Ketika Veteran Timnas Indonesia 'Sekolah' Lagi

Titi Fajriyah, CNN Indonesia | Kamis, 12/10/2017 16:22 WIB
Ketika Veteran Timnas Indonesia 'Sekolah' Lagi PSSI gelar kursus kepelatihan Lisensi A dan B AFC di Sawangan. Sejumlah veteran Timnas Indonesia ambil bagian. (Dok.PSSI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Meski sudah tidak lagi berseragam Timnas Indonesia, keinginan untuk memajukan sepak bola Indonesia tetap membara dalam diri veteran Timnas Indonesia. Buktinya, mereka masih mau kembali 'bersekolah'.

Itu terlihat pada kursus Lisensi Kepelatihan A dan B AFC yang digelar PSSI di National Youth Training Centre, Sawangan, Depok. Deretan nama veteran timnas terdaftar sebagai peserta sekolah singkat itu.

Buat para peserta mengantongi kursus berlisensi AFC sangat penting sebab menjadi syarat untuk bisa melatih klub di liga profesional di Indonesia.


Dari 23 nama peserta yang ikut Lisensi B AFC, ada Suwandi HS, Yusuf Bachtiar dan Bejo Sugiantoro sebagai mantan pemain Timnas.

Sedangkan Lisensi A AFC diikuti veteran timnas seperti Francis Wewengkang, Yusuf Ekodono, I Putu Gede, Alexander Saununu, Nova Arianto, Seto Nurdiantoro, Herrie Setiawan, Elly Idris, Ponaryo Astaman, Kurniawan Dwi Yulianto, Yeyen Tumena, dan Firmansyah.

Para peserta kursus kepelatihan Lisensi A dan B AFC tengah mengikuti materi praktik. (Para peserta kursus kepelatihan Lisensi A dan B AFC tengah mengikuti materi praktik. (Dok.PSSI)
Peserta Lisensi B AFC mengikuti pelatihan mulai 9-23 Oktober 2017 dan 9-13 Oktober untuk Lisensi A.

Selama menjalani pelatihan, para veteran timnas tidak hanya mendapatkan materi teori dari Fakhri Husaini dan Sutan Harharah sebagai instruktur di dalam ruangan kelas. Peserta juga menjalani kelas praktik di lapangan.

Duo pelatih Timnas Indonesia asal Spanyol, Miguel Gandia dan Eduardo Perez juga turun menjadi instruktur tamu untuk berbagi ilmu dengan peserta. Sebagai pelatih kiper, Perez membeberkan rahasianya meningkatkan dan memoles kiper-kiper muda dan psikologi para pemain timnas yang dipegangnya.

"Kami menekankan bahwa pemain sepak bola tidak hanya harus mendengarkan instruksi dari pelatih saja. Tapi dalam permainan, pemain dituntut untuk cerdas dalam berpikir," kata Perez.

Bejo Sugiantoro ikut dalam kursus Lisensi B AFC. (Bejo Sugiantoro ikut dalam kursus Lisensi B AFC. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Perez juga mengapresiasi para peserta yang setelah pensiun langsung segera mengambil kursus kepelatihan. Menurutnya, kualitas mereka tidak perlu diragukan karena sebagian besar adalah pemain hebat saat aktif bermain sepak bola.

Sementara itu, PSSI memasukkan 'Indonesian Way' sebagai filosofi sepak bola Indonesia saat ini. Materi itu juga diberikan kepada para legenda sepak bola Indonesia yang mengikuti lisensi kepelatihan A dan B AFC di National Youth Training Camp, Sawangan, Depok.

Bejo Sugiantoro mengatakan, ada beberapa perbedaan penting yang terlihat dari filosofi baru yang lebih berkiblat ke sepak bola modern.

"Perbedaannya sekarang kita dituntut untuk main bangun serangan dari bawah. Penjaga gawang juga harus aktif kakinya, tidak seperti dulu hanya tanganya saja yang aktif." kata Bejo.

Bejo mengaku beruntung bisa kembali menimba ilmunya di dunia sepak bola. Baginya, kursus ini penting untuk bisa memajukkan sepak bola Indonesia ke depan supaya bisa bersaing dengan negara lain.

Diakui Bejo, gaya bermain Timnas Indonesia di tiga level usia berbeda saat ini sudah seragam menggunakan filosofi Indonesian Way. Namun, itu saja belum cukup.

Selain itu, perbedaan lain yang mencolok menurut Bejo adalah dulu pelatih selalu dituntut hasil. Tapi, di Indonesian Way, pelatih diminta untuk mengkonstruksi permainan dari bawah ke atas.
Kurniawan Dwi Yulianto (kiri) saat tengah bercanda dengan Ponaryo Astaman di sela-sela kursus pelatih Lisensi A AFC. (Kurniawan Dwi Yulianto (kiri) saat tengah bercanda dengan Ponaryo Astaman di sela-sela kursus pelatih Lisensi A AFC. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
"Harusnya ilmu seperti ini (soal filosofi Indonesian Way) juga turun ke klub, jadi tidak sekadar di level timnas saja."

"Pelatih-pelatih di klub juga harus diajarkan Indonesian Way. Jadi saat ada pemain bagus yang bisa dibawa ke timnas sudah tidak perlu adaptasi lagi," ungkap Bejo.

Kurniawan Dwi Yulianto, salah satu legenda Timnas Indonesia, juga tampak serius mengikuti sesi teori dan praktik di kursus tersebut.

Bukan semata Lisensi A AFC yang tengah dinanti Kurus, sapaan akrabnya. Lebih dari itu, mantan pemain Persebaya Surabaya dan Persija Jakarta itu ingin fokus lebih dulu untuk ikut memajukan sepak bola usia muda.
Kurniawan Dwi Yulianto bakal fokus lebih dulu untuk pembinaan sepak bola usia muda. (Kurniawan Dwi Yulianto bakal fokus lebih dulu untuk pembinaan sepak bola usia muda. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
"Sampai saat ini kalau ditanya ingin melatih klub profesional mana (setelah dapat Lisensi A AFC), saya tidak tahu. Yang jelas, saya ingin ikut membantu memajukan sepak bola di level usia muda," terang Kurniawan.

Ke depannya, Kurniawan tetap ingin berkarier di klub profesional, termasuk bercita-cita melatih Timnas Indonesia.

Sama dengan Kurniawan, mantan gelandang Timnas Indonesia, Ponaryo Astaman, juga tak menmbuang kesempatan ikut kursus kepelatihan Lisensi A AFC.

"Ini bagian dari proses belajar dan saya sudah ikuti ini dari (lisensi) C, B sekarang ada kesempatan ikut A dimanfaatkan untuk menambah keahlian juga yang nanti bila jadi pelatih ini yang diperlukan."

"Memang harus diikuti terlepas ke depannya mau ke arah mana, yang penting harus dipenuhi dulu," tutur Ponaryo.