Menanti 'Revolusi Sarrismo' di Chelsea Musim Ini

Ahmad Bachrain, CNN Indonesia | Jumat, 10/08/2018 22:58 WIB
Menanti 'Revolusi Sarrismo' di Chelsea Musim Ini Menanti 'revolusi sarrismo' di Chelsea musim ini. (Action Images via Reuters/John Sibley)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gaya permainan pragmatis Antonio Conte sudah tak diperlukan lagi di Chelsea. Sebagai gantinya, sang pemilik klub, Roman Abramovich, merekrut mantan juru taktik Napoli, Maurizio Sarri.

Jika mencermati filosofi permainan dua pelatih yang amat berbeda itu, Abramovich jelas menghendaki 'revolusi' di skuat The Blues.

Sarri merupakan penganut permainan menyerang dengan gaya 'Tiki-taka' khasnya yang diusung. Permainan cepat kombinasi umpan-umpan pendek dan panjang gaya pelatih asal Italia ini disebut Sarrismo atau Sarriball di Inggris.


Gaya itu untuk membedakan antara permainan 'Tiki-taka' yang diusung Pep Guardiola dengan Sarri. Serupa tapi tak sama, demikian gaya permainan racikan kedua juru taktik itu.

Maurizio Sarri didatangkan Roman Abramovich untuk membawa perubahan besar di Chelsea. (Maurizio Sarri didatangkan Roman Abramovich untuk membawa perubahan besar di Chelsea. (Foto: Action Images via Reuters/John Sibley)
Sedikit menggambarkan permainan Sarrismo, ia lebih menekankan permainan cepat memanfaatkan ruang-ruang sempit.

Jika gaya permainan Tiki-taka Guardiola banyak mengandalkan sosok play-maker macam David Silva atau Kevin De Bruyne, tidak dengan Sarri.

Ia lebih banyak mengandalkan sosok gelandang yang memiliki ciri khas deep-lying midfielder macam Jorginho. Tak heran jika pemain naturalisasi Italia asal Brasil itu ikut diboyong Sarri.

Pasalnya, ia menjadi kunci paham Sarrismo yang akan ditularkan di skuat The Blues oleh pelatih 59 tahun tersebut. Jorginho yang akan menjadi perantara antara lini belakang ke tengah, atau bisa pula langsung ke depan dengan umpan-umpan menusuk.

Selain perang pemain berciri deep-lying midfielder, Sarri juga bertumpu pada bek tengah mereka untuk membangun serangan dari belakang. Sosok bek yang tenang dan kuat dalam mengolah si kulit bundar, untuk memulai Tiki-taka vertikal ala Sarri.

Jika di Napoli ia biasa mengandalkan dengan sosok Kalidou Koulobali, di Chelsea Sarri kemungkinan bisa mengandalkan Antonio Ruediger atau David Silva.

Jorginho ikut diboyong Maurizio Sarri ke Chelsea untuk menularkan filosofi Sarrismo. (Jorginho ikut diboyong Maurizio Sarri ke Chelsea untuk menularkan filosofi Sarrismo. (REUTERS/Phil Noble)
Dimensi permainan cepat Sarri juga punya ciri khas tersendiri. Guardiola mengharuskan para pemainnya membuka ruang dengan bermain melebar, Sarri melakukan hal sebaliknya. Ia menginstruksikan para pemain dalam posisi sedekat mungkin untuk melakukan umpan-umpan cepat dan biasanya membentuk pola segitiga kecil-kecil dari para pemain yang amat dinamis. Permainan

Perlahan tapi pasti dengan memanfaatkan pinggir lapangan, mereka sudah merangsek ke pertahanan lawan. Dalam situasi itu pula sorang gelandang deep-lying midfielder yang berada di posisi antara bek dan pemain tengah, bisa melepas umpan menusuk ke gelandang serang atau penyerang ke pertahanan lawan.

Pola dasar yang diterapkan Guardiola dan Sarri sama-sama menggunakan skema 4-3-3, namun lagi-lagi ada perbedaan lain. Sarri lebih gemar menggunakan dua gelandang bertipe menyerang di balakang tiga penyerang. Sedangkan di belakang dua gelandang itu terdapat deep-lying midfielder.

Dalam posisi bertahan, skemanya bisa berubah menjadi 4-5-1 dengan memadatkan posisi di tengah dan memaksa tim lawan bermain melebar. Dalam posisi menekan, satu gelandang meluncur ke depan sehigga pola bisa berubah menjadi 4-4-2.

Hampir mirip dengan Gegenpressing Juergen Klopp di Liverpool, Sarri tak akan membiarkan pemain lawan menguasai bola terlalu lama. Ia mewajibkan para pemain segera menyerobot.

Perbedaannya ada pada intensi dalam melakukan tekanan ke pertahanan lawan. Klopp biasanya menginstruksikan secepat mungkin para pemainnya menusuk. Sedangkan Sarri biasanya tetap memanfaatkan ruang sempit umpan-umpan cepat untuk memancing keluar para bek lawan dan melakukan kesalahan sekecil apapun.

Berkat permainannya itu, Sarri mampu mengantarkan Napoli bertengger di posisi kedua klasemen Liga Italia Serie A dengan rata-rata dua gol per laga. Meski demikian, bukan tugas mudah baginya mengubah gaya permainan Chelsea sesuai dengan filosofinya itu.

Tengok saja pada laga pramusim macam International Champions Cup musim ini, Chelsea tak pernah meraih kemenangan di waktu normal lawan Internazionale Milano, Arsenal, dan Lyon. The Blues bahkan kalah 0-2 dari Guardiola di Community Shield musim ini.

Tentu butuh kesabaran bagi Sarri untuk mengubah Chelsea bermain menjadi lebih atraktif sesuai dengan filosofi Sarrismo khasnya. (nva)