Pelatih Persib, Djadjang Nurdjaman sangat antusias menyambut laga tersebut. Pasalnya, duel kedua tim dikenal sebagai laga klasik karena rivalitas keduanya sejak era Perserikatan. Namun, antusiasme Djadjang ternyata bukan hanya akibat rivalitas panjang kedua tim itu saja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu, selain PSMS, Mercu Buana, dan Pardedetex juga memakai Stadion Teladan sebagai home base. Ya, banyak kenangan yang saya alami di sana. Dulu itu, saya main di Mercu Buana waktu saya lagi bagus-bagusnya," ujar Djanur, Rabu (22/3).
"Iya, memang waktu itu istri selalu hadir ke stadion untuk menyaksikan pertandingan. Jadi, semakin berlipat motivasi untuk bermain bagus," ungkapnya.
Djanur bercerita, satu pengalaman lain yang tak bisa ia lupakan adalah sengitnya persaingan antara Mercu Buana dan Pardedetex, partai derbi Medan dalam ajang kompetisi Galatama kala itu, diakuinya selalu berlangsung panas. Tak jarang, para pemain kedua tim bersitegang di lapangan.
"Dulu memang seperti itu, pertandingan antara Pardedetex melawan Mercu Buana itu pasti berlangsung panas. Bahkan, para pemainnya sering ribut di lapangan. Tapi, saya tak pernah ikut-ikutan. Kalau ada ribut saya ke pinggir lapangan saja," ujar Djanur.
Saat itu, tembakan Djanur yang memanfaatkan umpan Adeng Hudaya menjadi gol semata wayang dalam partai puncak Perserikatan 1986 melawan Perseman Manokwari di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.