sulit. Kebakaran pada 24 Agustus sempat berada 1,3 kilometer dari lokasi Ambon, kemudian pada hari berikutnya berjarak sekitar 550 meter.
Api akhirnya dapat dipadamkan melalui kerja sama COP dengan Manggala Agni dan BP2SDM. Kondisi Ambon juga masih sehat dan menunjukkan perilaku normal meski abu kebakaran sempat mencapai kandangnya.
"Jadi kondisi di luaran sana kemarin tuh sempat memang abu bakaran itu sampai ke kandangnya, tapi tidak banyak gitu. Dalam artian sudah tersaring," tuturnya.
COP telah menyiapkan langkah mitigasi jika kondisi memburuk, termasuk kolam air, kandang transportasi, dokter hewan, dan peralatan medis. Jika diperlukan, Ambon akan dievakuasi ke lokasi rehabilitasi di Kampung Tasuk.
Wahyuni mengatakan ancaman terhadap orangutan juga dapat berlanjut setelah api padam karena hilangnya sumber pakan berpotensi memicu persaingan antarsatwa dan mendorong orangutan mendatangi permukiman.
"Pastinya rebutan pakan ya gitu. Jadi ada beberapa kantong-kantong itu akan terjadi persaingan antar mereka sendiri gitu. Biasanya kalau udah konflik gitu, mereka akan datengin ke pemukiman," katanya.
Meski demikian, kondisi orangutan di Kalimantan Timur sejauh ini masih relatif aman. Menurut Wahyuni, orangutan memiliki mekanisme bertahan hidup dengan terus berpindah untuk mencari pakan dan menghindari kondisi lingkungan yang tidak nyaman.