Atlet Wushu Indonesia Raih Emas di Festival Shaolin China

Tim, CNN Indonesia | Senin, 22/10/2018 11:23 WIB
Atlet Wushu Indonesia Raih Emas di Festival Shaolin China Ghaniya (kanan) dan Emir bersama sang ibu, Ade Safitri, saat mengikuti kejuaraan wushu di China. (Dok. Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Atlet wushu Indonesia Ghaniya Zada Achari meraih medali emas dalam Festival Shaolin Wushu Internasional di Zhengzhou, China, yang digelar sejak 19-23 Oktober.

Ghaniya yang merupakan murid dari perguruan Inti Bayangan Jakarta keluar sebagai yang terbaik di nomor changquan atau tangan kosong di kelas A di bawah 12 tahun, Minggu (21/10).

Tidak saja Ghaniya, sang adik Emir Fadilghani Achari juga menorehkan prestasi di ajang tersebut. Hanya saja, Emir harus puas dengan medali perunggu.


Jika Ghaniya tampil di nomor changquan, Emir yang juga bertanding di kelas A di bawah 12 tahun meraih peringkat ketiga di nomor tangan kosong nanquan.

Menurut laporan sang ibu, Ade Safitri, kedua anaknya itu masih berpeluang meraih medali di empat nomor lain.

Sampai dengan pelaksanaan hari terakhir kejuaraan pada Selasa (23/10), Ghaniya masih akan tampil di nomor golok, toya, taijiquan, dan kipas. Sementaran Emir akan bermain di nomor golok, toya, taijiquan, dan tatao.

Festival wushu dan shaolin di Zhengzhou diikuti lebih dari 2.000 peserta yang berasal 65 negara.Festival wushu dan shaolin di Zhengzhou diikuti lebih dari 2.000 peserta yang berasal 65 negara. (Dok. Istimewa)
Ade Safitri mengatakan festival di Zhengzhou ini merupakan kejuaraan terbuka yang digelar Federasi Wushu Asia (WFA). Kendati demikian, banyak juga peserta dari luar Asia, seperti dari Amerika Serikat atau Ukraina.

"Kejuaraan ini bisa menjadi tahapan untuk menuju kejuaraan dunia. Kejuaraan di Zhengzhou ini merupakan inisiatif dari setiap perguruan tetap tetap melalui rekomendasi PB Wushu Indonesia," ucap Ade Safitri kepada CNNIndonesia.com.

Perguruan Inti Bayangan menerjunkan 11 atletnya dalam kejuaraan ini, termasuk Ghaniya dan Emir. Sedangkan peserta lain dari Indonesia ada juga yang berasal dari Bali, Semarang, dan wilayah lainnya.

Berbicara mengenai pencapaian kedua anaknya di olahraga wushu, baik Ghaniya dan Emir sudah menekuni wushu sejak anak-anak. Ghaniya berlatih wushu sejak usia enam tahun, sedangkan Emir mulai lima tahun.

"Keduanya mengikuti kelas reguler di sasana wushu Inti Bayangan. Saat kenaikan tingkat, baik Ghaniya dan Emir selalu menjadi peringkat satu dan mendapat kesempatan mengikuti penjurusan tim inti untuk menjadi atlet wushu," Ade menuturkan.

Tidak saja berprestasi di perguruan, Ghaniya dan Emir juga memiliki performa yang apik saat tampil di kejuaraan nasional maupun internasional.

Ahmad Rifai, pemilik yayasan wushu Inti Bayangan mengatakan keikutsertaan Indonesia dalam kejuaraan dua tahunan itu merupakan bagian dari ajang promosi wushu kepada masyarakat Indonesia dan dunia.

"Indonesia telah mengikuti kompetisi wushu di Shaolin sejak tahun 2014, dan kompetisi ini merupakan satu salah agenda rutin dalam rangka pembinaan, serta pembibitan atlet-atlet wushu tradisional Indonesia, guna mencetak atlet-atlet wushu tradisional yang mempunyai kualitas prestasi baik tingkat nasional maupun internasional, sesuai dengan program kerja PBWI," jelasnya.

(sry/bac)