Sejak kali pertama digelar pada 1916, 14 tahun sebelum FIFA berdiri, Copa America dikenal sebagai salah satu turnamen paling tidak konsisten penyelenggaraannya. Sempat digelar satu tahun sekali di awal diselenggarakan, perhelatan Copa America terus tidak konsisten.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 1989, CONMEBOL mengubah Copa America menjadi turnamen dua tahunan. CONMEBOL kemudian menjadikan Copa America menjadi turnamen tiga tahunan sejak 2004.
Namun, CONMEBOL terlihat tidak pernah percaya diri dengan nilai jual Copa America. Setelah Copa America 2007 di Venezuela, Copa America selanjutnya seharusnya digelar pada 2010. Namun, CONMEBOL tidak berani menggelar turnamen di tahun yang sama dengan Piala Dunia 2010. Copa America pun diundur ke 2011.
Jika digelar 2011, maka turnamen Copa America selanjutnya digelar 2014. Tapi, lagi-lagi CONMEBOL mengundurnya ke 2015 setelah FIFA kembali menggelar Piala Dunia pada 2014. Kini kurang dari satu tahun, CONMEBOL memutuskan kembali menggelar Copa America Contenario di Amerika Serikat.
Kurang Menjanjikan
Banyak hal yang menjadi pertimbangan CONMEBOL terus mengubah jadwal Copa America. CONMEBOL sepertinya menyadari Copa America kalah bersaing dalam perebutan sponsor dengan ajang internasional lainnya, bahkan dengan Olimpiade.
Meski diikuti sejumlah pemain terbaik dunia, bahkan Lionel Messi dan Neymar, Copa America tidak terlalu diminati dari segi hak siar. Di Asia contohnya, khususnya Asia Tenggara, pertandingan Copa America biasanya digelar saat orang-orang sedang berada di kantor.
Faktor lainnya adalah, sebagian besar pemain bintang tidak akan dalam kondisi segar menjalani turnamen setelah tampil satu musim penuh bersama klub-klub Eropa.
Untuk mengantisipasi kelelahan pemain, CONMEBOL memutuskan pertandingan perempat final dan semifinal Copa America Centenario akan langsung ke adu penalti jika kedua tim bermain imbang di 90 menit laga. (har)