"Insya Allah," kata Jumadi saat dikonfirmasi CNN Indonesia tentang penunjukkannya sebagai juru adil di partai pamungkas tersebut.
Menghadapi laga yang akan disaksikan jutaan penggemar sepak bola di seluruh Indonesia itu, Jumadi mengaku tak memiliki persiapan khusus. "Kalau sepak bola itu yang penting pemain nendang bola, kiper megang bola," ujarnya berseloroh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau terlalu diforsir, nanti malah drop waktu di final," katanya. (Baca Juga: Sebelum Final, Wasit Kantongi Nama Pemain Nakal)
Dari kapasitas Stadion GBK 80 ribu penonton, panitia penyelenggara telah memutuskan untuk menggunakan 60 ribu kursi. Mayoritas akan terisi oleh pendukung Persib yang datang dari berbagai daerah di Jawa Barat.
Sebagai wasit yang malang melintang di dunia sepak bola Indonesia, Jumadi bukan sekali dua kali memimpin laga di hadapan puluhan ribu bobotoh -- sebutan untuk pendukng Persib. Terakhir kali adalah ketika ia menjadi wasit di partai leg kedua perempat final Piala Presiden antara Persib dan Pusamania Borneo FC. Di laga itu ia menerima teriakan penonton karena mengusir keluar penyerang Persib, Ilija Spasojevic.
Menurut Jumadi, ia tak gentar dengan intimidasi penonton berupa sumpah serapah. Baginya, cacian justru menjadi 'seni' untuk seorang wasit sehingga ia akan lebih bersemangat jika mendengarnya.
Memimpin laga di GBK, stadion yang jarak antara penonton dengan lapangan lebih jauh ketimbang stadion lainnya, dianggap kurang berseni karena ia tak bisa mendengar teriakan penonton.
"Kalau di Bandung dan Samarinda saya bersemangat, karena sumpah serapah penonton terdengar," kata Jumadi sembari tertawa berkelakar. "Kalau di GBK jaraknya terlalu jauh sehingga suara penonton tidak terdengar."
"Tapi ya, yang penting semuanya sesuai peraturan saja."
(vws/vws)