ANALISIS

Meraba Titik Lemah di Final Kepagian Prancis vs Belgia

Vetriciawizach, CNN Indonesia | Selasa, 10/07/2018 16:29 WIB
Meraba Titik Lemah di Final Kepagian Prancis vs Belgia Timnas Prancis akan berhadapan dengan Belgia di semifinal Piala Dunia 2018. (REUTERS/Grigory Dukor)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pertarungan Prancis melawan Belgia di semifinal Piala Dunia 2018 boleh jadi final kepagian. Dua tim atraktif yang sama-sama piawai menjebol gawang lawan serta yang setiap lininya dipenuhi banyak bintang akan bertarung untuk memperebutkan satu tiket ke final.

Belgia yang akan menjalani semifinal Piala Dunia kedua mereka dalam sejarah, telah membuktikan diri bahwa mereka bukan sekadar kuda hitam.

Di perempat final, Brasil pun menjadi korban keganasan lini serang The Reds Devil yang ditopang oleh kekuatan Romelu Lukaku, umpan-umpan akurat Kevin De Bruyne, serta kecepatan Eden Hazard.


Saat ini Belgia juga tercatat jadi tim dengan torehan gol terbanyak di Piala Dunia dengan total 14 gol.

Namun kekuatan sebenarnya Belgia bukan pada ketajaman lini serang, tapi fleksibilitas mereka dalam mengubah taktik dengan menyesuaikan strategi lawan.

Romelu Lukaku mencetak gol terbanyak untuk Belgia di Piala Dunia 2018.Romelu Lukaku mencetak gol terbanyak untuk Belgia di Piala Dunia 2018. (REUTERS/John Sibley)
Hal ini sangat kentara dalam laga melawan Brasil dengan Roberto Martinez yang mengubah taktik menjadi 4-3-3 dari semula 3-4-3 yang ia terapkan dalam laga lawan Jepang di 16 Besar.

Martinez memasukkan Marouane Fellaini di lini tengah untuk mendampingi Axel Witsel dan memberikan perlindungan bagi lini pertahanan mereka.

Sementara itu, De Bruyne didorong ke depan untuk memberikan suplai bola-bola akurat ke kotak terlarang.

Eden Hazard yang sebenarnya mirip secara teknikal dan permainan dengan De Bruyne pun bisa menjalankan fungsi berbeda dalam laga melawan Brasil. Ia justru menjadi seperti pemain sayap murni dan menjadi mimpi buruk bagi Fagner, bek kanan Selecao.

Kevin De Bruyne menjadi salah satu gelandang kunci di timnas Blegia.Kevin De Bruyne menjadi salah satu gelandang kunci di timnas Belgia. (REUTERS/Toru Hanai)
Fleksibilitas taktik ini juga yang akan jadi kekuatan Belgia ketika menghadapi Prancis. Keberadaan dua gelandang powerhouse dalam sosok Paul Pogba dan N'Golo Kante, yang keduanya sama kuatnya dalam bertahan dan menyerang, tentu harus diredam oleh Belgia.

Fellaini dan Naser Chadli bisa kembali diturunkan dalam laga ini untuk berduet dengan Witsel sehingga menciptakan keseimbangan di lini tengah.

Jika opsi itu yang diambil, maka Dries Mertens bisa kembali menghuni bangku cadangan sementara De Bruyne didorong ke depan.

Keseimbangan Belgia sendiri mendapat pujian dari kiper Prancis, Hugo Lloris, dalam konferensi pers sebelum pertandingan.

N'Golo Kante (kanan) menjadi pengawal Lionel Messi dalam laga melawan Argentina.N'Golo Kante (kanan) menjadi pengawal Lionel Messi dalam laga melawan Argentina. (REUTERS/Dylan Martinez)

"Mereka adalah tim yang melelahkan dan tahu cara melakukan semua hal. Saya kira, tim Belgia di turnamen ini paling melelahkan dalam semua aspek karena mereka kuat di semua lini," ujar Lloris.

Prancis 'Serahkan' Bola

Belgia sendiri menjadi tipe lawan yang sesungguhnya cocok dengan permainan Prancis.

Di bawah Didier Deschamps, Prancis jadi tim yang lebih sering menyerahkan penguasaan bola dan memanfaatkan serangan balik untuk mencetak gol.

Kylian Mbappe dan Antoine Griezmann adalah tipe pemain yang bisa berlari dengan cepat ketika mendapatkan ruang sehingga lebih pas digunakan dalam skema serangan balik.

Sebaliknya, seperti yang terlihat dalam laga melawan Uruguay, ketika lawan memilih untuk bertahan, Prancis justru sempat buntu dan membutuhkan skema bola mati untuk mengubah skor.

Prancis sempat membiarkan Uruguay menguasai bola di laga perempat final.Prancis sempat membiarkan Uruguay menguasai bola di laga perempat final. (REUTERS/Carlos Barria)
Seandainya Belgia lebih menguasai bola, maka kunci bagi Prancis untuk memenangi pertandingan akan terletak pada pundak Pogba dan Kante.

Kante sendiri akan punya peran besar dalam menghentikan De Bruyne, dan meredam sengatan lini serangan Belgia.

Sementara itu, Pogba yang punya umpan lambung akurat bisa mengirimkan bola ke arah Mbappe dan Griezmann dalam serangan balik, seperti yang terjadi ketika Prancis menghancurkan Argentina 4-3.

Satu faktor yang bisa menjadi keunggulan Prancis adalah absennya Thomas Meunier karena akumulasi kartu. Sebagai wing-back, Meunier berperan penting dalam menghentikan gerak bintang timnas Brasil Neymar di perempat final.

Meraba Titik Lemah di Final Kepagian Prancis vs Belgia (EBG)
Meunier juga lebih disiplin dalam bertahan ketimbang Yannick Carasco yang sering kali keasikan menyerang jika Belgia kembali memilih skema 3-4-3. Sementara Mousa Dembele yang bisa dipilih Roberto Martinez untuk menggantikan Meunier juga sering kali tak nyetel dengan permainan The Red Devils.

Mbappe yang beroperasi di area yang sama dengan Carasco/Dembele bisa berperan krusial dalam serangan-serangan Prancis.  

Pemain yang Akan Bersinar

Antoine Griezmann

Jika menghitung Piala Eropa 2016 dan Piala Dunia 2018, Griezmann telah mencetak tujuh gol dari enam penampilan di fase gugur. Hal ini membuktikan bahwa sang pemain punya mental tangguh dalam menghadapi situasi sulit dan penuh tekanan. Griezmann yang punya penalti mematikan juga akan diandalkan Prancis seandainya pertandingan harus diakhiri dengan drama adu penalti.

Thibaut Courtois

Bagaimanapun juga, Belgia yang sudah kebobolan lima kali punya masalah dalam lini pertahanan. Kehadiran Courtois sebagai palang terakhir akan krusial jika Belgia ingin memenangi laga ini, terutama menghentikan tembakan-tembakan terukur seperti Mbappe dan Griezmann. (ptr)