"Kami memiliki banyak pemain muda. Ini pertama kalinya mereka mencapai final yang besar, pertandingan besar di depan 80 ribu orang," kata pelatih asal Jerman itu.
Kapten tim Korsel, Ki Sung-yueng pun memiliki motivasi besar untuk memenangkan trofi. Kemenangan di Piala Asia, kata Ki, akan menjadi bukti bahwa sepak bola Korsel adalah yang terbaik di Asia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ki mengatakan timnya akan memanfaatkan tekanan untuk memenangkan pertandingan final. Tekanan dalam sebuah kompetisi besar, ujarnya, adalah hal yang lumrah.
"Ini adalah sebuah peluang besar yang mungkin hanya sekali seumur hidup," kata pria yang menjadi bagian dari timnas Korsel sejak 2008 lalu.
Meski menjadi salah satu raksasa sepak bola Asia, Korsel sendiri kerap gagal di turnamen level benua. Mereka pernah meraih gelar dua kali pada 1956 dan 1960 ketika formatnya masih setengah kompetisi (tanpa sistem gugur) namun setelahnya gagal tiga kali di partai final 1972, 1980, dan 1988.
Selain untuk membuka puasa gelar di turnamen tersebut, Korsel pun akan coba membalas kegagalan memalukan di Piala Dunia lalu, ketika mereka dilempari kue-kue (satu bentuk hinaan di Korsel) ketika tiba di tanah air sepulang dari Brasil.
Stielike sendiri mampu membuktikan kehandalannya sebagai pelatih dengan membangun skuat muda yang telah mampu mengatasi berbagai rintangan seperti cedera dan beberapa orang yang sakit.
"Jika kami bisa bermain dengan tenang dan dengan keyakinan, kami memiiliki kemungkinan untuk memenangkan pertandingan ini," kata Stielike. "Seberapa kuat mental kami akan menjadi faktor utama." (vws)