"Kendaraan saya adalah sepeda, (transportasi) gratis. Akomodasi saya adalah berkemah dan tinggal di rumah orang setempat, gratis juga. Ini berarti, biaya yang perlu saya keluarkan adalah untuk makan," tutur Josiah.
Josiah melewati jalanan di Tajikistan. (Courtesy of Josiah Skeats) |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di Eropa, saya mesti memasak, saya bawa kompor sendiri. Jadi saya banyak makan pasta, nasi, dan roti. Di Asia, pengeluaran untuk makan lebih murah, sehingga saya bisa makan di pinggir jalan," ujar Josiah.
Josiah bersama orang lokal sepanjang perjalanan dari Solo ke Surabaya. (Courtesy of Josiah Skeats) |
Josiah mengaku sepanjang perjalanannya dia paling suka masakan Indonesia dan India. Terkadang, Josiah juga diajak makan bersama oleh masyarakat setempat. Selain hemat finansial, Josiah juga harus hemat dalam mengganti pakaian. Dia mengaku hanya membawa tiga baju saja.
Josiah melewati jalanan di Tajikistan. (Courtesy of Josiah Skeats)
Josiah bersama orang lokal sepanjang perjalanan dari Solo ke Surabaya. (Courtesy of Josiah Skeats)
Josiah ketika sampai di Tajikistan. (Courtesy of Josiah Skeats)
Josiah mengaku terinspirasi Alastair Humphreys. (Courtesy of Josiah Skeats)
Josiah di Myanmar. (Courtesy of Josiah Skeats)
Josiah mengenakan batik ketika di Indonesia. (Courtesy of Josiah Skeats)
Josiah sudah lebih dari 600 hari bersepeda keliling dunia. (Courtesy of Josiah Skeats)
Josiah berpose dengan petugas pom bensin di Indonesia. (Courtesy of Josiah Skeats)