DUA DEKADE ARSENE WENGER

'The Invincible Arsenal', Mahakarya Arsene Wenger

Putra Permata Tegar Idaman | CNN Indonesia
Kamis, 22 Sep 2016 11:05 WIB
Arsene Wenger mungkin tak lagi sepenuhnya dapat dukungan, namun mahakarya 'The Invincibles Arsenal' di musim 2003/2004 tak terlupakan. Arsenal musim 2003/2004 tak akan mungkin dilupakan karena berhasil menjadi juara liga tanpa terkalahkan. (AFP PHOTO / ODD ANDERSEN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menjadi juara Liga Inggris adalah salah satu pekerjaan yang sulit dan berhasil memenangi Liga Inggris tanpa terkalahkan merupakan pekerjaan yang jauh lebih rumit. Tetapi Arsenal 2003/2004 sukses melakukan hal tersebut dengan sangat baik.

Arsenal tak terlihat agresif di bursa transfer musim panas 2003/2004. Pembelian besar mereka ada pada sosok Jose Antonio Reyes yang tampil gemilang di Sevilla dan kiper veteran Jerman, Jens Lehmann yang didapat dengan harga murah.

Selebihnya, Arsene Wenger lebih menitikberatkan pembelian pada pemain muda seperti Gael Clichy, Cesc Fabregas, dan Robin van Persie.


Wenger tak melakukan perombakan besar-besaran. 'The Professor' percaya tim terbaik miliknya yang sudah jadi juara di dua musim sebelumnya. Ia hanya melakukan sedikit perbaikan dan kedatangan Lehmann plus Reyes terbukti memberikan dampak signifikan.

Arsenal mengantongi 26 kemenangan plus 12 hasil seri di musim 2003/2004. (AFP PHOTO / ADRIAN DENNIS)

Materi tim Arsenal tak dominan dibandingkan tim lain karena Chelsea juga tengah membangun dinasti baru dan Manchester United sebagai juara bertahan memiliki tim yang tak kalah hebat.

Namun Arsenal sukses menunjukkan bahwa merekalah yang tak memiliki cela di musim itu. Tak ada satu pun tim yang berhasil membuat Arsenal tertunduk meratapi kekalahan di Liga Inggris sepanjang musim itu.

Diawali gol penalti Henry ke gawang Everton, parade kesempurnaan Arsenal di musim 2003/2004 pun dimulai.

Dalam keberhasilan Arsenal membukukan 26 kemenangan plus 12 kali hasil imbang, terdapat sejumlah momen menarik yang patut untuk diingat.

Mulai dari gol bunuh diri konyol Lauren Etamemayer saat menghadapi Manchester City, penalti panenka Henry saat berduel lawan Newcastle, solo run Dennis Bergkamp ke gawang Birmingham City, hingga keberhasilan Reyes merebut bola dari kaki Edwin van Der Sar saat berhadapan dengan Fulham.

Arsenal musim itu memang memukau. Kedatangan Lehmann berhasil membuat Arsenal melupakan rasa kehilangan David Seaman.

Lini belakang Arsenal makin kokoh dengan paduan muda-tua antara Kolo Toure-Sol Campbell sebagai palang pintu pertahanan.

Kolo Toure berhasil mengimbangi Sol Campbell dan menciptakan duet tangguh di lini belakang. (AFP PHOTO/Jim Watson)


Duo fullback Arsenal, Lauren dan Ashley Cole sukses menunjukkan level terbaik mereka di musim tersebut. Lauren dan Cole aktif membangun serangan sehingga tekanan 'The Gunners' semakin gencar.

Di lini tengah, Patrick Vieira dan Gilberto Silva benar-benar menghadirkan keseimbangan, sedangkan Robert Pires dan Fredrik Ljungberg adalah dinamo serangan yang rajin memberikan tusukan dari berbagai sisi.

Raja Arsenal, Thierry Henry berdiri sebagai ujung tombak didampingi striker idola publik Highbury, Dennis Bergkamp.

Cara main Henry dan Bergkamp yang tak terikat pada posisinya, membuat lini pertahanan lawan makin kesulitan menerapkan penjagaan.

Arsenal bisa tiba-tiba memiliki 6-7 pemain di sekitar kotak penalti karena Cole, Lauren, Pires, Ljungberg, hingga Vieira, bisa ikut maju mendampingi Henry dan Bergkamp.

Henry dan Bergkamp pun tak melulu ada di kotak penalti menunggu umpan, karena mereka bisa bergerak dari sisi luar dan memberikan bola matang pada Pires, Ljungberg, atau pemain lainnya yang ada di muka gawang.

Saat bertahan, para pemain penyerang pun tak sungkan jadi baris pertama yang membendung serangan lawan. Alhasil, Arsenal mampu menjaga keseimbangan saat menyerang maupun bertahan.

Salah satu insiden yang patut dikenang di musim 2003/2004 saat Patrick Vieira mendapatkan kartu merah melawan Manchester United. (AFP PHOTO / PAUL BARKER)

Kedalaman skuat Arsenal di musim itu pun terbilang sangat bagus. Nama pemain seperti Edu, Reyes, Ray Parlour, hingga Sylvain Wiltord memiliki kualitas yang tak kalah dengan pasukan yang sering mengisi formasi inti.

"Kuncinya adalah kebersamaan. Satu hal yang saya suka dari tim itu adalah tak ada ego dalam diri masing-masing pemain."

"Kami akan memberikan umpan pada pemain yang lebih baik posisinya untuk melakukan tembakan. Itulah mengapa Pires tak ragu memberikan umpan pada saya, begitu juga saya kepada Pires, Bergkamp, Ljungberg, dan lainnya," ucap Henry.

Di laga terakhir saat Arsenal menghadapi Leicester City dan sudah memastikan gelar di tangan, Arsenal sempat tertinggal 0-1 lewat gol Paul Dickov.

Namun penalti Henry di menit ke-47 dan aksi Vieira melewati kiper Leicester, Ian Walker, dan menceploskan bola ke gawang yang kosong memastikan Arsenal tak pernah menelan kekalahan di musim itu.

"Untuk bisa tak terkalahkan dalam kompetisi seperti Liga Inggris benar-benar luar biasa."

"Saya ingin menjadi juara Liga Inggris, namun catatan ini lebih penting. Apa yang kami dapatkan sangat luar biasa dan spesial," ujar Wenger setelah memastikan timnya mengakhiri musim tanpa pernah kalah.

Lebih dari satu dekade, ternyata gelar di 2003/2004 jadi gelar terakhir yang didapatkan Arsenal dan Wenger di kompetisi Liga Inggris. Pujian dan sanjungan mulai berganti dengan kritikan dan makian.

Bagaimanapun, 'The Invincibles' Arsenal 2003/2004 adalah mahakarya Wenger. Tim tersebut bisa diajukan dan diperdebatkan dengan tim lain yang mengaku tim terbaik dalam sejarah Liga Inggris.

"Mungkin ada tim lain yang bisa menyamai catatan kami di masa depan, namun tetap, kami adalah tim pertama yang melakukan hal itu di era modern," kata Henry. (ptr/ptr)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER