Tak ada yang memungkiri bahwa Belgia kini tengah memiliki generasi terbaik. Pasalnya, banyak pemain Belgia yang menjadi pilar utama di sejumlah klub top Eropa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Timnas Belgia punya skuat mewah di Piala Dunia 2018. (REUTERS/Kai Pfaffenbach) |
Formasi 3-4-3 andalan Roberto Martinez bermain nyaris sempurna. Kreativitas Eden Hazard dan Kevin De Bruyne menjadi kunci permainan. Terlebih kedua pemain ini piawai melepaskan umpan kunci untuk memanjakan sang ujung tombak: Romelu Lukaku.
Adnan Januzaj (tengah) juga tampil memukau meski turun dari bangku cadangan. (REUTERS/Marko Djurica) |
Bekal penampilan cemerlang di babak penyisihan grup jadi modal positif Belgia untuk menatap babak 16 besar dengan percaya diri. Apalagi di atas kertas mereka pantas diunggulkan menang lawan satu-satunya wakil Asia, Jepang.
Jiwa Samurai
Komposisi pemain Jepang memang tak sebanding dengan Belgia. Namun, Shinji Kagawa dan kawan-kawan tak boleh dipandang sebelah mata. Mereka punya jiwa petarung layaknya Samurai atau prajurit elite abad pertengahan di Negeri Sakura yang dikenal pantang menyerah.
Kemenangan 2-1 atas Kolombia dan imbang 2-2 lawan Senegal menjadi bukti bahwa Jepang bisa meladeni dua negara yang cukup diperhitungkan di ajang empat tahunan ini.
Timnas Jepang punya mentalitas Samurai. (REUTERS/Marcos Brindicci) |
Jepang tak melancarkan serangan dengan gencar setelah tertinggal 0-1 dari Polandia. Strategi itu dilakukan Jepang setelah mendengar kabar Senegal tertinggal 0-1 dari Kolombia di laga penentu.
Pilihan strategi tersebut memang membuat Jepang akhirnya lolos fase grup sebagai runner up. Namun, karakter Samurai yang melekat dalam diri mereka seakan luntur karena tak berjuang untuk melepaskan diri dari kekalahan.
Keajaiban Kecil
Terlepas dari strategi main aman di laga terakhir, Jepang saat ini dihubung-hubungkan dengan episode 'Keajaiban Miami' di Olimpiade 1996. Kala itu, Timnas Jepang U-23 yang diasuh Nishino mampu mengalahkan Brasil 1-0.
Saat itu Selecao U-23 diperkuat sejumlah pemain muda yang akhirnya jadi legenda seperti Roberto Carlos, Rivaldo, dan Ronaldo Luis Nazario. Sayangnya Jepang malah kalah beruntun dari Nigeria dan Hungaria dan gagal melaju ke fase gugur.
Akira Nishino pernah mengantar Timnas Jepang U-23 kalahkan Brasil di Olimpiade 1996. (REUTERS/Max Rossi) |
Sementara kemenangan 2-1 atas Kolombia disebut-sebut sebagai 'Kejaiban di Mordovia'. Bedanya Jepang kali ini tidak bermain bertahan dan lebih berani mengambil inisiatif menyerang sejak awal laga melalui skenario serangan balik.
Timnas Belgia punya skuat mewah di Piala Dunia 2018. (REUTERS/Kai Pfaffenbach)
Adnan Januzaj (tengah) juga tampil memukau meski turun dari bangku cadangan. (REUTERS/Marko Djurica)
Timnas Jepang punya mentalitas Samurai. (REUTERS/Marcos Brindicci)
Akira Nishino pernah mengantar Timnas Jepang U-23 kalahkan Brasil di Olimpiade 1996. (REUTERS/Max Rossi)