Yuga merupakan salah satu peserta dengan jarak tempuh paling jauh. Berasal dari Meulaboh, Aceh Barat, Yuga dan keluarganya yang datang ke Kudus harus menempuh jarak lebih dari 2 ribu kilometer.
Kendati demikian, semangat si bungsu dari empat bersaudara ini tidak hilang. Di lapangan GOR Djarum permainan siswa kelas 5 SD itu tetap impresif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yuga Gustiyah bersama sang ayah berjuang keras untuk lolos seleksi beasiswa bulutangkis. (CNN Indonesia/Surya Sumirat) |
"Untuk atlet berbakat ada dispensasi dari Dinas Pemuda Olahraga di Aceh Barat. Izinnya mudah," ucap Yushansyah.
Yushansyah ingin anaknya lolos dan mendapatkan beasiswa bulutangkis di tahun ini. Tetapi juga sudah mempersiapkan diri jika Yuga harus kembali ke Aceh tanpa hasil baik.
"Saya inginnya Yuga bisa dapat beasiswa di sini. Kalau sudah lolos semua biaya latihan kan ditanggung PB Djarum. Karena untuk kami yang ada di daerah, biaya untuk try out [mengikuti] turnamen itu cukup mahal, sekali mengikuti turnamen bisa habis Rp8 juta. Dalam setahun saja bisa ikut lima turnamen," Yushansyah menuturkan.
"Apalagi kalau di daerah itu tidak ketahuan untuk gizi, ada anak yang sampai sakit typhus. Kalau sudah di sini, orang tua tidak lagi dibebankan biaya," Yushansyah menambahkan.
Asa lain agar Yushansyah lolos pada 2018 ini adalah persaingan yang makin ketat di tahun berikutnya. Pasalnya, saat ini Yuga sudah berada di batas akhir untuk mengikuti seleksi di kelompok umur U-11. Jika gagal tahun ini dan kembali seleksi di tahun depan, maka Yuga harus berhadapan dengan atlet-atlet di kelompok umur U-13, dan itu jauh lebih berat.
Para calon atlet bakal ditempatkan di asrama jika lolos mendapat beasiswa bulutangkis. (Foto: CNN Indonesia/Surya Sumirat) |
"Bermain bulutangkis itu susah. Suka tegang juga kalau poinnya sudah dekat," ucap Yuga.
Orang Tua Sempat Stres
Kendati demikian Yushansyah bertekad apabila Yuga dapat beasiswa di Kudus, dia bersama istrinya tidak akan berat melepas anaknya itu karena terpisah jarak yang begitu jauh.
Berbeda dengan tahun lalu, saat harus merelakan Nazura meninggalkan Aceh menuju Kudus untuk menjalani program latihan beasiswa bulutangkis di Kudus, Yushansyah mengaku cukup berat melepas sang anak.
"Sekarang ini bisa video call, jadi sedikit mudah komunikasi. Untuk Nazura kami dua kali dalam setahun berkunjung ke Kudus. Tetapi kalau untuk Yuga, sepertinya tidak akan sestres saat melepas Nazura," PNS Kabupaten Aceh Besar ini menuturkan. (bac)
Yuga Gustiyah bersama sang ayah berjuang keras untuk lolos seleksi beasiswa bulutangkis. (CNN Indonesia/Surya Sumirat)
Para calon atlet bakal ditempatkan di asrama jika lolos mendapat beasiswa bulutangkis. (Foto: CNN Indonesia/Surya Sumirat)