Jun Mahares
Penggemar sepak bola, penikmat kopi, dan pengagum paradigma kritis. Sempat meniti karier di SuperBall dan kini berkarya sebagai writer CNNIndonesia.com.

Euforia Persija Juara yang Salah Kaprah

Jun Mahares, CNN Indonesia | Rabu, 21/02/2018 08:00 WIB
Euforia Persija Juara yang Salah Kaprah Persija Jakarta mengalahkan Bali United 3-0 pada final Piala Presiden 2018. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak bisa dimungkiri bahwa Persija Jakarta tampil fantastis saat menjuarai Piala Presiden 2018. Betapa tidak, runner up Liga 1 musim lalu Bali United dihajar tiga gol tanpa balas pada laga puncak yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (17/2).

Hampir seisi stadion yang dipenuhi suporter Persija larut dalam euforia seusai peluit panjang dibunyikan. Ada yang berjingkrak-jingkrak kegirangan. Ada pula yang menangis haru. Bahkan, sebagian penonton nekat merangsek masuk ke lapangan untuk sekadar melakukan selfie atau memeluk pemain idolanya.

Terlepas dari kelalaian keamanan dan pihak penyelenggara, ekspresi suporter dengan 'menyerbu' ke lapangan juga sering terjadi di liga-liga Eropa. Pemandangan yang lazim terjadi di Serie A Liga Italia. Biasanya, suporter turun ke lapangan usai melakoni laga kandang terakhir musim sekaligus merayakan klub kesayangannya yang sudah memastikan juara.
Jakmania masuk ke lapangan usai Persija memastikan gelar Piala Presiden 2018.Jakmania masuk ke lapangan usai Persija memastikan gelar Piala Presiden 2018. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Saya tak sedang ingin menghakimi perilaku suporter kali ini. Yang jadi soal adalah persepsi salah kaprah ketika menyandingkan juara kompetisi dengan gelar turnamen pramusim.


Sebagian orang beranggapan, Persija telah berhasil melepas dahaga juara yang kali terakhir diraih pada Liga Indonesia 2001. Tak terkecuali Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno. Ia menuliskan ucapan selamat dengan membawa embel-embel puasa gelar selama 17 tahun.

"Setelah 17 tahun puasa juara, tadi malam Tim Macan Kemayoran kembali berjaya dan memenangkan Piala Presiden," tulis Sandi via akun Twitter pribadinya.

Ucapan Sandiaga Uno jelas salah kaprah. Kalau sebatas gelar juara turnamen pramusim, Persija sudah lebih dulu mendapatkannya. Ismed Sofyan dan kawan-kawan juga berhasil meraih gelar turnamen Boost Sports Super Fix Cup 2018 di Malaysia.
Persija Jakarta sudah merebut dua gelar pramusin di 2018.Persija Jakarta sudah merebut dua gelar pramusin di 2018. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Hanya saja gelar di Malaysia tidak terlalu dianggap bergengsi karena hanya melibatkan tiga tim. Macan Kemayoran berhak meraih juara karena unggul selisih gol dari Kelantan FA dan Ratchaburi FC yang sama-sama mengemas tiga poin.

Persija memang tak lagi pernah mencicipi takhta bergengsi di level kompetisi dalam satu dekade terakhir. Jangankan bermimpi juara, anak-anak Jakarta bahkan tak sanggup lolos fase grup pada dua edisi Piala Presiden sebelumnya.

Tahun ini adalah sebuah anomali bagi Persija. Tim Macan Kemayoran berhasil mengawinkan gelar turnamen Boost Sports Super Fix Cup 2018 di Malaysia dengan Piala Presiden 2018 yang dihelat di Jakarta. Dua trofi turnamen pramusim jelas menambah koleksi di lemari gelar Persija. Namun, kedua trofi tersebut tak bisa disamakan dengan gelar juara kompetisi.

Menyandingkan gelar juara kompetisi Liga Indonesia dan turnamen pramusim bertajuk Piala Presiden adalah sebuah anggapan yang salah kaprah. Sebab, level persaingan di kompetisi jauh berbeda dengan turnamen.
Kekuatan Persija baru akan diuji di kompetisi Liga 1 2018.Kekuatan Persija baru akan diuji di kompetisi Liga 1 2018. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Dalam sebuah kompetisi penuh, kekuatan sebuah klub bakal menemui ujian lebih banyak. Setiap tim saling berhadapan dengan format kandang-tandang dengan durasi penyelenggaraan yang bisa memakan waktu hampir setahun.

Kedalaman skuat dan mental pemain bakal diuji sepanjang musim. Pelatih juga harus putar otak lebih jeli lagi jika dilanda badai cedera pemain yang setiap saat bisa menghantui.

Sementara turnamen Piala Presiden hanya berdurasi sebulan. Meski diikuti klub-klub elite Liga 1, namun tak semua kontestan bisa saling berhadapan karena dibatasi sistem pembagian grup. Belum lagi Persipura Jayapura absen dalam turnamen kali ini.

Tak salah memang jika penggemar Persija merayakan gelar juara turnamen Piala Presiden 2018 dengan gegap-gempita. Namun, jangan sampai salah kaprah menyandingkan pencapaian tertinggi di turnamen dengan juara di level kompetisi.

Juara Piala Presiden 2018 tentu jadi modal positif Persija untuk mengarungi kompetisi Liga 1 yang rencananya digelar Maret mendatang. Hanya saja, Persija harus berjuang ekstra jika ingin meraih juara di level kompetisi.
Sukses di Piala Presiden 2018 bisa menjadi modal berharga bagi Persija di Liga 1 2018.Sukses di Piala Presiden 2018 bisa menjadi modal berharga bagi Persija di Liga 1 2018. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Kapten Persija Ismed Sofyan pun tak mau sesumbar menargetkan juara di Liga 1. Ia memilih untuk menatap kompetisi dengan memenangi seluruh pertandingan yang berada di depan mata.

"Prestasi di Piala Presiden 2018 jadi modal positif kami menantap Liga 1 musim depan. Semua tim tentu inginnya bisa juara, tapi lebih baik berusaha memenangi tiap pertandingan. Soal juara, kita lihat nanti," kata Ismed.

Berkaca pada edisi sebelumnya, juara Piala Presiden justru tampil melempem di liga. Pertama, Persib Bandung. Sukses menjuarai Piala Presiden perdana pada 2015, Persib malah terlempar dari persaingan juara dan finis di urutan kelima klasemen akhir liga.

Korban kedua adalah Arema FC. Juara edisi 2017 itu juga gagal bersaing di kompetisi sesungguhnya. Bahkan, klub berjulukan Singo Edan itu hanya mampu mengakhiri kompetisi Liga 1 di peringkat sembilan.

Jalan cerita Persib dan Arema bisa saja terjadi pada Persija musim ini. Maka, jangan terlalu larut dalam euforia kejayaan di turnamen pramusim. Sebab, tantangan dan persaingan di level kompetisi bakal jauh lebih sulit dari sekadar meraih trofi di ajang pramusim di mana hampir semua lawan tanding yang dihadapi masih meraba-raba permainan terbaiknya. (bac)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS