Hal ini disampaikan mantan atlet yang kini menjadi pemerhati olahraga, Krisna Bayu. Menurutnya, masing-masing daerah bisa memiliki konsep yang lebih baik untuk menghargai para atlet berprestasinya.
"Iming-iming bonus itu membuat atlet dan juga pelatih --yang juga akan mendapatkan bonus kalau atlet mendapatkan emas-- berpikir untuk menjadi juara dengan segala cara dan pada akhirnya mengesampingkan nilai sportivitas," kata Krisna saat dihubungi CNNIndonesia.com.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbagai teriakan ketidakpuasan pada keputusan wasit kerap terdengar di arena cabang bela diri, mulai dari judo, karate, gulat, hingga tinju. Bahkan, Ketua Umum PB Forki, Gatot Nurmantyo, juga sempat tidak mau mengalungi medali kepada pemenang dan memberikan jempol terbalik kepada wasit seraya meninggalkan lokasi pertandingan.
Lihat juga:Catatan-catatan Kericuhan PON Jabar 2016 |
"Itu cara panitia ngeles karena tidak ingin menimbulkan keributan. Itu adalah cara yang salah," kata pria 41 tahun itu sembari menegaskan bahwa ada mekanisme banding yang bisa digunakan oleh masing-masing kontingen jika ingin melakukan protes.
Ke depannya, Krisna menyarankan agar masing-masing daerah tak lagi menggunakan bonus sebagai cara untuk merangsang prestasi atlet. Menurutnya, bonus hanya sesuai untuk atlet yang memiliki prestasi di level internasional.
"Pemerintah daerah seharusnya menganggap atlet itu aset daerah, mereka seharusnya mendirikan pusat latihan, dan menjamin pendidikan atlet, selain juga menanggung uang saku. Bukan bonus, tapi sesuatu yang bersifat jangka panjang," ujar Krisna.
"KONI Daerah seharusnya duduk dengan pengurus cabang olahraga, dan pemerintah daerah dan memikirkan perjanjian dengan atlet seperti apa. Berikan juga mereka wawasan dan pemahaman soal sebenarnya olahraga prestasi itu seperti apa."
(vws)