Mencari Jejak Timnas Brasil Terhebat Sepanjang Masa

AFP/TIti Fajriyah , CNN Indonesia | Minggu, 30/10/2016 20:45 WIB
Mencari Jejak Timnas Brasil Terhebat Sepanjang Masa
Jakarta, CNN Indonesia -- Brasil dikenal sebagai negara sepak bola yang melahirkan banyak pemain hebat. Tapi, kenangan besar saat menjuarai Piala Dunia 1970 tak mungkin terhapuskan. Bahkan, skuat yang mengisi timnas di 1970 merupakan yang terbaik sekaligus mencatatkan kemenangan terhebat Brasil sepanjang masa -- menghabisi Italia 4-1 di partai pamungkas.

Sayang, beberapa nama besar yang mengisi skuat emas Brasil itu tutup usia satu-persatu seiring bertambahnya usia. Seperti Carlos Alberto yang wafat, Selasa (25/10) karena penyakit jantung yang dideritanya.

Berikut daftar timnas Brasil di Piala Dunia 1970 berserta kariernya usai pensiun dari sepak bola:  

1. Felix

Sang kiper, Felix merupakan pahlawan saat Brasil unggul 4-1 atas Italia di final. Ia pernah membela Brasil lebih 40 kali dan merebut lima gelar nasional bersama klub Fluminese.

Pensiun dari sepak bola, ia kemudian menjadi seorang pedagang mobil dan lemari es. Kebiasaan merokoknya membuatnya mengidap emfisema dan meninggal pada 2012 saat usianya 74 tahun.

2. Carlos Alberto

Nama Alberto kian bersinar tatkala melesatkan gol ajaib keempatnya di final. Kenangan itu akan jadi sejarah buat Alberto yang meninggal karena serangan jantung di usianya yang ke-72, Selasa (25/10).

Alberto yang menjadi bek kanan dan kiri Santos pada tahun 1974 itu sempat kembali ke klub pertamanya, Fluminense, sebelum akhirnya bergabung dengan Flamengo. Ia melangkahkan kakinya keluar Brasil saat memutuskan bergabung dengan New York Cosmos bersama Pele.

Setelah bekerja sebagai pelatih di Brasil, Meksiko, Kolombia, Nigeria dan Azerbaijan, ia pensiun pada tahun 2005 dan menjadi pengamat di sebuah stasiun televisi. Kepergiannya menyisakan memori yaitu ketika ia dinobatkan sebagai 'kapten abadi'.

3. Hercules Brito

Bek tengah bertubuh jangkung ini memiliki temperamen yang tinggi yang mampu ia kendalikan saat tampil di putaran final Piala Dunia. Ia pernah membela Brasil 45 kali di antara musim 1964 dan 1972.

Semasa hidupnya, ia pernah bermain untuk sekitar 10 klub yang berbeda - termasuk Vasco da Gama, Flamengo dan Corinthians serta klub di Kanada dan Venezuela sebelum akhirnya memutuskan pensiun di usia 40 tahun pada 1979.

Sejak itu, namanya meredup dan jauh dari jangkauan publik sepak bola dunia.

4. Wilson Piazza

Piazza bermain untuk Cruzeiro antara 1964 dan 1979. Ia 47 kali tampil untuk Brasil termasuk pada Piala Dunia 1970.

Namun, sebenarnya ia juga tampil di final 1974, tapi dengan komposisi pemain yang berbeda dan kiprahnya tidak seharum ketika tampil di 1970.

Setelah pensiun, Brito kemudian membangun sebuah rantai pompa bensin dan mencoba untuk masuk ke politik lokal.

5. Everaldo

Everaldo adalah sosok bek kiri yang tangguh dan berbakat. Meski ia pernah menjadi pemain internasional yang mewakili Brasil sejak 1967, pelatih Mario Zagallo memberi Everaldo kesempatan besar di final Piala Dunia 1970.

Everaldo memenangi 24 caps hingga 1974 dan hanya kalah sekali. Ia mencoba memasuki politik setelah pensiun namun tewas dalam kecelakaan mobil bersama istri dan seorang putrinya pada Oktober 1974.

6. Clodoaldo

Clodoaldo menjadi inspirasi kebangkitan Brasil ketika mereka sempat tertinggal dari Uruguay di semifinal, tapi kembali bangkit untuk menang 3-1. Ia juga menggiring bola bersama empat pemain Brasil lainnya saat membangun serangan yang berbuah gol Carlos Alberto di final. Ia bermain di Santos dengan Pele.

Sejak berhenti bermain sepak bola, Clodoaldo telah berkecimpung dalam bisnis properti sambil tetap menjadi direktur Santos dan penasehat tim nasional Brasil.

7. Gerson

Meskipun Carlos Alberto adalah kapten, Gerson adalah dalang di lini tengah timnas Italia 1970 yang dikenal sebagai "The Parrot" karena ia tidak pernah berhenti berbicara di lapangan.

Gerson pernah bermain 70 kali untuk Brasil termasuk di tahun 1966 dan 1970 kala tampil di Piala Dunia. Setelah pensiun, ia mulai kiprahnya di sebuah lembaga sosial untuk membantu anak-anak miskin dan kemudian menjadi pengamat sepak bola di radio dan televisi.

8. Rivelino

Pemain yang berposisi sebagai sayap kiri ini terkenal karena kumisnya. Ia juga lihai dalam menggiring bola - dijuluki 'Elastico' - selama 20 tahun kariernya di dunia sepak bola.

Sepanjang bermain, ia tercatat sudah mengemas 92 pertandingan internasional dan hampir 700 kali tampil untuk Corinthians, Fluminense serta Al Hilal di Arab Saudi. Ia mencetak tiga gol di final tahun 1970 final termasuk lewat tendangan bebas yang luar biasa saat melawan Cekoslowakia.

Rivelino juga bermain di final Piala Dunia 1974 dan 1978 dan masih menjadi komentator sepak bola dengan sesama legenda, Zico.

9. Pele

Bagi banyak orang, pemain sepak bola terhebat yang terkenal dengan tendangan meliuknya adalah Pele. Ia mencetak satu dari empat gol di final tahun 1970 dan menciptakan salah satu tendangan melegenda. Ia dinobatkan sebagai pemain terbaik dengan meraih tiga trofi piala dunia.

Setelah menyelesaikan kariernya bersama New York Cosmos, Pele tampil sebagai Menteri Olahraga serta duta PBB di balik perusahaan besarnya.

Kini, di usianya yang mencapai 72 tahun, kondisinya cukup mengkhawatirkan. Beberapa bulan terakhir ia sakit dan sering keluar-masuk rumah sakit. Ia pun harus berjalan dengan tongkat.

10. Tostao

Tostao merupakan penyerang asal Brasil yang cukup ditakuti pada masanya. Sayang, ia tak mampu menjawab tantangan di 1970 setelah cedera di bagian mata yang membuat retinanya rusak ketika wajahnya terkena bola.

Ia menjalin hubungan yang brilian dengan Pele sebelum pensiun pada tahun 1973 di usianya yang masih 26 karena masalah mata. Saat ini Tostao menjadi dokter tetapi juga wartawan olahraga yang dihormati.

11. Jairzinho

Jairzinho adalah pencetak gol terbanyak Brasil di Piala Dunia 1970 lewat tujuh gol dari enam pertandingan. Ia juga menjadi satu-satunya pemain tak pernah absen mencetak gol di setiap pertandingan dari putaran final Piala Dunia.

Ia mencetak 33 gol dalam 81 pertandingan internasional dan bermain lebih dari 400 pertandingan untuk Botafogo sebelum pindah ke Marseille di Prancis. Setelah gantung sepatu, ia mencoba untuk menjadi walikota Rio de Janeiro tapi pencalonannya dibatalkan karena ia tidak membayar biaya.

Ia juga melatih pemain muda dan berhasil menemukan bakat Ronaldo pada 1990-an.