HARI TANI 2026

Kiprah Majelis Sayur, Jaringan Kolektif Petani Kota di Jaksel

Dika Kardi | CNN Indonesia
Kamis, 24 Sep 2026 13:57 WIB
Peta sederhana yang menunjukkan sebaran petani kota di Kecamatan Jagakarsa, Jaksel, yang disusun forum Majelis Sayur Jagakarsa. (CNN Indonesia/ Dika Kardi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Berawal dari sebuah kawasan kreatif di salah satu sudut Kelurahan/Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, lima pemuda-pemudi bertukar ide mengenai pemanfaatan sumber makanan dari budi daya di sekitar 'tempat main' mereka.

Julian Riezky (40) dkk yang membangun gerakan kreatif kuliner Selarasa Foodlab di kawasan Gudskul, Jagakarsa, itu lalu bersilaturahmi ke sejumlah petani kota di kecamatan yang jadi perbatasan Jakarta-Depok tersebut.

Sahut menyahut, sambung menyambung, komunikasi pun saling terkait dan membesar hingga akhirnya mereka dan para pegiat budi daya tanaman di Jagakarsa itu sepakat membangun forum. Forum informal itu mereka namakan Majelis Sayur.

Beberapa pegiat mengatakan Majelis Sayur mulai dirintis sekitar 2021 silam, berawal dari sebuah acara terkait pangan dan tanaman hortikultura yang mengumpulkan mereka.

"Majelis Sayur ini sebetulnya jadi tempat kita kumpul, komunikasi saja," ujar Latif (36)--salah satu warga di Cipedak, Jagakarsa, saat berbincang dengan CNNIndonesia.com awal September ini.

Dia sehari-hari juga menggarap lahan di bantaran kali tak jauh dari rumahnya. Pria yang mempromosikan hasil panen hariannya lewat akun media sosial dengan nama akun Pojok Aselih itu bercerita pada dasarnya Majelis Sayur tak membentuk pasar dari hasil kebun mereka, tetapi untuk saling berjejaring saja lewat forum itu.

Latif bilang, sebelum ada Majelis Sayur itu para anggotanya pun sudah ada yang memiliki kelompok tani sendiri seperti kelompok tani alpukat, atau kelompok tani hutan (KTH).

Lalu seiring waktu, kata Latif, kini Majelis Sayur sedang berkolaborasi untuk membuat Sekolah Tani Kota. Untuk kurikulumnya, dia menerangkan mereka bekerja sama dengan sejumlah pihak termasuk beberapa orang yang tergabung dalam arena kreatif di Jagakarsa, Gudskul.

Untuk kegiatan selain berkolaborasi di bidang ilmu, Latif mengaku berharap Majelis Sayur juga bisa membangun 'Pasar Bersama', setidaknya di Jagakarsa.

"Di Jakarta ini kan pasarnya besar ya, [panen sayur] dari Bogor kan suplainya ke sini. Nah, gimana kita bisa bangun juga agar bisa mendapatkan pasar itu yang terdekat, ya di kecamatan ini," kata Latif.

"Nah kita ingin jadi bagian dari solusi itu," sambungnya.

Latif salah satu anggota Majelis Sayur memperlihatkan peta 'Petani Kota' di Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, yang didata pihaknya. (CNN Indonesia/Febria Adha L)

Julian--kerap disapa Juli--mulanya berdomisili di Kemayoran, Jakarta Pusat, sebelum akhirnya ikut pindah ke Jagakarsa bersama Gudskul. Dia yang memang sudah menaruh perhatian pada budidaya hortikultura, bersama beberapa orang lain, kemudian mencari 'petani-petani kota' di Jagakarsa ketika mulai beraktivitas di kecamatan tersebut.

Juli merupakan salah satu founder dari Selarasa Foodlab. Dia membangun itu bersama empat kawannya yakni Risya, Tahlia, Erbi, dan Bonit.

"Selarasa ini sebetulnya tempat kita, Foodlab itu dapur," katanya saat berbincang dengan CNNIndonesia.com pada Selasa (15/9) malam.

Dia lantas menegaskan Selarasa bukanlah 'pemilik' atau founder dari Majelis Sayur, melainkan bagian dari forum itu.

"Selarasa ini bagian dari Majelis Sayur. Makanya bisa dilhat sendiri, kita sampai tulis itu di sana," ujar Julie seraya menunjuk jendela kaca yang terdapat tulisan dan ilustrasi lahan pertanian.

"Selasara bagian dari Majelis Sayur," begitu tulisan di jendela outlet itu.

Kemudian, sambung Juli, Selarasa itu menjadi koperasi yang salah satu perannya saat ini jadi penghubung, baik antarpetani, maupun dengan konsumen di Jagakarsa bersama Majelis Sayur.

Selarasa Foodlab sebagai bagian dari Majelis Sayur Jagakarsa, Jakarta Selatan. (CNNIndonesia/Dika Kardi)

Urban Agriculture

Juli menceritakan Jagakarsa pada dasarnya bukan lagi kegiatan urban farming, tetapi sudah lebih menjurus pada kebudayaan budi daya pertanian di kota (urban agriculture).

"Jagakarsa ini menurut saya sudah bukan lagi sekedar urban farming, tapi urban agriculture. Bukan lagi cuma 'menanam di kota', tapi ada sebuah ikatan antara warga dan sumber kehidupan. Jadi tempat sebuah produksi kehidupan dengan budayanya sendiri," kata dia saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Jumat (11/9) petang.

Salah satu dari lima pendiri dari Selasarasa Foodlab itu mengatakan dia tak berangkat dari kertas kosong untuk mendefinisikan hal tersebut. Dia menerangkan dalam sejarahnya kawasan Jagakarsa itu adalah ladang perkebunan atau pertanian dan peternakan.

Menurutnya hal itu bisa dilihat dari toponimi daerah-daerah di sana yang dinamai dari nama-nama komoditas holtikultura seperti Jalan Durian, Pepaya, Kecapi, Matoa, hingga Kelurahan Srengseng Sawah.

Selain itu, sambungnya, masyarakat Jagakarsa juga pernah punya upacara syukuran atas hasil panen seperti Serentaun yakni Sumbang Bumi.

Oleh karena itu, katanya, Majelis Sayur hadir sebagai bagian dari kesadaran bersama sesama warga Jagakarsa--yang kebetulan bertani hingga berkebun--untuk saling menjalin komunikasi, menguatkan, dan berkembang bersama.

"Majelis Sayur ini konsepnya bertetangga. Kita kalau ketemuan, walau masih belum terjadwal sering di tempat yang berbeda. Keliling kebunlah," kata Juli.

"Nah, kenapa bermajelis? Karena sepakatnya ya semua setara. Enggak ada ketuanya, ketuanya ya sama-sama nih. Semua orang ini ya ketuanya dan semua orang ini ya anggotanya," sambungnya yang menegaskan majelis itu tak terkait dengan kepentingan apapun, apalagi politik.

Ahmad Fahrizal pembibit Alpukat di Jagakarsa yang tergabung dalam Majelis Sayur. (CNN Indonesia/Febria Adha L)

Apa yang disampaikan Juli itu diamini Latif secara terpisah. Latif menegaskan tak ada yang namanya 'ketua-ketua' di dalam Majelis Sayur.

Tapi, kalau belakangan ada pihak luar yang ingin tahu tentang Majelis Sayur, mereka memang ada yang bisa diajak ngobrol terlebih dulu sebelum ke lainnya.

Selain Juli dan Latief, beberapa yang jadi bagian Majelis Sayur itu di antaranya ada Ibnuh yang bergiat hidroponik di kebun Youngsayur, Ahmad Fahrizal yang melakukan pembibitan alpukat serta budidaya sayur bersama Peralpukatan Duniawi.

Lalu ada Sophia Louretta yang spesifik membuat kompos atau media tanam lewat Tani Alit, dan seorang ibu rumah tangga Lily Almasih yang berkebun di atap rumahnya (Kebun Emeng).

Fahrizal (38) atau Ijal--pemuda yang berkampung halaman di Jagakarsa--mengonfirmasi soal kebudayaan agrikultur di wilayah tersebut. Bahkan, sambungnya, satu-satunya sekolah kejuruan khusus pertanian di Jakarta cuma ada di Jagakarsa yakni SMKN 63 di Jalan Aselih, Cipedak.

Ijal merupakan salah satu alumni tempat pendidikan yang semula bernama SMK Negeri Pertanian dan Pembangunan tersebut. Sempat menjadi penyuluh untuk institusi pertanian, dia memilih kembali ke kampung halamannya dan menyewa lahan untuk membudidayakan alpukat varietas Miki atau Alpukat Cipedak

Selain alpukat, di lahan yang digunakannya di Kelurahan Ciganjur, dirinya juga menanam budidaya hortikultura lain.

Menurutnya sebagai petani kota di kampung halaman sendiri, mereka harus bersiasat dengan lahan yang terbatas. Namun itu tak jadi halangan, sambungnya, malah jadi karakter tersendiri bagi mereka masing-masing.

"Jadi kan nggak semuanya anak-anak teman-teman Majelis Sayur punya lahan luas ya. Ini kebetulan aja, dan Mas Latif kan pinggir kali, kebetulan juga dia [ada lahan tapak]. Tapi ada juga yang kebetulan di atas atap, dan ada yang harus beradaptasi dengan gang sempit," kata dia.

"Uniknya ya, ya karakternya masing-masing," sambung dia yang mengaku baru bergabung dengan Majelis Sayur pada 2023 lalu.

Suasana salah satu kegiatan kumpul Majelis Sayur Jagakarsa di kebun salah satu anggotanya. (dok.istimewa/Majelis Sayur-Latif) 

Kini selain lewat marketplace dan media sosial miliknya, Peralpukatan Duniawi, Ijal pun sudah memiliki pelanggan tetap.

Walaupun demikian diakui Latif, Ijal, hingga Lily saat berbincang secara terpisah masing-masing sebetulnya sudah memiliki pasar dan metode penjualan sendiri.

Tapi, kata mereka akur secara terpisah, Majelis Sayur itu jadi wadah komunikasi dan kolaborasi yang memberi energi baru dalam kegiatan masing-masing.

"Kita butuh nongkrong, butuh komunikasi. Enggak asyik juga kalau terlalu [fokus] di bisnis 100 persen kan? tutur Ijal.

"Jadi kita sharing-nya, ya kalau kita mungkin kebetulan kita mungkin punya pengalaman untuk mengelola tanaman yang lebih banyak ya kita cerita sama teman-teman. Kita cerita berbagilah, kalau misalkan kita memang lagi apa namanya, wah kita pengen belajar nih tentang apa yang kita enggak tahu misalkan kompos atau apa, kita pengen belajar, teman-teman kita ada yang ahli di bidang itu, di kompos kayak Mbak Sofi [Tani Alit] gitu ya misalnya. Tukar-tukar aja, tukar ini, gitu," sambungnya.

Urban Agriculture di Jagakarasa


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :