Insiden Haringga dan Cerita Bonek Berupaya Redam Keberingasan

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 25/09/2018 21:08 WIB
Insiden Haringga dan Cerita Bonek Berupaya Redam Keberingasan Cerita soal upaya Bonek yang terus mencoba meredam keberingasan menyikapi insiden pengeroyokan Bobotoh yang menyebabkan Haringga Sirla meninggal. (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Insiden kematian Haringga Sirla semakin menambah citra buruk rivalitas suporter di sepak bola nasional. Fan Persija Jakarta itu meninggal akibat dikeroyok sejumlah Bobotoh di areal parkir Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), beberapa saat jelang laga Liga 1 2018 antara Persib Bandung vs Persija, Minggu (23/9).

Pentolan kelompok suporter Persebaya Surabaya, Bonek, Andie Pecie mengatakan imbas buruknya juga dirasakan suporter lain. Padahal, sejumlah kelompok suporter mulai sadar dan mencoba berbenah menemukan solusi memutus mata rantai kekerasan antarsuporter.

Bonek disebut Andie, salah satu suporter yang terus berupaya mencari formula tepat ikut meredam aksi keberingasan suporter yang bisa menyebabkan nyawa melayang.


Salah satu upaya nyatanya adalah membentuk jaringan komunikasi dan koordinasi di antara mereka dan melibatkan pihak terkait seperti aparat kepolisian jelang, saat, dan usai laga Persebaya. Tujuannya sebagai deteksi dini mencegah kerusuhan atau aksi pengeroyokan kian parah, terutama yang dilakukan anggota Bonek terhadap fan lain.

Aksi nyata ini mulai dilakukan Bonek, terutama setelah insiden bentrok dengan rombongan anggota pendekar perguruan silat PSHT di Jalan Osowilangun Surabaya pada Oktober 2017. Total dua anggota PSHT, Aris Eko Ristanto dan Muhammad Anis, tewas akibat dikeroyok Bonek.

Upaya itu memang tidak sepenuhnya memutus mata rantai kekerasan, termasuk aksi bentrokan dengan suporter atau pihak lain. Namun, mereka berupaya mencegah aksi brutal hingga menyebabkan nyawa melawang.

Pemulangan para Bonek dari Yogyakarta menuju Surabaya saat laga Persija vs Persebaya dibatalkan. (Pemulangan para Bonek dari Yogyakarta menuju Surabaya saat laga Persija vs Persebaya dibatalkan. (FANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)
Meski upaya itu belum bisa dikatakan berhasil sepenuhnya, Andie bersyukur karena sudah ada kesadaran dari banyak Bonek lainnya, minimal tak melakukan aksi-aksi beringas.

"Kesadaran [Bonek] semakin maju. Misalkan, pertandingan besar lawan Arema. Mungkin ada suporter sana [Arema] yang datang langsung untuk mendukung tim mereka, tapi teman-teman [Bonek] tidak berlebihan," kata Andie kepada CNNIndonesia.com, Senin (24/9).

"[Bonek] mulai berubah dalam setahun belakangan. Mungkin akibat dari perjuangan terhadap Persebaya tempo hari, saat posisi kami itu suporter nomor satu yang menjadi bahan perbincangan buruk. Citra itu memang harus diperbaiki pelan-pelan, dunia media sosial berpengaruh untuk mengubah itu," katanya menambahkan.

Polisi Bonek

Andie menerangkan, relasi dengan berbagai pihak seperti kepolisian perlu dijaga dengan baik. Dengan begitu, aksi cepat tanggap untuk meredam kerusuhan bisa dilakukan. Koordinasi Bonek dengan pihak kepolisian, diakuinya cukup dekat.

"Di kepolisian ada yang namanya Bonek Hoofdbureau. Bonek Hoofdbureau itu Bonek yang di kepolisian [anggota polisi] dan dekat dengan suporter serta koordinator tribune. Itu yang memudahkan komunikasi kalau terjadi sesuatu di lapangan," tuturnya kembali.

Andie Peci ikut angkat bicara soal insiden pengeroyokan Bobotoh yang menyebabkan Haringga Sirla meninggal. (Andie Peci ikut angkat bicara soal insiden pengeroyokan Bobotoh yang menyebabkan Haringga Sirla meninggal. (Foto: CNN Indonesia/M. Arby Rahmat)
Bonek Hoofdbureau yang merupakan Bonek dari kepolisian ini berperan aktif memantau situasi atau menjaga, terutama di titik-titik yang dianggap rawan. Meski sebagai polisi, ada kepedulian besar bahwa Bonek sudah mendarahdaging sehingga mereka ikut mencegah hal-hal bisa yang mencoreng citra suporter itu.

Kampanye Bonek sadar keamanan juga terus digaungkan Andie dan kawan-kawan kepada para anggota suporter Persebaya lainnya.

"Konsekuensinya dengan kampanye saya itu, ya dibenci Bonek sendiri," ucap Andie.

Kendati begitu, Andie tetap giat berkampanye. Paling efektif, lanjutnya, kampanye lewat media sosial.

Terakhir, jangan lagi ada sikap 'cuci tangan' atau menghindar ketika terjadi kerusuhan akibat ulah Bonek. Setiap pemimpin di Bonek, ia menilai punya tanggung jawab besar untuk membenahi kekacauan ketika terjadi bentrok, apalagi sampai menyebabkan hilangnya nyawa manusia.

"Bonek nakal masih ada, tapi semakin menurun. Dan dalam berkampanye, tak boleh sebut kata 'oknum'. Itu yang utama," ujar dia.

"Kalau [pelaku] itu Bonek, mau bagaimana lagi? Dan itu [larang sebut oknum] dampaknya luar biasa. Teman-teman Bonek sendiri yang beri sanksi sosial, lambat laun [permusuhan antarsuporter] menurun," ujarnya melanjutkan. (map/bac)