"(Semasa Zlatan di Inter Milan) ia terus menerus menelepon Zlatan sepanjang tahun. Kira-kira sepuluh kali. Di Barcelona, Pep juga berkata pada Zlatan bahwa ia akan membantu apa pun yang Zlatan butuhkan," ujar Raiola.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski mengaku tidak tahu alasan pasti, Raiola kemudian bertutur bahwa mungkin penyebabnya adalah turunnya performa Messi pada musim ketika keduanya bermain bersama.
Raiola lalu menjelaskan bahwa Ibra berkata ia akan melakukannya dan ia baik-baik saja dengan permintaan tersebut. Tapi, satu bulan kemudian, Txiki kembali berbicara pada Raiola dan menyatakan bahwa Guardiola akan mengganti sistem permainan Barca, meski Zlatan tidak setuju.
"Txiki lalu bercerita pada saya bahwa ada masalah. 'Messi kecewa dan mengadu pada Guardiola sehingga ia akan bermain di tengah (posisi Zlatan saat itu) dan Guardiola tidak akan memainkan dua penyerang secara bersamaan'."
"Sejak saat itu Pep tidak lagi berbicara pada Zlatan, bahkan ketika ia cedera."
Raiola lalu bercerita bahwa Zlatan tetap mempertahankan sikap profesionalnya menghadapi perlakuan tersebut. Namun, ketika sang penyerang harus meninggalkan Barca, Zlatan sempat memilih pindah ke Real Madrid.
"Langkah itu akan menjadi langkah ideal. Sangat sempurna untuk membalas dendam kepada Guardiola."
Namun, masih menurut Raiola, hal ini tidak terlaksana karena Real Madrid tidak memiliki keberanian dan rencana yang jelas. Padahal, (Carlo) Ancelotti menginginkan Zlatan dan Raiola juga sempat mendiskusikan hal ini ke Madrid.
Pejabat tinggi Madrid, Jose Angel Sanchez kemudian menelepon presiden Paris Saint Germain dan menggagalkan kesepakatan tersebut.
"Real Madrid bukan klub normal dan memiliki keberpihakan politik. Saya tidak mengerti cara mereka melakukan sesuatu. Padahal, Madrid akan sangat sempurna untuk Zlatan karena ia adalah pemain yang hebat dan juga sangat berambisi."
Raiola sendiri berkata bahwa kegagalan untuk pindah ke Madrid tidak lantas membuat Zlatan kecewa.
(vws)