Ada dua alasan utama yang disampaikan Fakhri dalam surat tersebut, yakni pertimbangan pekerjaannya dan keluarga.
Fachri sendiri mengaku gerah dengan situasi tak kondusif yang terjadi di induk sepak bola Tanah Air belakangan ini. Fakhri memang yang paling kecewa berat ketika timnas U-17 dan U-19 yang sudah dipersiapkannya dengan susah payah, gagal tampil lantaran PSSI dibekukan pemerintah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
PSSI memang sudah lepas dari sanksi pembekuan Kemenpora RI dan FIFA. Timnas Indonesia di setiap jenjang usia juga akhirnya bisa tampil di turnamen internasional resmi di bawah FIFA.
Kendati demikian, Fachri tetap cemas kejadian berulang lagi, ricuh di federasi yang kembali mengorbankan timnas. "Sekarang kita lihat saja, setelah konflik dengan pemerintah, kini di tubuh PSSI sendiri mulai konflik," ujarnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah besar anggota dan pemilik suara PSSI memang menuntut Kongres Luar Biasa (KLB). Tujuannya untuk melengserkan La Nyalla Mattalitti, yang sebelumnya dibela habis-habisan sebagai Ketua Umum PSSI.
"Sudah cukup bagi saya, sampai situasinya benar-benar kondusif dan tak ada lagi konflik seperti ini yang sangat melelahkan semua orang," tukas Fachri.
Ia juga mempertanyakan keputusan Komite Eksekutif (Exco) PSSI yang dianggapnya tak etis dalam menunjuk dirinya untuk melatih timnas U-19. "Saya ditunjuk jadi pelatih timnas tanpa ada komunikasi terlebih dahulu dengan saya," kata Fachri.
"Tiba-tiba diumumkan saja kepada media, tanpa ada pemberitahuan kepada saya. Apa cara ini etis?" (bac)