PILAH OLAH SAMPAH HEROES

Liliana, Yang Muda yang Memilah dan Mengolah Sampah

CNN Indonesia
Rabu, 04 Nov 2026 20:09 WIB
Siswa SMAN 37 Jakarta Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan Liliana Nur Gandi jadi representasi penggerak pilah olah sampah dari generasi muda.
Siswa SMAN 37 Jakarta Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan Liliana Nur Gandi jadi representasi penggerak pilah olah sampah dari generasi muda. Foto: CNN Indonesia/Moureen Nathalia
Jakarta, CNN Indonesia --

Siswa SMAN 37 Jakarta Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan Liliana Nur Gandi jadi representasi penggerak pilah olah sampah dari generasi muda.

Perempuan yang masih duduk di bangku kelas 2 SMA ini aktif memilah dan mengolah sampah melalui kolaborasi dengan Duta Bank Sampah sekolah.

"[Dulu] Siswa-siswi SMA Negeri 37 Jakarta masih belum sadar dan belum paham akan pilah-olah sampah ini. Makanya kami membuat Duta Bank Sampah agar teman-teman kami juga dapat berinovasi, menjadi tempat inspirasi, dan menaruh kita sebagai wadah aspirasi," kata Lilia, Rabu (4/11).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lilia menceritakan bahwa awalnya ia tertarik untuk terlibat dalam gerakan pilah-olah sampah karena merasakan dampak dari pengelolaan sampah yang buruk. Dampak tersebut adalah banjir yang timbul karena sampah yang menyumbat jalur.

"Saya sering banget melihat banjir itu kadang muncul tersumbat oleh daun kering, bukan dari sampah anorganik. Makanya, dari situ saya menginisiasikan untuk membuat kompos dari daun kering," ujarnya.

Untuk kegiatan Duta Bank Sampah sekolah, terdapat rutinitas tertentu yang dilakukan Lilia dan teman-temannya. Rutinitas tersebut dimulai dengan mengolah dan memilah sampah terlebih dahulu.

Jika organik maka sampah diolah menjadi eco-enzyme atau budidaya maggot.

"Maggot ini kan sedang viral-viralnya ya, karena banyak proteinnya dan tinggi akan proteinnya. Jadi, saya kasih maggot itu sebagai wadah budidaya," katanya.

Sementara itu, sampah anorganik yang telah dipilah dijadikan bahan untuk kerajinan tangan. Salah satunya adalah karpet yang terbuat dari bungkus kopi atau bungkus kemasan lainnya.

"Kami membuat karpet karena sekolah kami ini sudah adiwiyata dan kami sering juga membuat workshop bagi teman-teman kami yang masih bingung gimana sih cara membuat karya dari sampah anorganik," terangnya.

Lilia meyakini bahwa untuk mengajak teman-teman lainnya untuk memilah dan mengolah sampah, harus ada representasi terlebih dahulu. Representasi itu dimulai dengan aksi dari diri sendiri yang menunjukkan hal positif dan mampu memberikan dampak.

"Saya pamerkan ke teman-teman saya, 'Aku kasih MBG ke maggot loh, kasih sampah daun atau sampah buahnya ke maggot .' Dan mereka tertarik. Mereka langsung mengumpulkan jika mereka punya sampah organik dari rumah," ucap Lilia.

Lilia mengatakan sekarang sudah sekitar 89 persen siswa di sekolahnya berpartisipasi dalam gerakan pilah dan olah sampah. Ia dan teman-teman Duta Bank Sampah kini sedang fokus pada inovasi agar seluruh warga sekolah dapat berpartisipasi dalam gerakan ini.

Lilia merupakan salah satu peserta program Pilah Olah Sampah Heroes 2026. Program ini diadakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik).

Tujuan dari digelarnya program ini adalah untuk mengapresiasi para pahlawan lingkungan yang memiliki aksi nyata di bidang pengelolaan sampah dan turut menggerakkan warga lainnya untuk peduli terhadap sampah.

Penyelenggaraannya kini telah sampai pada tahap verifikasi lapangan. Sebanyak 15 peserta dikunjungi langsung oleh para juri yang akan melihat langsung inisiatif lingkungan yang mereka buat.

Berikutnya, akan tersaring 10 peserta yang dapat mengikuti penjurian final. Pada Selasa (10/11), pemenang dari ajang ini akan diumumkan dan diberikan penghargaan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.

(mou/sur)
placeholder
LIHAT SELENGKAPNYA