Oezil: Saya Jerman Jika Menang, Tapi Imigran Apabila Kalah

Ahmad Bachrain, CNN Indonesia | Senin, 23/07/2018 10:09 WIB
Oezil: Saya Jerman Jika Menang, Tapi Imigran Apabila Kalah Mesut Oezil memilih mundur dari timnas Jerman. (REUTERS/Michael Dalder)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mesut Oezil merasa patah arang karena merasa mendapatkan perlakuan berbeda sebagai pemain Jerman keturunan imigran.

Kegagalan timnas Jerman lolos dari fase grup Piala Dunia 2018 membuat dirinya semakin dicemooh sebagai pemain keturunan Turki. Saat persiapan jelang turnamen paling bergengsi di dunia itu, Oezil juga mendapat cemoohan dari publik Jerman.

Pemicunya adalah pertemuan ia dan Ilkay Guendogan dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan beberapa waktu lalu. Oezil akhirnya memilih mundur karena ia merasa mendapat perlakuan tidak adil sebagai pesepakbola keturunan imigran dari Turki.

Ia lantas menulis panjang tentang unek-uneknya, termasuk alasan memilih mundur yang sebagian besar karena perlakuan rasialisme di Jerman.


Salah satu yang membuatnya muak adalah pernyataan Presiden Sepak Bola Jerman (DFB), Reinhard Grindel, yang menuduhnya sebagai keturunan imigran yang tak memiliki jiwa patriotik.

"Orang-orang dengan latar belakang diskriminatif tidak seharusnya memimpin federasi sepak bola di dunia yang memiliki para pemain dari keluarga dengan dua keturunan."

"Sikap seperti mereka sama sekali tidak mencerminkan pemain yang mewakili tim tersebut. Di mata Grindel dan para pendukungnya, saya Jerman ketika kami menang tapi saya imigran ketika kami kalah," terang Oezil dalam surat terbuka yang diunggah di akun Twitternya.

Oezil pun tak berniat kembali ke timnas Jerman selama masih ada rasisme dan tidak hormat terhadap para pemain, terutama dari para keturunan imigran.

"Saya bisa mengenakan jersey Jerman dengan penuh kebanggaan dan antusiasme, tapi sekarang sudah tidak lagi," tegas Oezil.

Dlalam kesempatan itu, gelandang Arsenal tersebut mengklarifikasi seputar pertemuannya dengan Erdogan yang pernah ia lakukan.

"Bagi saya, berfoto bersama Presiden Erdogan tak ada hubungannya dengan politik dan pemilihan. Itu adalah bentuk penghormatan terhadap pemimpin di negara leluhur saya."

"Pekerjaan saya adalah pesepakbola dan bukan politikus dan pertemuan kami bukan bentuk dukungan tentang kebijakannya," ucap Oezil. (jun)