Sebut saja nama seperti Thierry Henry, David Beckham, hingga David Villa dan Frank Lampard, semuanya menuju Amerika Serikat di senja karir mereka.
Lalu faktor apa yang membuat para pemain veteran tersebut tertarik ke negeri Paman Sam? Padahal di sana sepakbola boleh dibilang kalah pamor dibandingkan sepakbola amerika maupun bisbol.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Sepuluh Tim Perintis MLS
2. Carlos Valderrama dan Rambut Uniknya
Nama legenda sepakbola Kolumbia, Carlos Valderrama sempat merasakan kompetisi di Paman Sam ini. Valderrama bahkan menjadi pemain terbaik (MVP) pertama di MLS, sekaligus meraih penghargaan 'pemain dengan model rambut terbaik'.
3. Freddy Adu Bintang Termuda Sepanjang Sejarah
Pemain Football Manager pasti mengenal nama Freddy Adu. Menjadi pemain termuda yang tampil di kompetisi sepakbola Amerika (14 tahun), Adu bermain untuk DC United dan merupakan salah satu pemain paling populer di MLS.
4. Clint Mathis, Pencetak Gol Terbanyak dalam Satu Pertandingan
Nama Mathis mungkin tidak sepopuler pesepakbola Amerika seperti London Donovan, Kasey Keller, atau Brian Mcbride, namun Mathis merupakan pemegang rekor pencetak gol terbanyak dalam satu pertandingan.
Dalam pertandingan saat timnya (New York MetroStars) menghadapi Dallas pada 2000 silam, Mathis mencetak lima dari enam gol MetroStars.
5. Jumlah Penonton Mengalahkan NBA
Meski sepakbola dianggap kalah pamor dari basket di Amerika, pada kenyataannya di tahun 2013 jumlah penonton MLS lebih besar dibandingkan NBA.
Pada pertandingan MLS 2013, tercatat rata-rata sebanyak 18.611 suporter menghadiri pertandingan MLS.
6. Bisnis Menggiurkan
Sepakbola merupakan bisnis yang menggiurkan. Berbagai belahan dunia sudah merasakan hal tersebut, begitu pula Amerika.
Pada saat pertama kali MLS muncul, setiap tim yang berlaga saat itu rata-rata bernilai 37 juta dolar Amerika.
Namun pada tahun 2013 lalu, berdasarkan laporan Forbes, rata-rata tim di MLS bernilai 103 juta dolar, membuat Amerika sebagai ladang bisnis sepakbola baru yang ideal. (vws)