Penjelasan Soal Simpang Siur Bobot Piala AFF di Mata FIFA

Ahmad Bachrain, CNN Indonesia | Jumat, 23/12/2016 13:57 WIB
Penjelasan Soal Simpang Siur Bobot Piala AFF di Mata FIFA Tak ada perubahan bobot pertandingan meski disebutkan status turnamen Piala AFF 2016 naik. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Meningkatnya status Piala AFF 2016 di mata FIFA tampaknya masih mengundang kebingungan. Simpang siur yang terjadi ihwal perubahan status adalah soal bobot pertandingan di turnamen tersebut.

Sempat ada kesalahan persepsi terkait bobot lantaran media-media internasional seperti Fox Sports Asia melansir bahwa status turnamen itu berubah dari pertandingan persahabatan menjadi turnamen kategori A.

Sebelumnya CNNIndonesia.com melansir berita dengan judul 'Bobot Poin Piala AFF', 'Ranking Indonesia Bisa Meroket', disebutkan bahwa diasumsikan bobot laga itu naik dari laga persahabatan menjadi bobot di atasnya.


Bobot laga persahabatan yang ditetapkan FIFA sendiri sebesar 1 poin. Sementara bobot di atasnya adalah 2,5 poin. Namun, kenyataannya bobot tersebut tetap dihitung sebagai laga persahabatan internasional.

CNNIndonesia.com pun mencoba meluruskan bahwa kenaikan status Piala AFF 2016 hanya berubah dari laga persahabatan menjadi turnamen. Namun, poinnya tetap 1 untuk kategori persahabatan dan turnamen kecil.

Wakil Ketua Umum PSSI Joko Driyono juga membenarkan bahwa Piala AFF hingga saat ini masih tetap menggunakan poin laga persahabatan, hanya statusnya berganti menjadi turnamen kecil di edisi 2016. "Benar, edisi lalu Piala AFF tetap dihitung," ungkap Joko.

Artinya, perubahan itu hanya pada status turnamen, bukan pada bobot poin pertandingan.

Dalam rumus perhitungan FIFA untuk pemeringkatan asosiasi negara anggotanya, laga uji coba memang masuk dalam kategori bobot terkecil.

Sementara bobot terbesar adalah putaran final Piala Dunia dengan bobot 4,0 poin. Berikutnya adalah putaran final kompetisi tingkat putaran final turnamen level konfederasi macam Piala Asia dengan bobot 3,0.

Selanjutnya ada pula level kualifikasi Piala Dunia atau kualifikasi konfederasi dengan bobot 2,5 poin.

Sementara laga persahabatan atau turnamen-turnamen kecil lainnya dinilai dengan bobot pertandingan 1 poin, termasuk Piala AFF.

Status ini pun diperkuat pernyataan mantan Sekjen PSSI Azwan Karim. Menurutnya, AFF bukan merupakan bagian dari hierarki AFC sehingga turnamen yang diselenggarakan pun paling tinggi naik hingga di turnamen kecil atau persahabatan.

"Tidak mungkin juga bobotnya naik sampai di atas turnamen kecil atau laga persahabatan karena AFF tidak memiliki hierarki ke AFC dalam strukturnya," Azwan menerangkan.

Penjelasan Soal Simpang Siur Bobot Piala AFF di Mata FIFAPeringkat Indonesia terkini dalam perhitungan FIFA. (fifa.com)


Nah, kenaikan Indonesia yang melesat jauh hingga delapan peringkat bukan karena bobot kompetisi naik lantaran bobotnya tetap 1.

Timnas Indonesia melejit lantaran mampu mendulang bobot sangat besar karena peringkat FIFA lawan-lawan yang dihadapi Garuda di Piala AFF lebih tinggi.

Secara otomatis, bobot yang didapatkannya pun jadi lebih besar. Sebagai contoh adalah Vietnam yang kini berada di peringkat 134 memiliki bobot nilai 71. Timnas Indonesia meraih bobot maksimal dari Vietnam saat menang 2-1 pada leg kedua semifinal Piala AFF 2016 dan imbang 2-2 di leg kedua.

Semakin tinggi peringkat lawan yang dikalahkan atau minimal imbang, semakin besar poin yang didapat. (har)