PSSI Tak Tegas, Madura United Ancam Mundur Lawan Persib

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 25/09/2018 10:56 WIB
PSSI Tak Tegas, Madura United Ancam Mundur Lawan Persib Madura United berencana mundur lawan Persib Bandung. (ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Madura United berencana mundur lawan Persib Bandung jika PSSI tidak tegas menuntaskan kasus meninggalnya suporter Persija Jakarta.

Sesuai jadwal kompetisi Liga 1 2018, Laskar Sapee Kerab bakal bertandang ke markas Persib Bandung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Sabtu (29/9).

Manajer Madura United Haruna Soemitro menegaskan pihaknya berencana tidak datang ke Bandung sebagai bentuk sikap menentang kericuhan suporter yang sampai merenggut nyawa.


"Seperti pernyataan Presiden klub (Madura United Achsanul Qasasi) kemarin lebih baik kami tidak berangkat ke Bandung. Kalau kemudian akibatnya poin dikurangi tiga tidak apa-apa dari pada hilang respek," kata Hanura kepada CNNIndonesia.com.

Suporter Persija Haringga Sirla meninggal dunia usai dikeroyok oknum suporter Persib Bandung.Suporter Persija Haringga Sirla meninggal dunia usai dikeroyok oknum suporter Persib Bandung. (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)
Fanatisme suporter, lanjut Hanura, terjadi karena sepak bola. Sementara sepak bola pada dasarnya mengajarkan tentang respek satu sama lain.

"Kalau tidak ada respek lagi, lantas untuk apa ada kompetisi sepak bola di Indonesia?"

Madura United berharap PSSI dan PT Liga Indonesia bisa mengeluarkan keputusan tegas terkait kasus meninggalnya suporter Persija sebelum Madura United bertolak ke Bandung. Jika tidak, pihak klub mengancam tidak akan bertanding lawan Persib.

"Sehingga kita lebih memilih dituntaskan dulu semua persoalan sampai ke akarnya. Kalau hanya lisan dan simbolis perdamaian antarsuporter yang tidak mewakili, buat apa?" kata Haruna.

Pendukung Persib Bandung.Pendukung Persib Bandung. (AFP PHOTO/TIMUR MATAHARI)
Lebih dari itu, lanjut Haruna, regulasi FIFA maupun PSSI sudah disebut dengan jelas siapa yang akan bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan, termasuk sanksinya. Namun pada kenyataannya, ada pertimbangan sosial yang membuat respek terhadap sepak bola itu sendiri menjadi hilang.

"Salah satu contoh, salah satu regulasi di liga dan FIFA itu jelas bahwa panitia penyelenggara bertanggung jawab terhadap kenyamanan seluruh komponen yang terlibat, pemain, ofisial, pelatih, dan suporter. Temasuk memberikan akses minimal lima persen dari jumlah tiket untuk suporter lawan," ungkapnya.

Namun Haruna menilai dalam pelaksanaan ada larangan tertentu yang tidak mengizinkan Jakmania datang ke Bandung jika Persib melawan Persija, begitu juga sebaliknya.

"Contoh, kalau semua klub menolak main karena ada kejadian itu, ada tontonan enggak? Bisa enggak suporter bernyanyi di tribune melampiaskan fanatisme mereka? Kalau semua respek terhadap sepak bola maka tidak akan mungkin terjadi hal-hal fanatisme buta seperti itu," tutur Haruna. (TTF/jun)