Kenyataannya, pendukung lokal lah yang membuat perjalanannya semakin berwarna. Setiap hari, Josiah bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang dan mendapat teman baru. Sangat berbeda dari pesan orang-orang di Inggris sebelum dia berangkat yang mengatakan bahwa dunia asing begitu berbahaya.
Josiah mengenakan batik ketika di Indonesia. (Courtesy of Josiah Skeats) |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Josiah bercerita sempat tidur di pos polisi, kuil Buddha, dalam sebuah truk di Kazakhstan, dan sebuah rumah bekas pemboman di Montenegro.
Josiah sudah lebih dari 600 hari bersepeda keliling dunia. (Courtesy of Josiah Skeats) |
"Tujuan utama saya bisa sampai di Australia. Sebentar lagi saya ke sana, dan saya masih penasaran dengan dunia ini. Jadi saya berpikir akan ke Amerika Selatan nanti!" ucap Josiah.
"Mungkin saya akan pergi dari rumah selama satu atau dua tahun lagi! Gila! Namun saya akan pulang dulu (ke Inggris) selama beberapa pekan. Belum ada rencana lagi setelah itu," ucapnya melanjutkan.
Josiah berpose dengan petugas pom bensin di Indonesia. (Courtesy of Josiah Skeats) |
"Saya juga berbagi tentang betapa mudahnya mencapai mimpi Anda sendiri, jadi saya bisa memotivasi dan menginspirasi orang lain untuk hidup dengan cara yang mereka inginkan," ucap Josiah.
Josiah mengenakan batik ketika di Indonesia. (Courtesy of Josiah Skeats)
Josiah sudah lebih dari 600 hari bersepeda keliling dunia. (Courtesy of Josiah Skeats)
Josiah berpose dengan petugas pom bensin di Indonesia. (Courtesy of Josiah Skeats)
Josiah ketika sampai di Tajikistan. (Courtesy of Josiah Skeats)
Josiah mengaku terinspirasi Alastair Humphreys. (Courtesy of Josiah Skeats)
Josiah di Myanmar. (Courtesy of Josiah Skeats)
Josiah melewati jalanan di Tajikistan. (Courtesy of Josiah Skeats)
Josiah bersama orang lokal sepanjang perjalanan dari Solo ke Surabaya. (Courtesy of Josiah Skeats)