Para peserta berasal dari ratusan sekolah yang berasal dari wilayah Jakarta mengeluhkan pelayanan panitia yang kurang maksimal. Tiap sekolah mengirimkan perwakilan sebanyak 10 murid.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Senada, Iskandar (44) yang merupakan staf tata usaha dati SMP 233 Cibubur menilai, acara pemecahan rekor tersebut tidak fokus lantaran terlalu banyak diselingi acara hiburan. "Kurang efektif, kami terlalu lama menunggu. Pendataan peserta juga kurang diatur dengan baik," katanya.
Untuk membuat egrang, pihak sekolah SMP Taman Siswa Kemayoran mengeluarkan total biaya Rp980 ribu.
"Kami datang dari pukul 05.30 WIB, ternyata mulai pukul 10.00 WIB lewat. Anak-anak sudah tunggu terlalu lama dan lelah. Akan tetapi, kami bahagia bisa berpartisipasi," ucap Sri.
Hingga pukul 11.30 WIB, pemecahan rekor egrang masih belum selesai. Padahal, sebelumnya pihak sekolah diberitahukan acara selesai maksimal pukul 11 siang.
Rombongan SMP Taman Siswa Kemayoran dan SMPN 233 Cibubur pun memutuskan untuk pulang lebih dulu, mengingat kondisi fisik anak-anak semakin menurun diselingi hujan.
Tak sedikit anak-anak di sana yang kelaparan lantaran tidak disediakannya makan siang dari pihak panitia. Mereka hanya diberikan camilan di pagi hari.
Akhirnya, pemecahan rekor dunia berjalan di atas egrang sejauh 100 meter pun gagal karena tidak melewati rekor yang dicatat Belanda sebelumnya yakni 959 peserta pada 16 September 2011 silam. (jun)