Martinus Adinata
Mendapatkan gelar Master dari Kajian Wilayah Eropa Universitas Indonesia. Penggemar berat tim nasional Jerman dan LIverpool. Kini menjadi wartawan di kanal olahraga CNN Indonesia.

Gerrard: Kebanggaan, Kesuksesan, dan 1001 Celaan

Martinus Adinata, CNN Indonesia | Sabtu, 16/05/2015 21:15 WIB
Gerrard: Kebanggaan, Kesuksesan, dan 1001 Celaan Steven Gerrard akan menghadapi laga terakhir di Stadion Anfield dengan berhadapan melawan Crystal Palace. (CNN Indonesia/Foto olahan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah 17 tahun mengenakan seragam merah Liverpool, Steven Gerrard akan menatap tribun The Kop sebagai seorang pemain di Stadion Anfield untuk terakhir kalinya, Sabtu (16/5).

Menghadapi Crystal Palace, pertandingan terakhir Gerrard tidak akan bermakna banyak selain mengamankan jatah ke Liga Eropa --kasta kedua kompetisi elit Erpoa-- dan perpisahan sang kapten, yang mungkin tak semanis harapan.

Lantas apa yang ada di benak Gerrard? Apa yang ada di dalam pikiran pemain yang pernah merasakan manisnya juara hingga pahitnya terpeleset di momen-momen krusial?


Apakah penyesalan dirinya tidak meninggalkan Anfield ketika berada di puncak karier?

Jika menerima pinangan Jose Mourinho di Inter Milan, Real Madrid, atau Chelsea, Gerrard mungkin saja akan merasakan manisnya juara liga atau bahkan merasakan kebanggaan meraih trofi Liga Champions ataupun Piala Dunia Antar Klub.

Namun, jika ia hengkang bertahun-tahun lalu, publik Anfield mungkin tidak akan meratapi kepergian sosok jenderal lapangan tengah, kapten, idola, dan kini legenda mereka.

Di Antara Banyak Pilihan

Sepanjang kariernya, Gerrard telah berhadapan dengan banyak pilihan. Ketika timnya mencapai final Liga Champions 2005 dan tertinggal 0-3 di babak pertama, ia bisa saja memilih untuk melempar handuk dan menyerah.

Setidaknya itu yang akan dirasakan mayoritas orang di posisi Gerrard. Tertinggal tiga gol ketika menghadapi AC Milan yang saat itu masih memiliki banyak legenda hidup, moral seorang pesepakbola kebanyakan akan berada di titik terendah.

Tapi tidak bagi Gerrard. Ia memilih untuk keluar, membangkitkan moral rekan-rekannya bukan dengan teriakan, tetapi dengan contoh, dan ia masuk ke atas lapangan dengan satu tujuan: mengantarkan Liverpool meraih kejayaan.

Ia lalu menjadi pencetak gol pertama Liverpool malam itu. Ia membangkitkan optimisme para pemain The Reds, membuat mereka mampu menciptakan kisah dongeng kebangkitan "Miracle in Istanbul" dalam waktu enam menit.

Satu musim kemudian, Gerrard juga bisa saja tenggelam dalam keputusasaan ketika Liverpool tertinggal 0-2 di pertengahan babak pertama final Piala FA 2006, menghadapi West Ham United.

Namun sebuah umpan panjangnya yang diselesaikan dengan baik oleh Djibril Cisse, kembali mengangkat moral para pemain The Reds.

Ketika Paul Konchesky mempermalukan Jose Manuel Reina dengan golnya untuk membuat Liverpool semakin tertinggal 1-3, Gerrard juga bisa saja tenggelam dalam keputusasaan, seperti yang terpancar di muka pemain Liverpool lainnya, dari Jamie Carragher, hingga Dietmar Hamann.

Akan tetapi Gerrard, kembali menunjukkan dirinya memimpin bukan dengan teriakan atau makian, melainkan memimpin dengan contoh. Dan dua gol yang ia cetak untuk membuat pendukung West Ham terdiam, merupakan bukti nyata di atas lapangan.

Dua tahun berturut-turut, Gerrard menolak untuk menyerah, dan dua tahun berturut-turut pula, Liverpool menggapai kesuksesan dan mengakhiri musim dengan trofi.

Namun tidak semuanya berjalan dengan indah bagi seorang Gerrard. ia juga pernah merasakan pahitnya terjerembab di dasar, ketika Liverpool terlempar ke posisi ketujuh pada musim 2009/2010.

Gerrard juga menyaksikan rekan-rekan terdekatnya satu per satu hengkang dari Liverpool, menerima tawaran klub lain dan meraih kesuksesan di tempat lain, saat ia tetap bertahan dalam status medioker, yang beberapa tahun terakhir akrab dengan Liverpool.

Menyaksikan kepergian Xabi Alonso, Dirk Kuyt, Fernando Torres hingga Luis Suarez pergi, Gerrard bisa saja merasa iri dengan kesuksesan mantan rekan-rekannya tersebut dan ingin mengikuti jejak mereka. Tapi Gerrard memilih untuk bertahan di Liverpool.

Selain itu Gerrard juga pernah merasakan pahitnya dicemooh suporter lawan karena selalu gagal membawa Liverpool meraih trofi Liga Primer. Pemain berusia 34 tahun ini pula yang menjadi target lelucon klub lawan akibat terpeleset saat menghadapi Chelsea musim lalu.

Menciptakan momen dramatis dengan pidatonya selepas kemenangan atas Manchester City, dan kemudian menjadi cemoohan seluruh dunia ketika terpeleset di pertandingan berikutnya, dan akhirnya kehilangan trofi Liga Primer pada akhir musim.

Cemoohan yang masih terus diserukan suporter lawan hingga saat ini, dan mungkin akan terus bertahan untuk selamanya.

Tapi Gerrard tetap bertahan di Liverpool, hingga akhirnya memutuskan untuk hengkang pada musim panas ini ke Los Angeles Galaxy.

Penolakan Terakhir Sang Kapten

Sepanjang kariernya, Gerrard selalu menolak untuk menyerah. Ia menolak untuk hengkang demi uang atau trofi, ia menolak menyerah ketika situasi memaksanya untuk angkat tangan, dan ia menolak untuk melepaskan seragam merah kebanggaannya.

Penolakan-penolakan Gerrard itu selalu membuatnya bertahan di Anfield, dan dalam hatinya ia pasti tahu dirinya tidak akan mampu mengangkat trofi Liga Primer bersama klub Merseyside tersebut.

Namun penolakannya untuk melepaskan seragam merah dan duduk di bangku cadangan, akhirnya menjadi akhir dari berbagai penolakannya untuk menyerah.

Untuk kali pertama, Steven Gerrard menyerah pada situasi dan berpikir kenangannya bersama Liverpool harus berakhir.

"Keputusan untuk pergi datang karena saya tidak ingin menjadi pemain cadangan. Ketika Anda mempersiapkan diri untuk pertandingan dan besoknya tidak terlibat, semangat Anda akan hilang, khususnya ketika Anda telah begitu lama menjadi pemain reguler," ujar Gerrard seperti yang dilansir Liverpool Echo.

Setelah 17 tahun tetap bertahan dengan penolakan, Gerrard akhirnya mengatakan tidak dan berakhirlah perjalanan sang kapten fantastis.

Akhir perjalanan yang mungkin tidak sesuai dengan bayangan sang kapten. Tidak dengan cara mendapatkan kartu merah saat menghadapi Manchester United, atau jelas dengan musim tanpa trofi ketiga beruntun bagi The Reds.

Tetapi Gerrard tetap memberikan penolakan terakhirnya. Ia menolak untuk menyesal.

Ayah dari tiga anak itu menolak untuk menyesali keputusannya untuk menampik klub-klub besar Eropa, menolak untuk menyesali kegagalannya membawa Liverpool menjuarai Liga Champions, dan menolak untuk menyesali kenangannya bersama The Reds.

Hingga saat-saat terakhir, bagi Gerrard hidupnya adalah Liverpool, dan saat ini seluruh suporter Liverpool ada di belakangnya.

Itulah Steven Gerrard. Sang kapten yang dengan bangga mengenakan seragam merah Liverpool di antara kebanggaan, kesuksesan, dan 1001 celaan yang menghampiri.

Selamat tinggal Gerrard. You'll Never Walk Alone! (vws)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS