Kabut Asap di Palembang Semakin Pekat, Masuk Kategori Berbahaya
Kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, pada Minggu (4/10) semakin pekat hingga mengurangi jarak pandang imbas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Menurut BMKG, level udara di Palembang berada pada berbahaya.
Di Jalan Soekarno Hatta, kabut asap terlihat semakin tebal dan pekat dibandingkan siang hari. Jarak pandang pun sangat terbatas, ditambah saat berkendara di jalan.
Tak hanya tebal dan pekat, asap juga sering kali tercium dan membuat mata sedikit perih. Sejumlah kendaraan juga menyalakan lampu kendaraan agar terlihat sesama pengendara.
Salah satu pengendara, Ilham warga Talang Jambe mengatakan di sepanjang Jalan Soekarno Hatta asap terlihat sangat tebal dan sesekali membuat matanya perih. Ia juga tak lupa menggunakan masker saat keluar rumah atau beraktivitas di luar ruangan.
"Tadi pas keluar dari rumah sudah terlihat asapnya. Di jalan juga cukup tebal asapnya. Saat ini masker jangan sampai lupa dipakai karena tebalnya asap ini, kak," katanya mengutip detikSumbagsel.
Asap berbahaya
Berdasarkan pemantauan di Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang milik BMKG, angka PM.25 berada pada kategori berbahaya sejak pukul 02.00 WIB dengan angka 358,7 µg/m³. Setelahnya angka tersebut terus meningkat, pukul 03.00 WIB sebesar 641,4 µg/m³, pukul 04.00 WIB sebesar 784,8 µg/m³.
Peningkatan terus terjadi hingga puncaknya pada pukul 05.00 WIB 903,6 µg/m³, dimana angka tersebut merupakan angka tertinggi sepanjang pemantauan. Namun setelah mencapai angka tertingginya, angkanya mengalami penurunan.
"Iya, masih dalam kategori berbahaya, sejak dini hari hingga pagi ini. Angkanya mencapai angka tertinggi pada pukul 05.00 WIB sebesar 903,6 µg/m³, dimana angka tersebut menjadi nilai tertinggi sepanjang pemantauan tahun ini," ujar Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan Wandayantolis.
Kemudian Pukul 06.00 di angka 673,4 µg/m³ dan masih terdeteksi tinggi dan berada di level bahaya. Namun terus mengalami penurunan, pukul 08.00 WIB berada di angka 271,7 µg/m³.
Angkat PM2.5 sempat berada di level sangat tidak sehat atau merah pada siang hari, namun pada pukul 16.00 WIB levelnya kembali naik ke berbahaya di angka 495,6 µg/m³.
Sebelumnya, Kabut asap dampak karhutla yang masih menyelimuti sejumlah wilayah Sumatera Selatan selama hampir dua bulan terakhir makan korban jiwa.
Adalah Ardiansyah (41), warga Jalan Mataram Ujung Palembang yang sehari-hari bekerja sebagai pengemudi ojek online (ojol) meninggal dunia setelah mengalami sesak napas.
Pihak keluarga menduga kondisi tersebut berkaitan dengan paparan asap karhutla yang belakangan menyelimuti Kota Palembang.
Rita Yunita mengatakan suaminya, almarhum Ardiansyah, memang memiliki riwayat asma. Sejak kabut asap mulai menyelimuti Palembang, katanya, almarhum lebih sering mengalami batuk dan sesak, terutama setelah beraktivitas di luar rumah.
Baca berita lengkapnya di sini.
(tim/dal)