Pada pertandingan itu Spanyol tampil sangat dominan (penguasaan bola 75 persen berbanding 25 persen milik Rusia) dengan aliran bola dari kaki ke kaki antarpemain, dari sisi kiri ke kanan, depan-belakang, dan sebaliknya, mengurung pertahanan Rusia mencari celah untuk menyerang; sebuah gambaran umum soal gaya Tiki-taka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam laga itu, berdasarkan situs FIFA, Spanyol membukukan catatan 1.137 operan dengan 1.031 di antaranya merupakan umpan tepat sasaran. Jumlah itu merupakan yang terbanyak sejak 1966.
Pelatih timnas Spanyol Fernando Hierro menghibur para pemain usai kekalahan dari Rusia. (REUTERS/Carl Recine) |
Pelatih timnas Rusia Stanislav Cherchesov menggunakan lima bek dengan formasi 5-3-2. Penggunaan formasi lima bek ini merupakan yang pertama di Piala Dunia 2018. Dia belajar dari dua kekalahan atas Spanyol Euro 2008, 4-1 dan 3-0.
"Mereka lebih baik dari kami dalam banyak hal," aku dia. "Kami pun tak percaya harus mengambil risiko dengan menyerang," tambah dia.
Formasi lima bek dan pertahanan rapat berbasis area ini mengingatkan kepada pilihan yang diambil manajer Chelsea Roberto Di Matteo saat mematikan Barcelona-nya Pep Guardiola di Liga Champions 2011/2012.
Ya, Tiki-taka tak bisa dilepaskan dari Barcelona yang setia memainkan gaya yang disebut sebagai evolusi dari total football Belanda itu. Blaugrana pun menjadi pemasok dominan skuat timnas Spanyol di era jayanya.
[Gambas:Twitter]
Stok Pemain
Persoalan ketersediaan pemain yang mendukung Tiki-taka berjalan lancar pun masalah pertama Spanyol untuk kembali berjaya. Sebab, gaya ini menuntut pemain yang kreatif dan memiliki akurasi umpan tinggi serta penyelesaian akhir yang mematikan.
"Pada 2008, 2010, 2012, kami memiliki sejumlah pemain, dan kami bermain sebuah level dengan gaya yang tak pernah dilakukan sebelumnya oleh siapapun," tutur Hierro.
"Sekarang 2018, dan banyak hal berubah. Saat ini kita melihat mereka memainkan lima pemain bertahan sejajar yang kami pikir sudah dilupakan," lanjutnya.
Andres Iniesta memutuskan pensiun dari timnas usai kekalahan di babak 16 besar di Rusia. (REUTERS/Albert Gea) |
Di era kejayaan tiki taka yang meraih tiga juara turnamen mayor itu, Iniesta menjadi duet sehati dari Xavi Hernandez. Keduanya menjadi jantung kembar tiki-taka, menjadi metronom yang mengalirkan umpan-umpan akurat dan satu sentuhan ke semua sisi.
Bek-bek semacam Ramos dan Pique pun memiliki operan akurat yang seimbang dengan para gelandangnya. Pada Piala Dunia kali ini, Ramos memimpin jumlah umpan akurat dengan jumlah 485 kali.
Sisa kejayaan skuat Matador lainnya, Cesc Fabregas (31), yang disebut-sebut sebagai pengganti Xavi, tak lagi berada dalam radar timnas akibat performanya dinilai menurun. Sergio Busquets (29) tak punya duet sepadan Xabi Alonso yang melindunginya dalam bertahan dan mengalirkan bola.
Isco (tengah) menjadi satu dari sedikit pemain Spanyol yang sempat bersinar di Piala Dunia 2018. (REUTERS/Grigory Dukor) |
Hanya Isco (26) yang masih dalam performa terbaiknya dan kerap memainkan gaya mirip tiki taka di Real Madrid era Zidane.
Mentalitas Pemain
Persoalan kedua adalah soal mentalitas. Menurut Xabi Alonso, kegagalan pada 2014 disebabkan oleh hilangnya rasa haus gelar juara karena sudah meraih segalanya.
Eks pemain timnas Spanyol dan Barcelona Xavi Hernandez. (REUTERS/Gustau Nacarino) |
Dengan komposisi pemain, terutama gelandang, yang belum punya pemain atau duet setara Iniesta-Xavi, serta mentalitas masihkan Spanyol bertekad memainkan gayanya yang kerap dinilai membosankan itu?
"Kami memiliki identitas sendiri. Identitas Spanyol bisa dikenali. Kami punya kepribadian, dan ini hal yang baik," tandas eks pemain belakang Real Madrid itu.
(bac)
Pelatih timnas Spanyol Fernando Hierro menghibur para pemain usai kekalahan dari Rusia. (
Andres Iniesta memutuskan pensiun dari timnas usai kekalahan di babak 16 besar di Rusia. (
Isco (tengah) menjadi satu dari sedikit pemain Spanyol yang sempat bersinar di Piala Dunia 2018. (
Eks pemain timnas Spanyol dan Barcelona Xavi Hernandez. (