Laporan dari Dubai

Tantangan Indonesia Jadi Tuan Rumah Asian Para Games 2018

Titi Fajriyah , CNN Indonesia | Kamis, 07/12/2017 17:22 WIB
Tantangan Indonesia Jadi Tuan Rumah Asian Para Games 2018 APC berharap bisa menjalin kerja sama yang baik dengan INAPGOC guna menyukseskan Asian Para Games 2018. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Dubai, CNN Indonesia -- Sebagai tuan rumah Asian Para Games (APG) 2018 Indonesia memiliki banyak tantangan yang harus dihadapi. Letak geografis serta minimnya waktu yang dimiliki menjadi persoalan yang harus dituntaskan dalam persiapannya.

Sekretaris Jenderal Asian Paralympic Committee (APC) Tarek Souei mengatakan, Indonesia bukan satu-satunya negara yang menghadapi tantangan sebagai tuan rumah. Karena, negara-negara di Eropa juga mengalami masalah serupa.

“Kami tahu letak geografis venue menjadi tantangan terbesar, termasuk infrastrukturnya. Khusus APG, tempatnya sangat terbatas. Karena, hanya bisa digelar di Jakarta, APG tidak bisa keluar Jakarta,” kata Tarek kepada CNNIndonesia.com.

Jakarta menjadi salah satu kota dengan populasi terpadat di dunia, bersamaan dengan statusnya sebagai ibu kota negara. Sistem transportasi dan mobilitas atlet menjadi perhatian khusus APC selama penyelenggaraan APG 2018 pada 6-13 Oktober 2018 mendatang.

Akses dari dan menuju venue pertandingan, perkampungan atlet maupun hotel juga menjadi perhatian khusus APC. Kondisi Jakarta yang terkenal dengan kemacetannya dianggap bakal jadi ujian besar lainnya.
INAPGOC memiliki banyak tantangan untuk bisa menggelar Asian para Games 2018.INAPGOC memiliki banyak tantangan untuk bisa menggelar Asian para Games 2018. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Karena itu, kolaborasi panitia penyelenggara APG 2018, Indonensian Para Games Organizing Committee (INAPGOC) dengan semua pihak diharapkan berjalan baik.

“Hal yang harus dilakukan otoritas di Indonesia adalah, memastikan semua akan berjalan dengan baik. Jadi kami harus memperbaiki akses sistem transportasi, area publik, fasilitas olahraga. Semua bisa selesai dengan kerja sama antara INAPGOC dan APC,” Tarek menjelaskan.

Tarek juga menegaskan, APC tidak ingin Indonesia membuat infrastruktur sementara sebagai pelengkap fasilitas gelaran APG 2018. APC berharap, APG 2018 nanti bisa meninggalkan sesuatu yang berguna untuk generasi selanjutnya.

“Tapi, saya yakin dengan dukungan dari INAPGOC dan pemerintah DKI Jakarta, kami akan menyelesaikan tantangan itu. Dan kami akan mendapatkan solusi dari setiap masalah,” Tarek menuturkan.

Selain itu, berdasarkan laporan yang diterima APC dari INAPGOC pada Coordination Commission Meeting (Corcom) di Dubai 6-7 Desember 2017, APC melihat permasalahan yang terjadi tidak hanya soal pendanaan. Otoritas Indonesia juga harus bisa cepat mengambil keputusan terkait beberapa hal.

“Seperti menyelesaikan persoalan visa atlet dan ofisial. Apakah menggunakan regular visa atau bisa menggunakan PVC (privilege valid card) berupa ID Card. Ini sangat penting dan harus segera diputuskan,” ucap Tarek. (sry)


BACA JUGA