Analisis

Polemik Nama Istora Blibli, antara Sejarah dan Industri

Ahmad Bachrain, CNN Indonesia | Rabu, 16/05/2018 10:55 WIB
Polemik Nama Istora Blibli, antara Sejarah dan Industri Stadion Istora Senayan yang berganti nama menjadi Blibli Arena menimbulkan polemik. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perubahan nama Istora Senayan menjadi Blibli Arena langsung menimbulkan polemik di tengah khalayak.

Pergantian nama dengan menghilangkan kata 'Istora' dianggap sejumlah pihak tak lagi menghormati aspek sejarah dari bangunan tersebut.

Pihak Pusat Pengelola Kawasan Gelora Bung Karno (PPK GBK), sebelumnya mencoba membuat terobosan sebagai solusi atas persoalan perawatan sejumlah arena olahraga di kompleks itu. Salah satunya dengan menggandeng sponsor dari pihak swasta.


Sponsor tersebut yang nantinya akan membiayai mulai renovasi hingga perawatan fasilitas tersebut. Memang butuh dana sangat besar untuk sekadar perawatan harian arena tersebut.

Untuk kasus Blibli Arena, perusahaan tersebut bersedia menjadi sponsor dengan membantu pembiayaan termasuk maintenance.

Polemik Nama Istora Blibli, Antara Sejarah dan Industri
Masalah timbul setelah sponsor yang ingin masuk dan mengubah nama besar Istora. Di sisi lain, Istora Senayan merupakan salah satu peninggalan dan warisan sejarah Indonesia yang dibangun pada masa kepemimpinan Soekarno.

Menengok sejarah, Presiden Soekarno menginstrusikan untuk membangun sebuah kawasan olahraga untuk menyambut gelaran Asian Games di mana Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah pada 1962. Tak hanya Istora, stadion sepak bola, lapangan panahan, stadion tenis serta Hotel Indonesia juga menjadi bagian dari peninggalan sejarah itu.

Istora Senayan sudah memiliki standar internasional dengan ukuran arena 25 x 50 meter. Aula serba guna ini dilengkapi dengan sistem suara dan pencahayaan serta fasilitas pendukung lainnya dengan kapasitas penonton sekitar 7.200 kursi (VIP 412 kursi, tribune 6.698 kursi).

Rentang 56 tahun kemudian, bangunan peninggalan sejarah itu masih berdiri kokoh. Pada tahun 2016, venue-venue itu kembali mengalami renovasi besar-besaran untuk menyambut kembali perhelatan akbar olahraga terbesar di Asia yang untuk kedua kalinya dalam sejarah bakal digelar di Indonesia.

Istora Senayan merupakan venue yang masih menjadi bagian kompleks olahraga Gelora Bung Karno. (Istora Senayan merupakan venue yang masih menjadi bagian kompleks olahraga Gelora Bung Karno. (Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Kini, di antara beberapa venue di kawasan GBK, Istora Senayan menjadi salah satu yang sudah selesai bersolek. Secara resmi namanya pun juga berganti menjadi Istora Gelora Bung Karno.

Kecantikan yang ditampilkan Istora Gelora Bung Karno sekarang rupanya menggoda beberapa pihak swasta untuk masuk menjadi sponsor. Salah satunya Blibli yang ingin kembali mengubah nama Istora Gelora Bung Karno menjadi Blibli Arena.

Perubahan nama di venue olahraga sebenarnya sudah lumrah terjadi di luar negeri. Seperti misalnya Westfalenstadion milik Borussia Dortmund di Jerman yang berganti nama menjadi Signal Iduna Park.

Stadion City of Manchester di Inggris yang berganti nama menjadi Stadion Etihad setelah kemasukan sponsor.

St James Park milik Newcastle United menjadi Stadion Sport Direct. Stadion Juventus menjadi Stadion Allianz, termasuk Stadion Yokohama menjadi Stadion Ajinomoto.

Stadoon City of Manchester yang berubah nama menjadi Stadion Etihad. (Stadion City of Manchester yang berubah nama menjadi Stadion Etihad. (Reuters/Lee Smith)
Tetap ada perbedaan dari penamaan sponsor di stadion-stadion itu dibandingkan dengan Istora Senayan. Stadion tersebut merupakan milik klub atau swasta, bukan milik negara.

Dengan status itu, kerja sama komersial antara pihak sponsor dan pemilik stadion pun tak lantas memancing polemik.

Memang contoh kasus venue olahraga seperti arena akuatik milik negara tetangga Indonesia, Singapura yang venue akuatiknya bernama OCBC Arena yang merupakan nama sponsor.

Kasus di Singapura juga berbeda dengan di Istora. OCBC Arena bisa dibilang belum disebut sebagai warisan sejarah panjang karena pusat olahraga itu sendiri baru didirikan pada 2010.

Beda halnya dengan Istora yang memiliki sejarah panjang, bahkan bisa dikatakan bagian dari warisan negara ini. Untuk merenovasi bangunan itu saja memerlukan upaya yang sangat rumit.

Polemik Nama Istora Blibli, Antara Sejarah dan IndustriIstora Senayan saat direnovasi untuk Asian Games 2018. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Ada sejumlah bagian bangunan seperti tiang-tiang pancang yang tidak boleh dirobohkan dan dibangin kembali karena itu merupakan bagian dari warisan sejarah Istora Senayan.

Begitu pula dengan nama Istora Senayan, dianggap menjadi salah satu bagian yang tak bisa dipisahkan dari peninggalan itu.

Pengamat olahraga nasional Tommy Apriantono mengatakan kerja sama dengan sektor swasta, dalam hal ini sponsor, merupakan kondisi lazim di era industri olahraga. Kenyataan itu bahkan dinilai sebagai indikator positif dalam pengembangan industri dan prestasi keolahragaan

"Yang penting soal besaran biaya yang masuk dibuat secara transparan dan tidak ada korupsi. Jangan sampai sudah ada sponsor, tapi biaya perawatan tetap dari pemerintah."

"Harusnya, dengan dukungan sponsor, cabang olahraga yang mempergunakan venue itu jadi terbantu, mereka tidak usah bayar sewa lagi karena biayanya sudah ditutupi dari sponsor. Pun kalau sewa biayanya tidak sebesar itu," kata Tommy kepada CNNIndonesia.com.

Di sisi lain, biaya perawatan venue yang biasanya dikeluarkan pemerintah bisa dialokasikan untuk membantu Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dalam rangka pembinaan atlet usia muda. Itu juga menjadi bagian dari pengaruh positif yang bisa dipetik dari masuknya sponsor.

Persoalan penamaan venue terkait sponsor yang masuk, Tommy menjelaskan, masih bisa dicarikan solusi. Jika nama Istora merupakan hal sakral dan tidak boleh dihilangkan, solusinya bisa juga dengan tetap menyisipkan nama itu bersama nama sponsor.

Yang jelas, bukan persoalan sederhana bagi pihak terkait menciptakan sinergi antara swasta dan pemerintah untuk menghidupkan geliat industri sekaligus menjaga nilai-nilai tradisi di Indonesia. Setidaknya itu terbukti dari polemik penghilangan nama venue untuk diganti dengan nama sponsor. (bac)