Kebersamaan dan kekompakan adalah dua kata yang tidak bisa lepas dari pembentukan tim yang kini mencuat seiring kegemilangan selama tahun 2018. Juara di turnamen Tien Phong dan Genesys kian dipatenkan dengan kesuksesan menjadi kampiun Piala AFF U-16.
Gol demi gol serta kemampuan mengalahkan rival-rival menjadi bukti dari penampilan rancak tim yang sudah dipersiapkan sejak tahun lalu. Bongkar pasang pemain, pemanggilan dan pemulangan pemain menjadi hal yang biasa di tim yang sempat bermarkas di Cijantung ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk menyatukan beragam latar belakang dari anak asuhnya, Fakhri ternyata memiliki cara cukup efektif yang diungkap oleh psikolog Timnas Indonesi U-16 Asti Saraswati.
Ada beragam faktor yang bisa mengubah teman tidur para pemain, baik dari daerah asal pemain, posisi bermain, hingga kondisi tertentu seorang pemain.
Toleransi dan keberagaman jadi andalan Fakhri Husaini di Timnas Indonesia U-16. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat) |
"Toleransi dalam perbedaan itu jadi keunggulan banget [untuk Timnas Indonesia U-16], dan bagi coach Fakhri toleransi harga mati. Kalau mengutip Hellen Keller, toleransi itu hasil tertinggi dari pendidikan. Percuma mereka pintar, jago tapi enggak bisa empati, itu yang sangat ditekankan banget sama coach Fakhri."
"Pada awalnya enggak boleh ada teman sekamar yang berasal dari daerah yang sama dengan harapan bisa menyatu, tapi sekarang sudah berubah karena pemain sudah lebih dewasa," tuturnya.
"Coach Fakhri itu ingin energi yang baik bisa menular ke pemain lain yang sedang kurang baik," ucap Asti. (nva/bac)
Toleransi dan keberagaman jadi andalan Fakhri Husaini di Timnas Indonesia U-16. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)