Reony memilih melatih ke Jepang pada 2010 setelah tak lagi berperan mengangani tim Indonesia. Di tim Jepang, ia bertugas membina dan memoles sektor ganda putri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tim Jepang meraih trofi Piala Uber pertama sejak 1981. (AFP PHOTO / Lillian SUWANRUMPHA) |
Apa faktor utama prestasi Jepang bisa terus maju sedikit demi sedikit hingga juara Piala Uber?
Hal yang paling utama adalah seluruh komponen di sana memberikan dukungan penuh. Bukan cuma federasi dalam hal ini mewakili negara, tapi juga di sektor swasta seperti perusahaan-perusahaan. Dukungan moril tak kalah penting dari para warga Jepang, dalam hal ini para fan.
Dukungan para fan seperti apa yang Anda maksud?
Sederhananya begini, para fan di semua negara pasti antusias mendukung tim mereka. Nah, di Jepang auranya benar-benar positif dalam memberikan dukungan kepada para atlet. Positif dalam arti begini, mereka sangat antusias dan memberikan dukungan total ketika tim [Thomas dan Uber] menang. Tapi tak ada, atau mungkin sangat sedikit para fan yang mecemooh tim jika kalah. Mereka selalu menyemangati tim dalam suasana yang amat kondusif. Itu merupakan bantuan yang sangat berarti bagi para pemain.
Reony Mainaky meraih kesuksesan sebagai pelatih di luar negeri. (CNN Indonesia/Ahmad Bachrain) |
Saya rasa tak ada yang berbeda jauh, hampir semua sama. Pembinaan di Indonesia juga memiliki fondasi yang kuat kok. Namun, harus diakui ada budaya yang berbeda.
Bisa dijelaskan lebih gamblang?
Jepang punya gaya hidup yang memang sangat mendukung perkembangan atlet untuk menjadi kelas dunia di cabang apa pun. Contoh saja kebiasaan berolahraga, dari kecil selalu dibiasakan berolahraga minimal joging. Makanananya juga begitu. Para atlet sedari kecil sangat disiplin dalam menjaga diet makanan dan menjadi kebiasaan mereka begitu dewasa. Namun, bukan berarti di Indonesia tak ada yang begitu. Contoh saja Hendra Setiawan, ia memiliki kebiasaan bagus dalam hal menjaga berolahraga rutin menjaga kebugaran dan diet makanan. Hendra tentu harus menjadi contoh baik bagi atlet-atlet muda lainnya di Indonesia. Secara umum, talenta-talenta Indonesia di bulutangkis masih yang terbaik. Untuk itu, perlu dikuatkan lagi dengan budaya yang sangat bagus.
Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi menjadi salah satu andalan Jepang di sektor ganda putri. (CNN Indonesia/Hesti Rika) |
Tentu saja. Saya bisa dibilang melatih mereka sejak masih kecil, sejak masih segini [mengarahkan tangan ke pinggangnya]. Dulu Nozomi [Okuhara], [Kento] Momota masih pada sangat kecil. Kemudian kami terus memberikan masukan-masukan bagik teknik hingga mentalitas kepada mereka.
Apa maksudnya secara mentalitas?
Kami, terutama saya secara pribadi, terus menanamkan kepada mereka bahwa harus ada tujuan. Di bulutangkis ini tentu saja tujuannya meraih prestasi setinggi mungkin termasuk juara Uber. Tentu bukan perkara mudah karena mereka hampir semuanya adalah bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan sehingga ketika kalah, ya sudah kalah. Namun, tidak boleh seperti itu, harus dicoba lagi ke depannya sampai tujuan terwujud. Secara umum, hidup memang harus punya tujuan.
Mereka bekerja sebagai karyawan swasta selain bulutangkis. Apa itu jadi tantangan tersendiri?
Bekerja sambil bermain bulutangkis memang sudah lazim bagi orang-orang Jepang. Hidup mereka bukan hanya di bulutangkis. Ketika tak ada event besar. Mereka kembali ke dunia pekerjaan, bukan sebagai atlet. Namun, mereka juga ada kesadaran harus membela nama negara, salah satunya dengan menjadi atlet dalam hal ini bulutangkis.
Kento Momota menjadi salah satu atlet Jepang yang dibina Reony Mainaky. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono) |
Bukan perkara sulit bagi para atlet untuk mengatur waktu. Mereka sudah paham betul untuk menyesuaikan waktu berlatih setelah jam kerja selesai, termasuk waktu untuk beristirahat. Itulah bedanya, budaya mereka dalam hal waktu sangat bagus. Kita [Indonesia] tentu harus belajar dari Jepang.
Sejauh yang saya ketahui selama melatih di sini, tidak ada kasus seperti ini. Makanya yang saya bilang di awal, seluruh komponen di negara ini memberikan dukungan penuh sebisa yang mereka berikan.
Biasa saja sebenarnya karena kami memang profesional, melakukan yang terbaik di tempat kami berada.
Ada obrolan sebelum dan sesudah pertandingan?
Tentu saja ada. Kami saling mengejek untuk sekadar berkelakar. Di grup [WhatsApp] keluarga pun ramai saling 'serang' bercandaan. Tapi pada akhirnya kami saling mendukung. (sry)
Tim Jepang meraih trofi Piala Uber pertama sejak 1981. (AFP PHOTO / Lillian SUWANRUMPHA)
Reony Mainaky meraih kesuksesan sebagai pelatih di luar negeri. (CNN Indonesia/Ahmad Bachrain)
Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi menjadi salah satu andalan Jepang di sektor ganda putri. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Kento Momota menjadi salah satu atlet Jepang yang dibina Reony Mainaky. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)