Nyaris setiap tahun klub-klub raksasa Eropa melakukan tur pra-musim dan pergi ke negara seperti Amerika Serikat, China, Australia, negara-negara Asia Tenggara dan Asia timur untuk melakukan pertandingan 'hiburan' sembari melakukan persiapan fisik pemain jelang musim baru.
Tapi dalam beberapa tahun belakangan, porsi yang diberikan antara melakukan pertandingan eksebisi dan mempersiapkan fisik pemain jadi tidak berimbang dengan klub-klub yang lebih memilih untuk mendapatkan pundi-pundi uang dari laga-laga persahabatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk melakukan perjalanan tersebut, hampir enam dari 15 hari dialokasikan untuk perjalanan dengan mengunakan berbagai penerbangan dan jarak tempuh hingga lebih dari 13.500 mil.
Dalam beberapa minggu ke belakang, baik pelatih Manchester United maupun Arsenal telah menyatakan ketidakpuasannya terhadap jadwal pra-musim tersebut.
Van Gaal sempat berkata bahwa meski pertandingan-pertandingan itu penting untuk memadukan tim dan menyiapkan formasi, tapi jadwal terbang dan jarak yang harus ditempuh mulai memberikan efek negatif pada pemainnya. Jet lag dan kecapaian akan berpengaruh pada persiapan tim.
Sementara pelatih Arsenal, Arsene Wenger, mengambil sikap yang lebih tegas. Ia menolak pertandingan persahabatan di tempat jauh --musim lalu Arsenal mengunjungi Asia Tenggara-- dan lebih untuk melakukan pertandingan di kandangnya sendiri, yaitu dengan mengadakan Piala Emirates.
Jejak langkah Wenger ini sangat mungkin diikuti Van Gaal musim depan.
Penting untuk dicatat bahwa musim lalu MU mengadakan tur ke Thailand, Australia, Jepang, dan Hong Kong. Lalu, ketika musim baru dimulai, MU kalah pada tiga dari delapan pertandingan pertamanya.
Tur MU kala itu dianggap sukses dan dianggap menyenangkan para suporternya di Timur Jauh Asia. Tapi, mengingat buruknya prestasi MU di musim lalu, banyak dari mereka akan lebih memililih tim-nya mengangkat tropi ketimbang melihat para idolanya dari jarak dekat.