Analisis

Real Madrid Punya 'DNA' Superior di Liga Champions

Ahmad Bachrain, CNN Indonesia | Rabu, 02/05/2018 10:12 WIB
Real Madrid Punya 'DNA' Superior di Liga Champions Real Madrid punya 'DNA' superior di Liga Champions. (REUTERS/Juan Medina)
Jakarta, CNN Indonesia -- Real Madrid menunjukkan mereka memiliki 'DNA' superior di Liga Champions setelah berhasil melaju ke final dengan menyingkirkan Bayern Munchen.

Setidaknya beberapa catatan pada laga itu menunjukkan Los Blancos sangat familier dengan fase puncak turnamen kasta tertinggi antarklub Eropa tersebut.

Utamanya adalah peran Cristiano Ronaldo yang minim pada dua leg semifinal Liga Champions. CR7 memang kerap menjadi tumpuan El Real di laga-laga krusial. Namun, bukan berarti Madrid melulu mengandalkan pemain bintangnya itu untuk membantu mereka tampil lebih jauh hingga final.


Dalam dua leg kali ini, peran Ronaldo justru nyaris tak terlihat dengan permainan Madrid yang boleh dibilang tidak istimewa.

Pada leg pertama di Stadion Allianz Arena, Madrid menang 2-1 tanpa kontribusi besar dari pemain timnas Portugal tersebut.

Pelatih Die Roten, Juup Heynckes, berhasil menginstruksikan para penggawanya 'mematikan' pergerakan Ronaldo pada laga itu. Sang bintang tampak begitu kesulitan lolos dari kawalan ketat para pemain FC Hollywood.

Real Madrid Punya DNA Superior di Liga ChampionsPeran Cristiano Ronaldo seolah tak ikut hadir pada keberhasilan Real Madrid. (REUTERS/Michael Dalder)
Madrid pun sempat tertekan karena gol pertama Munchen yang dicetak Joshua Kimmich pada menit ke-28 memanfaatkan assist James Rodroguez. Namun, Madrid mampu keluar dari tekanan dominasi Munchen dan justru mengakhiri leg pertama itu dengan kemenangan 2-1.

Bukan Ronaldo yang menyumbang gol maupun assist di laga tersebut. Adalah Marcelo dan Marco Asensio yang menciptakan gol berkat assist Daniel Carvajal serta Lucas Vazquez. Meski dinilai berbau keberuntungan, Madrid faktanya tetap menang 2-1 dengan performa yang 'pas-pasan'.

Pada leg kedua, Madrid juga mendapat tekanan besar dari Munchen tampil di depan pendukung mereka sendiri di Stadion Santiago Bernabeu.

Joshua Kimmich dua kali membuat Real Madrid tertekan dengan mencetak gol pembuka pada leg pertama dan kedua. (Joshua Kimmich dua kali membuat Real Madrid tertekan dengan mencetak gol pembuka pada leg pertama dan kedua. (REUTERS/Michael Dalder)
Los Blancos bahkan kembali dikejutkan Munchen yang mencetak gol lebih dulu pada menit ketiga, lagi-lagi karena gol Kimmich.
Munchen juga mampu menunjukkan dominasi permainan seperti pada leg pertama. Namun, Madrid kembali mendapat situasi yang membuat 'arah angin' berembus kepada mereka.

Setelah menyamakan skor 1-1 berkat gol Karim Benzema, Madrid membalikkan keadaan menjadi 2-1 pada awal babak kedua yang kembali dipersembahkan Benzema.

Blunder yang dilakukan Sven Ulrich dan Corentin Tolisson, menegaskan 'aroma keberuntungan' Madrid pada laga itu. Sang kiper gagal mengontrol sodoran back-pass rekan setimnya itu yang juga seharusnya tidak memberikan situasi sulit bagi Ulrich.

Real Madrid Punya DNA Superior di Liga Champions
Munchen memang menyamakan skor 2-2 berkat gol James Rodriguez, namun skor itu tak mampu menolong mereka karena Los Blancos menang 2-1 di Allianz Arena pada leg pertama.

Peran Ronaldo juga kembali 'absen' pada kemenangan Madrid di leg kedua. Ia lagi-lagi tak bisa keluar dari kawalan ketat para pemain Madrid.

Sebagai gantinya, peran mencetak gol diambil Benzema yang mencetak dua gol kemenangan timnya. Padahal, performa pemain asal Perancis itu di Madrid bisa dibilang tidak cukup konsisten musim ini.

Selain Benzema, kiper Los Blancos, Keylor Navas, juga menjadi pemain kunci keberhasilan timnya ke final Liga Champions. Berkat penampilan apik, gawang El Real hanya kebobolan dua gol dari sekian banyak serangan para pemain Munchen.

Total delapan kali penyelamatan krusial yang dilakukan penjaga gawang asal Kosta Rika itu.

Pertahanan Madrid pun sangat solid menghadapi gempuran-gempuran Munchen ketika skor sudah 2-2. Bek tengah Madrid, Sergio Ramos dan Raphael Varane juga tampil bagus menjaga pertahanan Los Blancos pada momen-momen krusial tersebut.

Madrid merupakan satu dari tiga klub elite yang mencatat rekor ke final tiga kali beruntun selain Juventus dan AC Milan sejak kompetisi itu bernama Liga Champions. Namun, Madrid lebih superior karena berhasil juara dua kali dari tiga final tersebut.

Los Merengues berpeluang kembali menorehkan sejarah dengan meraih trofi Liga Champions tiga kali beruntun setelah sebelumnya memecahkan rekor juara dua kali beruntun. (sry)