Bakat sepak bolanya kemudian dipoles oleh Indonesia Football Academy (IFA) bentukan Badan Timnas Nasional PSSI pada tahun 2011. "Dari situ mulai serius untuk bermain sepak bola," kata Yogi kepada CNNIndonesia.com.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, petinggi klub sepak bola Leicester itu hanya mengizinkan empat pemain terbaik masuk dalam seleksi akademi usia muda. Yogi menjadi salah satu pemain terbaik yang dipilih IFA bersama Moch Fahmi Al Ayyubi, Maldini Pali, dan Rico Adriyanto.
Sepulang dari Uruguay, talenta Yogi pun dilirik Mitra Kukar U-21 pada 2013. Ia turut andil mengantarkan Naga Mekes muda meraih runnerp Liga SUper Indonesia U-21.
Di musim berikutnya, Yogi pun mampu menembus tim utama Mitra. Sebelum mencuri kepercayaan Jafri Sastra, pemain kelahiran Palembang itu sempat dipuji pelatih Mitra di ajang pramusim, Scott Cooper (Inggris).
Kecepatan Yogi pun menjadi taktik jitu Jafri Sastra untuk memecah kebuntuan. Strategi pelatih asal Minang untuk menempatkan Yogi sebagai supersub di turnamen PJS berbuah manis.
Penyerang sayap 20 tahun itu menjadi pahlawan dengan mencetak gol kemenangan Mitra 2-1 atas Semen Padang di pengujung laga final PJS.
Yogi berharap karier sepak bolanya tidak berhenti sebatas turnamen. "Saya ingin secepatnya kondisi sepak bola Indonesia baik kembali dan bisa berkembang lebih baik lagi di level kompetisi reguler," ujarnya. (jun/jun)