Pussy Riot Penyusup Piala Dunia 2018 Dipenjara 15 Hari

Arby Rahmat, CNN Indonesia | Selasa, 17/07/2018 12:13 WIB
Pussy Riot Penyusup Piala Dunia 2018 Dipenjara 15 Hari Pussy Riot menyusup ke lapangan saat final Piala Dunia 2018. (REUTERS/Carl Recine)
Jakarta, CNN Indonesia -- Empat anggota band asal Rusia Pussy Riot yang menyusup pada laga final Piala Dunia 2018 di Stadion Luzhniki, Minggu (15/7), dihukum penjara selama 15 hari.

Keempat anggota Pussy Riot yang dijatuhi hukuman penjara 15 hari adalah Veronika Nikulshina, Olga Pakhtusova, Olga Kurachyova dan Pyotr Verzilov. Keputusan itu diambil dalam sidang di Moskow, Rusia, Senin (16/7).

Dikutip dari Reuters, keempat anggota Pussy Riot dinyatakan bersalah karena melanggar undang-undang tentang perilaku menonton pertandingan olahraga. Mereka juga dilarang menghadiri ajang olahraga apapun selama tiga tahun.


Anggota Pussy Riot menyusul ke lapangan saat final Piala Dunia 2018.Anggota Pussy Riot menyusup ke lapangan saat final Piala Dunia 2018. (REUTERS/Christian Hartmann)
Nikulshina, Pakhtusova, Kurachyova, dan Verzilov menyusup ke tengah lapangan Stadion Luzhniki saat pertandingan final Piala Dunia 2018 antara Prancis vs Kroasia memasuki menit ke-52. Berpakaian sebagai polisi, keempatnya sukses menembus penjagaan dan masuk ke lapangan.

Aksi keempat anggota Pussy Riot terjadi di depan sejumlah penjabat penting, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Presiden Kroasia Kolinda Grabar-Kitarovic.

Dua anggota Pussy Riot ketika dipenjara di Moskow usai final Piala Dunia 2018.Dua anggota Pussy Riot ketika dipenjara di Moskow usai final Piala Dunia 2018. (REUTERS/Sergei Karpukhin)
Kurachyova mengatakan aksi tersebut dilakukan untuk mempromosikan kebebasan berbicara di Rusia dan sebagai bentuk protes terhadap Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA).

"Sangat disayangkan kami mengganggu jalannya pertandingan. Tapi, FIFA terlibat dalam permainan yang tidak adil. FIFA berteman dengan kepala negara yang melakukan represi, yang melanggar hak asasi manusia," ucap Kurachyova.

Pussy Riot merupakan sebuah band Rusia yang memfokuskan diri pada isu-isu feminis. Mereka dikenal di Rusia sebagai grup band punk-rock yang kerap beraksi untuk memprotes kebijakan yang dianggap 'maskulin'.

Tiga anggota Pussy Riot sempat dipenjara karena melakukan protes terhadap Putin. Sejak saat itu band tersebut dianggap sebagai simbol anti-Kremlin. (har/sry)