Wawancara Eksklusif

Satria Tama, Dari Bulutangkis ke Timnas Indonesia

Arby Rahmat, CNN Indonesia | Kamis, 31/08/2017 08:14 WIB
Satria Tama, Dari Bulutangkis ke Timnas Indonesia Satria Tama berambisi menembus tim inti Timnas Indonesia senior. (CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama)
Kuala Lumpur, CNN Indonesia -- Kiper Satria Tama merupakan salah satu pemain Timnas Indonesia U-22 yang bersinar di SEA Games 2017. Dalam wawancara eksklusif dengan CNNIndonesia.com, kiper 20 tahun itu mengungkapkan cerita awalnya menjadi pesepakbola hingga tampil bersinar bersama Timnas Indonesia U-22.

Permainan impresif Satria Tama menjadi salah satu alasan Timnas Indonesia U-22 bisa meraih medali perunggu di SEA Games 2017. Sempat merasa diremehkan, Satria Tama berhasil menjawab kritikan.

Di balik penampilannya yang apik dalam SEA Games 2017, Satria Tama yang memperkuat klub Persegres Gresik United mengaku perjuangannya untuk bisa tampil bersinar bersama Timnas Indonesia U-22.

Berikut ini wawancara eksklusif CNNIndonesia.com bersama Satria Tama ketika ditemui di Royale Chulan Bukit Bintang, Malaysia:


Siapa yang menginspirasi Anda untuk menjadi pemain sepak bola?

Saya dulu bukan pemain bola, saya dulu pemain bulutangkis. Lalu Ayah membelikan baju bola, saya pakai. Kebetulan di kampung sekitar rumah saya banyak anak-anak bermain bola. Saya ikut main bola, ketagihan, akhirnya belajar di SSB (Sekolah Sepak Bola) sampai sekarang.

Satria Tama puas mampu menjawab kritikan bersama Timnas Indonesia U-22.Satria Tama puas mampu menjawab kritikan bersama Timnas Indonesia U-22. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jadi bisa dibilang main bola saya terlambat, tidak sejak kecil. Bisa dibilang mulai main bola dari kelas 6 SD ke SMP kelas 1, sebelum itu bulutangkis.

Siapa pemain favorit Anda?

Kalau lokal kiper Persela, Choirul Huda. Kalau internasional dari Bayern Munich, Manuel Neuer. Karena menurut saya mereka kalau menjaga gawang itu berwibawa sekali. Punya ketenangan, dan itu jadi referensi saya ketika berada di lapangan.

Anda tampil cemerlang di SEA Games 2017, terutama saat perebutan medali perunggu lawan Myanmar. Apa rasanya jadi pemain terbaik menurut pembaca CNNIndonesia.com?

Terima kasih. Saya kalau menanggapi pemain terbaik atau tidak, itu terserah orang-orang. Yang penting saya bermain maksimal dan untuk negara. Kalau masalah pemain terbaik itu menurut saya hanya bonus saja. Tapi yang penting tim bisa menang dan mendapatkan hasil yang terbaik.

Bagaimana situasi dan kondisi para pemain Indonesia saat melawan Myanmar?

Situasinya kami sempat agak terjatuh karena target mau emas, mau ke puncak. Tapi, ya bukan rezeki, akhirnya kami kemasukan sama Malaysia. Tentu mental kami agak jatuh sedikit.

Satria Tama berpeluang melakoni debut bersama Timnas Indonesia senior akhir pekan ini.Satria Tama berpeluang melakoni debut bersama Timnas Indonesia senior akhir pekan ini. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)
Kemarin (lawan Myanmar), kami berpikir bagaimana cara kami menaikkan mental. Saya tidak mau menangis untuk kedua kali. Saya mau pulang ke Indonesia bawa medali, bukan tangan kosong. Makanya itu pertandingan kemarin menurut saya pertandingan habis-habisan. Jadi mau tidak mau saya harus berjuang mati-matian.

Komentar Anda telah melakukan berbagai penyelamatan penting untuk Indonesia?

Ya, kalau gawang kami tidak kebobolan itu mungkin tak lepas dari peran semua lini belakang. Indonesia mungkin punya pertahanan yang sangat solid, makanya kita susah untuk dimasukkan.

Anda mendapat banyak pujian karena mampu melakukan sejumlah penyelamatan penting di SEA Games 2017, bagaimana komentar Anda?

Tugas kiper kan menjaga gawang. Jadi kalau berhasil menyelamatkan, pasti perasaan juga saya senang. Soalnya saya sudah menjalankan tugas sesuai posisi saya. Jadi perasaan saya pasti senang, tapi harus tetap fokus. Kalau terlena kesenangan bahaya. Bisa-bisa lengah di menit-menit akhir atau bagaimana.

Banyak yang mengaggap remeh Anda karena berasal dari Persegres (tim juru kunci Liga 1). Dengan membandingkan penampilan Anda di SEA Games 2017, apa yang ingin Anda sampaikan sekarang?

Satria Tama membawa Timnas Indonesia U-22 meraih perunggu di SEA Games 2017.Satria Tama membawa Timnas Indonesia U-22 meraih perunggu di SEA Games 2017. (AFP PHOTO / MOHD RASFAN)
Saya pertama sedih karena klub yang saya bela lagi terpuruk di dasar klasemen. Tapi saya tidak mau menambah beban klub. Kalau klub sudah terjatuh, saya terjatuh, nanti jadi apa? Makanya saya membuktikan, di dalam klub yang terpuruk ada pemain yang hebat.

Semua penyelamatan di SEA Games dipersembahkan untuk siapa saja?

Yang pertama ya saya persembahkan untuk bangsa ini. Karena kami di sini kan  dituntut untuk menjaga gawang negara Indonesia. Kedua, ya untuk orang tua yang selalu mendoakan saya.

Kapan mental Indonesia paling jatuh saat tampil di SEA Games?

Pertandingan kemarin [perebutan medali perunggu].

Bukan saat lawan Malaysia?

Bukan sih. Kalau lawan Malaysia, malah mental kami sedang tinggi-tingginya. Karena motivasi kami paling tinggi.

Ada ritual sebelum menjalani pertandingan?

Ada. Jadi sehari sebelum bertanding, saya telepon orang tua, orang-orang terdekat, pacar, kakak. Selesai itu semua, telepon genggam saya matikan. Saya tidak bermain media sosial. Semua saya matikan dan setelah tanding baru diaktifkan kembali. Supaya fokus.

Satria Tama mengaku mental Timnas Indonesia U-22 sempat jatuh usai dikalahkan Malaysia.Satria Tama mengaku mental Timnas Indonesia U-22 sempat jatuh usai dikalahkan Malaysia. (AFP PHOTO / MOHD RASFAN)

Apa rencana Anda setelah SEA Games 2017?

Alhamdulillah saya dipanggil pelatih kiper untuk ikut uji tanding melawan Fiji dan bergabung dengan tim senior. Harapan untuk jangka panjang pastinya saya terus berada di Timnas Indonesia.

Target pribadi melawan Fiji?

Target saya melawan Fiji, main tidak main saya siap. Yang penting hasil di Fiji saya berharap Indonesia meraih hasil yang maksimal.

Bagaimana Anda mengevaluasi penampilan Timnas Indonesia U-22 dan diri sendiri ketika tampil di SEA Games?

Menurut saya sudah bagus, untuk lebih detil mungkin pelatih yang bisa menjelaskan. Tapi kalau untuk diri saya sendiri, saya harus lebih belajar dan tidak lekas berpuas diri. SEA Games berikutnya Insya Allah kita bisa meraih emas, makanya kita harus terus belajar.

Cerita menarik selama menjadi pemain sepak bola?

Menariknya sepak bola itu seperti kehidupan. Kadang kita di bawah, kadang kita di atas. Waktu Kualifikasi Piala Asia U-23, mungkin saya sedang berada di kehidupan paling bawah. Banyak cacian dan lainnya. Tapi saya jadikan itu sebagai motivasi, bisa buktikan bahwa kualitas saya bukan seperti itu, tapi seperti ini.

Makanya saya juga menikmati sepak bola. Karena sepak bola itu bukan hanya sekadar bola, tapi juga bisa mengetahui tentang kehidupan. Di luar lapangan, kami juga dihargai dan dikenal orang.

Harapan untuk sepak bola Indonesia?

Semoga sepak bola Indonesia terus maju, berkembang, kualitas liga membaik. (har)