Hiruk Pikuk Persiapan Sambut Atlet Berkursi Roda di Bandara

Titi Fajriyah, CNN Indonesia | Selasa, 07/08/2018 20:54 WIB
Simulasi kedatangan dan keberangkatan atlet disabilitas memberi gambaran kesibukan kegiatan di Bandara Soekarno-Hatta menjelang Asian Para Games 2018. Atlet-atlet peserta Asian Para Games 2018 rencananya akan menggunakan terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta pada saat kedatangan dan keberangkatan. CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ratusan orang hilir-mudik berjalan dengan cepat di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten yang padat siang itu. Suasana semakin ramai ketika ratusan kursi roda ikut memadati bandara tersibuk ke-17 di dunia.

Itu adalah bagian dari simulasi kedatangan dan keberangkatan atlet Asian Para Games 2018 yang tengah digelar Indonesia Asian Para Games Organizing Committee (INAPGOC), Selasa (7/8) siang. Terbayang sudah bagaimana kondisi bandara dengan kehadiran sekitar 5000 atlet dan ofisial dari 45 negara di Asia saat itu.

Bahkan menurut data INAPGOC dari 5000 atlet disabilitas dan ofisial yang datang, 1.100 di antaranya menggunakan kursi roda. Minimal, butuh jalur khusus supaya para pengguna kursi roda bisa nyaman mulai dari turun pesawat sampai naik bus.


Butuh penanganan khusus agar lalu lintas di area bandara tetap berjalan lancar menyambut kedatangan para atlet berkebutuhan khusus ditambah mobilitas masyarakat umum yang setiap harinya selalu memadati bandara.

Apalagi, kedatangan mereka ke Indonesia direncanakan dalam dua hari, sepekan sebelum Asian Para Games (APG) digelar 8-16 Oktober nanti. Semakin terbayang kerumitan yang dialami petugas yang harus melayani dan mengantarkan atlet menunggu bus jemputan yang mengantarkan mereka ke Wisma Atlet Kemayoran.

Simulasi kedatangan dan keberangkatan atlet Asian Para Games 2018 berlangsung pada Selasa (7/8) siang.Simulasi kedatangan dan keberangkatan atlet Asian Para Games 2018 berlangsung pada Selasa (7/8) siang. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Bersama dengan staf ground handling bandara, pihak otoritas bandara dan INAPGOC mempersiapkan rangkaian pilihan jalur paling pas untuk mobilisasi kedatangan dan kepulangan atlet di Asian Para Games (APG), Oktober mendatang.

Otoritas Bandara Soekarno Hatta di Terminal 2 yang diwakili Angkasa Pura II sudah menyiapkan dua skenario khusus untuk para atlet yang menggunakan kursi roda.

Pertama, keluarnya pesawat atlet akan dipandu oleh ground handling bandara atau petugas maskapai penerbangan dengan cara melawan arus, yaitu melalui sentral koridor keberangkatan menggunakan lift khusus disabilitas. Atlet tidak perlu mengurus administrasi mereka ke imigrasi, karena data mereka sudah dikumpulkan dan diurus langsung oleh ketua kontingen.

Sementara imigrasi bekerja, para atlet diarahkan ke TKI Lounge sebelum di antarkan ke penginapan. Begitu juga dengan bagasinya.

Sayangnya khusus di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta hanya ada satu lift khusus disabilitas dengan kapasitas empat kursi roda. Tambah miris karena menurut penuturan Pihak Keamanan Bandara lift khusus disabilitas itu sering eror.

Pihak Bandara Soekarno-Hatta menyiapkan dua rencana dalam kedatangan dan keberangkatan atlet dengan kursi roda.Pihak Bandara Soekarno-Hatta menyiapkan dua rencana dalam kedatangan dan keberangkatan atlet dengan kursi roda. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
"Ya maklum, itu kan mesin dan sudah cukup lama juga. Kadang dia pintunya tidak mau tutup. Harus dipancing dulu pencet ke lantai 2 baru habis itu bisa normal lagi," ucap M. Septian, Avsec Bandara T2.

"Di Terminal 2 cuma ada satu lift disabilitas. Dulu ada dua sama di E, tapi imigrasinya sudah tutup jadi tidak dipakai lagi. Di Terminal 3 Ultimate ada dua lift, tapi kapasitasnya sama seperti di sini," tambah Septian.

Dengan kondisi lift yang ada maka penumpukan penumpang bisa saja terjadi. Belum lagi butuh waktu 10-15 menit untuk menaikkan atlet berkursi roda ke bus.

Cara kedua, atlet di bawa dari pesawat menggunakan heloder semacam lift pengangkut barang yang biasanya digunakan untuk memasukkan makanan ke pesawat. Sampai di bawah, atlet diantar menggunakan ambulift (ambulans yang dipergunakan khusus bagi penumpang dengan kebutuhan khusus) ke area kedatangan.

Cara ini juga cukup ribet, karena atlet harus di bawa keluar dulu dari gedung bandara. Apalagi, Bandara Soekarno Hatta hanya punya empat ambulift yang masing-masing bisa diisi enam kursi roda.

Ambulift menjadi salah satu alat yang rencananya akan digunakan untuk membantu atlet dengan kursi roda ke luar dari pesawat.Ambulift dan lift barang menjadi salah satu alat yang rencananya akan digunakan untuk membantu atlet dengan kursi roda ke luar dari pesawat. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Sebenarnya, bukan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengkondisikan atlet kursi roda ke area penjemputan. Fokusnya, bagaimana atlet merasa nyaman setibanya di Jakarta.

Ketua Pelaksana INAPGOC Raja Sapta Oktohari mengatakan para atlet ingin merasakan kedatangannya sebagai kontingen di Asian Para Games 2018 Jakarta disambut dengan berbagai look of the games di mana mereka bisa berfoto ria mengabadikan momen setibanya di Jakarta.

Staf ground handling di bandara Soekarno-Hatta menyimpan rasa optimistis dapat memberikan rasa nyaman bagi para tamu di pesta olahraga Asia khusus untuk atlet penyandang disabilitas.

"Tugas kami itu melayani dan membantu mereka yang datang. Biasanya, berdasarkan pengalaman saya, atlet disabilitas itu tidak mau dibantu. Mereka mendorong kursi roda mereka sendiri. Mereka tidak mau terlalu dikasihani," ungkap Mutia Bangun, staf ground handling Terminal 2.

"Bahkan kalau sudah di tempat yang nyaman beberapa dari mereka juga suka lomba, balap-balapan sama temannya. Ya kalau gitu, kami cukup arahkan mereka saja jalurnya. Kami tidak repot kok, kami sudah biasa. Memang itu tugas kami, membantu dan melayani," lanjutnya. (nva/bac)