Tanpa adanya nama-nama yang familiar tersebut, publik Istora tetap bisa bersorak meriah. Ada nama Jonatan Christie, Ihsan Maulana Mustofa, Anggia Shitta, Ni Ketut Mahadewi, Rizki Amelia Pradipta, Tiara Rosalia, Alfian Eko Prasetya, hingga Annisa Saufika yang menggema di Istora.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Jojo bisa! Jojo pasti bisa!!”
“Jojo bisa! Jojo pasti bisa!!”
Hasil akhir di Jumat petang memang kurang menggembirakan. Jonatan, Anggia/Ni Ketut, Tiara/Rizki, dan Alfian/Annisa tumbang dengan cara yang menyakitkan. Mereka berpeluang menang sebelum akhirnya terjengkang. Menyisakan Ihsan berdiri sendiri di babak semifinal.
Hijau, minim jam terbang, dan kurang ketenangan. Hal-hal itulah yang melambung jadi sebab kegagalan para pemain muda menembus babak semifinal.
Kekalahan di perempat final kemarin memang menyesakkan, namun juga menjadi sebuah peringatan berharga.
“Kami mendapat pelajaran bahwa dalam situasi genting, fokus kami harus tetap dijaga dan harus tetap tampil tenang.” kata Tiara.
“Saya bermain bagus namun gagal melakukan penyelesaian akhir dengan baik,” tutur Jonatan.
Cepat atau lambat, nama-nama seperti Hendra dan Liliyana pasti akan menghilang dariIstora lantaran mereka bakal gantung raket dan meninggalkan gemerlap lapangan serta keriuhan arena.
Publik Istora harus menguatkan hati untuk tak lagi meneriakkan nama mereka. Pada tahun-tahun mendatang, suara-suara di dalam Istora bakal berganti menyerukan nama Jonatan, Ihsan, dan kawan-kawan seperti yang terjadi pada Jumat petang.
Berkaca pada hal itu, maka pemain muda Indonesia bertugas untuk bisa memastikan nama-nama mereka terus diteriakkan, bukan hanya hingga babak perempat final seperti tahun ini, melainkan hingga mereka berdiri di podium juara saat turnamen berakhir. (ptr)