Dika Dania Kardi
Lulusan Ilmu Jurnalistik di Universitas Padjadjaran. Mengawali karier wartawan profesional bersama surat kabar Media Indonesia. Kini menjadi jurnalis untuk CNN Indonesia.

Penutupan Tiga Gelar Juara dan Air Mata Xavi

Dika Dania Kardi, CNN Indonesia | Sabtu, 06/06/2015 19:54 WIB
Penutupan Tiga Gelar Juara dan Air Mata Xavi Xavi pertama kali menangis saat laga terakhir Barcelona dalam pertandingan La Liga di Camp Nou, 23 Mei 2015. (Reuters/Albert Gea)
Jakarta, CNN Indonesia -- Final Liga Champions akhir pekan ini melawan Juventus merupakan penutup kompetisi musim ini. Jika Barcelona berhasil memenangkanya, trofi ketiga musim ini pun akan diarak di kota Katalonia tersebut.

Lionel Messi akan mengajarkan kepada dua rekannya di lini depan, Luis Suarez dan Neymar Jr, pengalaman merayakan trofi Liga Champions bersama warga Katalonia, para pendukung Barcelona.

Trofi 'Si Kuping Besar' itu pun akan diarak keliling kota Barcelona sebelum berakhir di Stadion Camp Nou yang menjadi kebanggaan tim dengan julukan Blaugrana tersebut.


Bagi Xavi Hernandez, 35, sambil menyanyikan 'ole-ole campione', ia mungkin akan meneteskan air mata haru. Xavi yang berjingkrak-jingkrak diapit rekannya untuk merayakan kemenangan trofi itu memang tak akan bermain untuk Barcelona lagi sejak musim depan.

Xavi sudah mengucapkan perpisahan kepada publik Camp Nou usai musim La Liga. Ia tak kuasa menahan tetesan air mata saat bertutur kata menyampaikan pidato perpisahan terhadap pendukung klub yang ia bela seumur karier sejak junior tersebut, klub kebanggaan daerah kelahirannya.

Kali kedua, Xavi menangisi perpisahannya dengan Barca di malam gala yang digelar manajemen Azulgrana khusus untuk dirinya di Auditori 1899, Rabu (3/6). Dan tentunya menarik menunggu tangisan ketiga Xavi setelah mengangkat trofi Liga Champions akhir pekan ini.

Xavi, sang kapten itu pun memberikan hadiah yang indah bagi Barcelona di musim terakhirnya. Ole-ole campione, sebuah warisan yang indah dari sang playmaker.

Senyum pun mengembang di bibir Andres Iniesta, duet Xavi di lini tengah dan juga wakilnya sebagai kapten Barcelona. Iniesta akan mewarisi ban kapten itu secara penuh mulai musim depan.

Xavi pribadi mengakui Sergio Busquets yang ditakdirkan jadi pengganti kepemimpinannya. Seperti Carlos Puyol yang mewariskan ban kapten kepada Xavi.

Tak hanya Xavi, trofi Liga Champions sebagai piala ketiga Barcelona musim ini pun akan menjadi kado perpisahan bagi Dani Alves yang tampaknya sudah malas memperpanjang kontrak.

Inilah tangisan kedua Xavi Hernandez dalam acara perpisahan yang digelar di Auditori 1899, Stadion Camp Nou, Barcelona, 3 Juni 2015. (Reuters/Gustau Nacarino)

Modifikasi Tiki-Taka Enrique

Motor strategi Barcelona masih terletak pada penguasaan bola yang mendominasi pertandingan. Umpan-umpan ringkas namun berkesinambungan alias tiki-taka itu masih menjadi kunci permainan Barcelona, termasuk di bawah asuhan Luis Enrique.

Enrique, mantan gelandang Barcelona, yang melatih tim itu sejak awal musim ini tidak serta merta mengadopsi total tiki-taka yang menjadi roh permainan.

Xavi, sang playmaker pun kerap dibangkucadangkan dan tanggung jawabnya diembankan kepada pemain yang lebih muda, Ivan Rakitic, 27. Rakitic dipadupadankan dengan mitra Xavi yaitu Sergio Busquets dan Andres Iniesta.

Rakitic yang dibeli dari Sevilla itu menjadi sumber aliran bola deras ke depan yang diisi trio latino, Lionel Messi, Luis Suarez, dan Neymar Jr. Hasilnya? Trio MSN menjadi trisula lini serang yang tersubur di Spanyol dalam kompetisi musim ini yaitu 120 gol.

Tim Barcelona terlalu sempurna dengan rotasi-rotasi cerdas yang dilakoni Enrique. Di lini depan, ketika Trio MSN buntu, Enrique masih punya produk binaan La Masia yang wahid yakni Pedro. Kemudian di tengah masih ada Rafinha dan Sergi Roberto. Dan, di belakang masih ada Bartra, Mathieu, Montoya, dan Adriano.

Eksplosivitas Messi dkk, serta kemauan para pemain lini depan untuk turun ke bawah membantu pertahanan seperti ditunjukkan Suarez dan Messi, akan menjadi kunci kesuksesan Barcelona meraih treble. Dan, jangan dilupakan pula bakat-bakat ajaib dari kaki-kaki pemain Barcelona.

Namun, mereka harus tetap mewaspadai integritas dan semangat bertanding--serta keberuntungan--tim Nyonya Tua. Jika Juventus bisa diredam, gawang Buffon bisa dijebol---apalagi setelah bek tengah Giorgio Chiellini dipastikan absen karena cedera--di akhir pertandingan pun Xavi bisa kembali mengangkat trofi.

Trofi yang menutup musim ini dan karier Xavi di Barcelona. Dan, mungkinkah Xavi meneteskan air mata lagi? (vri)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS