Dengan melaju ke semifinal, skuat Garuda Nusantara dipastikan berlaga di putaran final Piala Dunia U-20 untuk kali kedua setelah tahun 1979.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Umpan pendek, kombinasi satu-dua, dan gerak tipu dalam kolaborasi di ruang sempit menunjukkan kematangan bermain Jepang.
Timnas Indonesia U-19 bertemu dengan timnas Jepang pada laga uji tanding, Maret 2018. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Transisi dari situasi bertahan ke menyerang yang diperagakan Jepang begitu efektif dan efisien. Menurut pengamatan CNNIndonesia.com dalam laga antara Jepang dan Irak, Kubo dan kawan-kawan hanya membutuhkan waktu sekitar lima detik dari mode bertahan ke mode menyerang hingga masuk ke jantung pertahanan lawan.
Dari 13 gol yang dilesakkan Jepang, tidak ada satu cara yang dominan. Bermain secara melebar atau di tengah lapangan sama-sama bisa menghasilkan gol. Tak hanya mampu memanaatkan umpan matang di dalam kotak penalti, akurasi tembakan dari jauh juga layak diperhitungkan. Selain itu Jepang bisa memanfaatkan situasi bola mati, baik tendangan bebas atau sepak pojok.
Sementara menurut statistik yang dirilis situs resmi konfederasi sepak bola Asia, Jepang lebih sering memanfaatkan sisi kiri, setelah itu diikuti sisi kanan dan tengah.
Timnas Indonesia U-19 menggelar latihan sebelum menghadapi Jepang di perempat final Piala Asia U-19 2018. (CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama) |
Bermain cepat dan memanfaatkan sayap adalah gaya yang sudah diperagakan Timnas Indonesia U-19 dalam setiap pertandingan, sehingga Egy Maulana Vikri dan kawan-kawan masih memiliki peluang besar untuk mencetak gol.
Menarik pula dinanti bagaimana Indra Sjafri yang selalu memanfaatkan 4-3-3 mempersiapkan skema untuk memenangkan duel di lini tengah menghadapi Jepang yang memainkan 4-4-2. (map/nva/sry)
Timnas Indonesia U-19 bertemu dengan timnas Jepang pada laga uji tanding, Maret 2018. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Timnas Indonesia U-19 menggelar latihan sebelum menghadapi Jepang di perempat final Piala Asia U-19 2018. (CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama)