ASIAN GAMES 2018

Ditinggal Pelatih, Angkat Besi Indonesia Gagal Raih Medali

Arby Rahmat, CNN Indonesia | Kamis, 23/08/2018 08:32 WIB
Indonesia gagal meraih medali Asian Games 2018 dalam cabang olahraga angkat besi nomor 69 kilogram putra akibat ditinggal pelatih saat bertanding. Triyatno meminta maaf kepada masyarakat Indonesia karena gagal sumbang medali di Asian Games 2018. (ANTARA FOTO/INASGOC/Dhemas Reviyanto/YU/18)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia gagal meraih medali Asian Games 2018 dalam cabang olahraga angkat besi nomor 69 kilogram putra akibat ditinggal pelatih saat bertanding.

Dalam pertandingan yang dihelat di Hall A JIExpo Kemayoran pada Rabu (22/8), lifter kedua Indonesia Triyatno sempat tidak muncul ketika dia dipanggil untuk melakukan angkatan clean and jerk yang pertama. Alhasil, total angkatan Tritayno tidak mencukupi untuk meraih medali angkat besi di nomor 69 kilogram putra.

Triyatno mencatat total angkatan 329 kilogram dengan rincian 147 kilogram snatch serta 182 kilogram clean and jerk. Catatan tersebut menempatkannya di peringkat keempat, terpaut tujuh kilogram dari Korea Utara yang berhasil meraih medali emas.


Usai pertandingan, pelatih kepala tim angkat besi Indonesia Dirdja Wihardja mengatakan terjadi masalah komunikasi di belakang panggung.

"Jadi kan kami mau atlet tidak tergesa-gesa. Kami lewatkan [angkatan pertama] dan fokus ke angkatan kedua untuk meraih medali. [Bisa terjadi masalah komunikasi itu karena] jaraknya [pelatih dengan atlet] terlalu jauh," kata Dirdja kepada para awak media usai bertanding.

"Kebetulan saya sempat keluar sedikit, ke belakang. Jadi ketika kembali, [Triyatno] sudah dipanggil dan waktu tersisa 30 detik. Daripada melakukan angkatan di sisa 30 detik dan gagal, itu bisa mempengaruhi psikis," katanya menambahkan.

Dirdja mengatakan angkatan kedua Triyatno yakni 182 kilogram sesuai target. Ia juga menyampaikan sesungguhnya tidak ada yang salah dalam hal ini.

Dirdja Wihardja mengakui ada kesalahan dalam komunikasi jelang Triyatno tampil.Dirdja Wihardja mengakui ada kesalahan dalam komunikasi jelang Triyatno tampil. (CNN Indonesia/ Arby Rahmat)
"Kebetulan saya lagi ke belakang dan asisten saya tidak ada. Ini buat pengalaman, itu saja sih," ucap Dirdja.

"Evaluasi dari ini adalah Indonesia kurang beruntung saja, harusnya minimal medali. Kami sudah berusaha," ucapnya melanjutkan.

Sebelum Triyatno, lifter Indonesia lainnya yakni Deni juga tampil lebih dulu. Deni mencatat total angkatan 318 kilogram dengan rincian 141 kilogram snatch dan 177 kilogram clean and jerk.

"Untuk Triyatno, ini angkatan tertinggi di Asian Games. Tapi untuk Deni, turun 2 sampai 5 kilo," ujar Dirdja.

Meski pecahkan rekor pribadi, tetapi Triyatno gagal sumbang medali untuk Indonesia.Meski pecahkan rekor pribadi, tetapi Triyatno gagal sumbang medali untuk Indonesia. (ANTARA FOTO/INASGOC/Dhemas Reviyanto/YU/18)
Gagal menyumbangkan medali untuk Indonesia, Triyatno pun meminta maaf. Absennya Triyatno di angkatan pertama diakui peraih medali perak Olimpiade 2012 di London itu sempat memengaruhi mentalnya.

"Saya minta maaf kepada bangsa Indonesia dan keluarga saya karena tidak bisa mempersembahkan medali. Mungkin pertandingan tadi ada miss komunikasi antar saya dengan pelatih," kata Triyatno.

"Kalau berhasil catat angkatan clean and jerk ketiga 186 kilogram, mungkin saya bisa berebut perunggu. Tapi ya sudah lah, namanya juga belum rezeki," Triyatno menuturkan.

Sementara itu, Deni mengakui angkatanya bisa lebih baik dari 318 kilogram. Di latihan, ia mengaku bisa mengangkat total 325 kilogram dengan rincian 145 snatch dan 180 clean and jerk.

"Di uji coba [Asian Games 2018] saya bisa mencatat angka itu sebelum ada cedera dan sebagainya. [Di main event Asian Games 2018], snatch saya agak terburu-buru. Saya lupa dengan second pull. Kalau clean and jerk, mungkin endurance saya kurang," ujarnya (sry)