Kekalahan tersebut bukan hanya bakal dikenang lama bagi Anthony sebagai pengalaman pahit. Ayah sang pebulutangkis itu, Edison Ginting, juga ikut mengalami keharuan mendalam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Edison Ginting, ayah Anthony Ginting mengaku baru pertama kali menangis melihat anaknya kalah. (CNN Indonesia/Huyogo Simbolon) |
"Saya sejak dari set pertama sampai pertengahan set kedua menikmati permainan. Dia sudah dalam trek. Tapi sebagai orang tua saya sudah bisa merasakan, aduh kakinya mulai goyang," tuturnya.
Edison melanjutkan, Anthony tampil bersemangat setelah sempat unggul terlebih dahulu, akhirnya tersusul oleh Yuqi Shi.
"Orang bilang kalah karena mental bertanding, saya bilang tidak. Kalau saya melihat sebagai orang tua, bagian tubuhnya (kaki) mulai goyang," ungkapnya.
"Lalu saat di set ketiga rasa lelah itu dia lawan dengan motivasi untuk menang. Sampailah terakhir dia kena cedera," sambungnya.
Edison menilai keram yang dialami Anthony disebabkan karena beberapa faktor. Pertama, ia menghadapi perlawanan sengit dan melelahkan dari tunggal India, Kidambi Srikanth, dalam laga perempat final.
"Lalu di semifinal bertemu Kento Momota (Jepang). Jadi itu karena akumulasi tekanan otot," ujarnya.
Seperti diketahui, tim beregu putra Indonesia akhirnya menyerah 1-3 dari China pada final tersebut. Selain Anthony Ginting, Jonatan Christie juga mengalami kekalahan.
Hanya Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo yang berhasil meraih kemenangan atas wakil China. Pasangan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto pun kalah di pertarungan beregu putra. (hyg/bac)
Edison Ginting, ayah Anthony Ginting mengaku baru pertama kali menangis melihat anaknya kalah. (CNN Indonesia/Huyogo Simbolon)